Hidayah Allah Menuntun Arah Kepemimpinan


MSRI, MALANG - Kepemimpinan sering kali dipahami sebagai persoalan kemampuan, kecerdasan, pengalaman, strategi, dan keberanian mengambil keputusan. Semua itu memang penting. Namun ada satu dimensi yang jauh lebih dalam dan sering kali luput dari perhatian: ke mana hati seorang pemimpin diarahkan ketika ia memegang amanah kekuasaan.

Dalam perspektif keimanan, manusia boleh menyusun rencana sebaik mungkin, tetapi tidak pernah sepenuhnya mampu menentukan ke mana perjalanan hidupnya akan bermuara. Hati manusia berada dalam kehendak Allah SWT. Karena itu, ilmu perlu disertai hikmah, kekuasaan perlu disertai amanah, dan kepemimpinan perlu disertai hidayah.

Sebab hidayah bukan sekadar mengetahui mana yang benar dan mana yang salah. Hidayah adalah ketika kebenaran mampu diterima oleh hati, kebaikan mampu dicintai, dan apa yang diyakini benar memiliki kekuatan untuk diwujudkan dalam kehidupan.

Tidak sedikit manusia yang memiliki pengetahuan luas, tetapi belum tentu mampu menggunakan pengetahuannya untuk kebaikan. Ada yang mengetahui batas antara benar dan salah, tetapi kepentingan membuatnya memilih jalan yang berbeda. Ada pula yang mampu memberikan nasihat kepada orang lain, tetapi kesulitan menundukkan dirinya sendiri ketika berhadapan dengan kepentingan dan kekuasaan.

Di sinilah kepemimpinan menjadi sebuah ujian.

Kekuasaan tidak hanya menguji kemampuan seseorang dalam mengambil keputusan, tetapi juga menguji siapa dirinya ketika tidak ada lagi orang yang berani mengatakan bahwa dirinya keliru.

Pemimpin yang memahami kekuasaan sebagai amanah akan menyadari bahwa jabatan bukan milik pribadi. Jabatan adalah kepercayaan yang memiliki batas waktu dan tanggung jawab. Karena itu, ia tidak menjadikan kewenangan sebagai alat untuk meninggikan diri, melainkan sebagai sarana untuk memberikan manfaat.

Ia bersedia mendengar sebelum memutuskan.

Ia bersedia menerima kritik sebelum menyalahkan.

Ia berani mengakui kesalahan sebelum mencari kambing hitam.

Dan ia mempertimbangkan kepentingan masyarakat sebelum kepentingan dirinya sendiri.

Pemimpin semacam itu tidak harus selalu sempurna. Sebab tidak ada manusia yang sempurna. Tetapi ia memiliki satu sikap penting: ketika diingatkan, ia masih memiliki ruang dalam hatinya untuk melakukan introspeksi.

Sebaliknya, kekuasaan dapat menjadi berbahaya ketika seseorang mulai kehilangan kemampuan untuk mengoreksi dirinya sendiri. Ketika semua keputusan selalu dianggap benar, semua kritik dianggap sebagai serangan, dan semua kegagalan selalu diletakkan pada kesalahan orang lain, maka persoalannya tidak lagi sekadar menyangkut kebijakan.

Ada persoalan yang lebih mendasar: bagaimana hati memperlakukan kebenaran ketika kebenaran itu tidak sesuai dengan kepentingannya.

Dalam keadaan seperti itu, kesalahan yang semula kecil dapat menjadi kebiasaan. Kebiasaan dapat berubah menjadi pembenaran. Dan pembenaran yang terus-menerus dapat membuat seseorang semakin sulit membedakan antara mempertahankan amanah dan mempertahankan kepentingan.

Namun kita tidak boleh terburu-buru menilai hati seseorang. Hidayah adalah wilayah Allah, sedangkan tanggung jawab manusia terletak pada pilihan dan perbuatannya.

Setiap manusia diberi akal untuk berpikir, hati untuk merasakan, kesempatan untuk belajar, serta ruang untuk memperbaiki kesalahan. Karena itu, berbicara tentang hidayah seharusnya bukan menjadi alasan untuk menghakimi orang lain, melainkan menjadi dorongan untuk lebih sering bercermin kepada diri sendiri.

Terlebih bagi seorang pemimpin.

Semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin besar pula kebutuhannya untuk merendahkan hati di hadapan Allah. Sebab semakin luas kewenangan yang dimiliki, semakin luas pula dampak dari setiap keputusan yang diambil.

Pemimpin tidak hanya bertanggung jawab atas apa yang ia katakan, tetapi juga atas apa yang ia putuskan. Tidak hanya atas apa yang ia lakukan, tetapi juga atas akibat yang lahir dari kebijakannya.

Karena itu, kepemimpinan sejatinya bukan hanya persoalan bagaimana memenangkan kepercayaan, memperoleh jabatan, atau mempertahankan kekuasaan. Kepemimpinan adalah perjalanan panjang untuk membuktikan apakah sebuah amanah benar-benar digunakan bagi kepentingan yang lebih luas.

Kursi kekuasaan memiliki batas waktu. Jabatan memiliki masa akhir. Popularitas dapat berubah. Pujian dapat berhenti. Tetapi pertanggungjawaban atas amanah tidak berhenti hanya karena seseorang telah meninggalkan jabatannya.

Di situlah pentingnya hidayah.

Hidayah menjaga ilmu agar tidak berubah menjadi kesombongan.

Hidayah menjaga kekuasaan agar tidak berubah menjadi kesewenang-wenangan.

Hidayah menjaga keberanian agar tidak berubah menjadi arogansi.

Dan hidayah menjaga kepemimpinan agar tetap berada di jalan pengabdian.

Maka, barangkali doa terpenting bagi seorang calon pemimpin bukanlah semata-mata agar diberikan kekuasaan.

Lebih dari itu, hendaknya ia memohon:

Ya Allah, jika Engkau memberikan amanah kepemimpinan kepada kami, berikan pula hidayah untuk menjalaninya. Berikan kejernihan hati ketika mengambil keputusan, keberanian menerima kebenaran ketika kami keliru, keikhlasan ketika berbuat baik, serta kekuatan untuk menempatkan kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadi.

Sebab memimpin orang lain sesungguhnya dimulai dari kemampuan untuk memimpin diri sendiri.

Dan sebelum seseorang meminta orang lain untuk percaya kepadanya, ia seharusnya bertanya kepada dirinya sendiri:

Apakah hati ini cukup kuat untuk memegang amanah ketika kekuasaan berada di tangan?

Pada akhirnya, kepemimpinan bukan tentang seberapa tinggi seseorang berdiri di hadapan manusia. Kepemimpinan adalah tentang seberapa rendah hatinya bersujud di hadapan Allah ketika memegang amanah.

Jabatan akan berakhir. Kekuasaan akan berganti. Nama akan berlalu. Tetapi amanah akan tetap dipertanggungjawabkan.

Karena itu, mintalah hidayah sebelum meminta kekuasaan, mintalah keikhlasan sebelum menerima amanah, dan mintalah kekuatan kepada Allah agar setiap kewenangan yang diberikan tidak menjauhkan kita dari kebenaran.

Sebab ketika hati mendapat petunjuk, kekuasaan dapat menjadi pengabdian.

Dan ketika amanah dijalankan dengan kesadaran kepada Allah, kepemimpinan tidak lagi sekadar kedudukan melainkan jalan menuju kemanfaatan dan pertanggungjawaban di hadapan-Nya.

Oleh: Soejitno Irmim

MSRI - Perspektif Akurat Terpercaya

Baca Juga

dibaca

Post a Comment

Hi Please, Do not Spam in Comments

Lebih baru Lebih lama