MSRI, MOJOKERTO - Keheningan malam tidak menghapus jejak sejarah yang tersimpan di kawasan Trowulan. Di Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Sitinggil Bejijong tetap berdiri kokoh dan terawat, menghadirkan suasana teduh sekaligus mengingatkan masyarakat akan panjangnya perjalanan sejarah di tanah Mojokerto.
Pantauan wartawan MSRI, Selasa (8/9/2026) malam, Sitinggil Bejijong terlihat diterangi lampu yang membuat bentuk dan karakter bangunannya tampak lebih jelas. Cahaya tersebut memberikan kesan teduh dan berwibawa di tengah suasana malam yang relatif tenang.
Di sisi kawasan, Bendera Merah Putih berkibar dengan tenang. Pemandangan tersebut menghadirkan perpaduan antara penghormatan terhadap warisan sejarah, kecintaan kepada tanah air, dan nilai-nilai luhur yang terus hidup di tengah masyarakat.
Menjaga Sejarah, Menghormati Warisan
Sitinggil Bejijong bukan sekadar sebuah bangunan atau tempat yang memiliki nilai historis. Keberadaannya menjadi bagian dari identitas kawasan Trowulan yang hingga kini masih menyimpan berbagai jejak perjalanan peradaban masa lalu.
Bagi masyarakat sekitar, keberadaan tempat-tempat bersejarah memiliki makna yang lebih luas. Selain menjadi bagian dari warisan budaya, situs tersebut menjadi pengingat agar generasi sekarang tidak melupakan akar sejarah dan kearifan yang diwariskan para pendahulu.
Dalam kehidupan masyarakat Jawa, penghormatan terhadap peninggalan leluhur merupakan bagian dari sikap nguri-uri budaya, yakni merawat dan menjaga nilai-nilai baik yang diwariskan dari generasi sebelumnya.
Namun demikian, penghormatan terhadap sejarah tidak berarti mengultuskan masa lalu. Justru dari sejarah manusia dapat mengambil pelajaran tentang kehidupan, tentang kejayaan dan keruntuhan, tentang perjuangan, serta tentang keterbatasan manusia di hadapan perjalanan waktu.
Sejarah Mengajarkan Kerendahan Hati
Perjalanan sejarah Trowulan memberikan banyak pelajaran bahwa kebesaran sebuah peradaban pada akhirnya akan berhadapan dengan perubahan zaman.
Dalam perspektif religius, hal tersebut dapat menjadi renungan bahwa segala sesuatu yang bersifat duniawi memiliki batas. Kekuasaan, kemegahan, dan kejayaan manusia tidak pernah bersifat kekal.
Sebagaimana manusia diajarkan untuk senantiasa bersyukur dan mengambil hikmah, peninggalan sejarah dapat menjadi media pembelajaran agar generasi masa kini tidak hanya mengenang masa lalu, tetapi juga memperbaiki kehidupan di masa sekarang dan menyiapkan masa depan dengan penuh tanggung jawab.
Merawat peninggalan sejarah pun dapat dimaknai sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT, sekaligus tanggung jawab moral untuk menjaga amanah kebudayaan yang telah diwariskan kepada generasi sekarang.
Sitinggil dalam Keheningan Malam
Pada malam hari, suasana Sitinggil Bejijong menghadirkan kesan tersendiri. Cahaya lampu yang menerangi kawasan membuat bangunan tampak lebih menonjol, sementara lingkungan sekitar yang relatif tenang memberikan nuansa teduh.
Bagi masyarakat maupun pengunjung yang melintas, suasana tersebut dapat menjadi momentum untuk sejenak berhenti dari hiruk-pikuk kehidupan dan melihat kembali bahwa di balik perkembangan zaman masih terdapat warisan sejarah yang perlu dihargai.
Keberadaan penerangan juga memiliki arti penting dalam mendukung keamanan dan kenyamanan kawasan, sekaligus memperkuat daya tarik visual Sitinggil pada malam hari.
Warga Berharap Pelestarian Terus Dijaga
Saat memberikan keterangan kepada wartawan MSRI, warga sekitar menyampaikan harapan agar Sitinggil Bejijong tetap mendapatkan perhatian dan perawatan secara berkelanjutan.
Menurut warga, kebersihan, penerangan, keamanan, dan penataan lingkungan menjadi bagian penting agar kawasan tersebut tetap terjaga serta dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Harapannya tetap dirawat dan dijaga. Kalau malam lampunya bagus, bangunannya juga terlihat lebih menarik. Kebersihan dan lingkungan di sekitarnya juga perlu terus diperhatikan,” ujar salah seorang warga kepada wartawan MSRI.
Harapan itu juga mencerminkan kesadaran masyarakat bahwa pelestarian warisan sejarah tidak dapat dibebankan kepada satu pihak saja. Pemerintah, masyarakat, pengelola kawasan, dan generasi muda memiliki peran masing-masing dalam menjaga keberadaan serta nilai yang terkandung di dalamnya.
Dari Sejarah Menuju Hikmah
Trowulan bukan hanya ruang geografis, melainkan kawasan yang menyimpan perjalanan panjang sejarah dan kebudayaan. Berbagai tinggalan yang tersebar di wilayah tersebut menjadi bukti bahwa kehidupan manusia pada masa lalu telah meninggalkan warisan yang sampai sekarang masih dapat dipelajari.
Sitinggil Bejijong menjadi salah satu bagian dari lanskap tersebut.
Keberadaannya mengajarkan bahwa sejarah bukan sekadar cerita tentang masa lampau. Sejarah adalah cermin. Dari sana manusia dapat belajar mengenai perjuangan, persaudaraan, kepemimpinan, kebudayaan, sekaligus memahami bahwa tidak ada kejayaan duniawi yang berlangsung selamanya.
Karena itu, menjaga Sitinggil bukan hanya persoalan mempertahankan sebuah bangunan atau kawasan. Lebih dari itu, menjaga sejarah berarti menjaga ingatan, menjaga identitas, dan memberikan kesempatan kepada generasi berikutnya untuk memahami perjalanan para pendahulunya.
Di bawah cahaya lampu pada malam hari, Sitinggil Bejijong tetap berdiri dalam ketenangan.
Ia menjadi bagian dari wajah Trowulan yang terus bergerak mengikuti zaman, namun tetap menyimpan pesan sederhana: masa lalu patut dihormati, masa kini harus dijalani dengan penuh tanggung jawab, dan masa depan harus dipersiapkan dengan nilai-nilai kebaikan.
Sebab pada akhirnya, segala kemegahan dunia hanyalah titipan. Yang akan terus dikenang bukan semata-mata seberapa besar kejayaan yang pernah dimiliki, melainkan seberapa besar kebaikan, keteladanan, dan warisan bernilai yang mampu ditinggalkan bagi generasi sesudahnya.
Reporter: Mbah Mul
Kabiro MSRI Mojokerto Jatim
MSRI - Perspektif Akurat Terpercaya
dibaca

Posting Komentar
Hi Please, Do not Spam in Comments