Jangan Menunggu Orang yang Bermasalah Datang ke Majelis Ilmu

Jangan Menunggu Orang yang Bermasalah Datang ke Majelis Ilmu

MSRI, JAWA TIMUR - Sahabatku, jangan terlalu bangga ketika majelis ilmu selalu penuh. Bisa jadi yang hadir memang orang-orang yang sejak awal sudah sadar, sementara orang-orang yang justru paling membutuhkan ilmu tidak pernah datang.

Ini sebuah ironi.

Kita rajin membuat pengajian, kajian, seminar, tausiah, dan berbagai forum ilmu. Tetapi sering kali kita hanya bertemu dengan orang-orang yang memang sudah senang belajar. Mereka datang karena sudah memiliki kesadaran.

Inilah pull system: orang tertarik dan datang sendiri karena merasa membutuhkan.

Persoalannya, bagaimana dengan orang yang belum merasa membutuhkan?

Orang yang malas belajar tidak akan tiba-tiba rajin datang ke majelis. Orang yang merasa dirinya tidak bermasalah tidak akan mencari solusi. Orang yang sudah nyaman dengan perilakunya tidak merasa perlu dinasihati.

Kalau kita hanya menunggu mereka datang, sampai kapan pun mungkin mereka tidak akan datang.

Maka diperlukan push system.

Bukan memaksa orang menerima ceramah, tetapi kita yang proaktif masuk ke lingkungan mereka.

Masuk ke sekolah. Masuk ke kantor. Masuk ke perusahaan. Masuk ke organisasi. Masuk ke komunitas. Masuk ke pasar. Masuk ke desa. Masuk ke kelompok usaha. Masuk ke lingkungan keluarga.

Jangan hanya membangun majelis di tempat orang baik berkumpul. Hadirlah juga di tempat orang sedang menghadapi masalah kehidupan.

Materinya pun jangan selalu dimulai dengan teori yang jauh dari persoalan mereka. Mulailah dari masalah yang mereka rasakan: konflik keluarga, kemarahan, iri hati, ketidakjujuran, korupsi, disiplin, kecanduan gawai, pergaulan, utang, etos kerja, kepemimpinan, tanggung jawab, dan kehilangan arah hidup.

Setelah mereka merasa “ini masalah saya,” barulah pintu kesadaran mulai terbuka.

Strateginya:

DATANGI → DENGARKAN → PAHAMI → BERIKAN SOLUSI → BANGUN KEPERCAYAAN → TUMBUHKAN KESADARAN → BINA SECARA BERKELANJUTAN.

Push system bukan berarti memaksa. Yang kita dorong adalah kehadiran dan akses kepada ilmu; kesadaran tetap harus tumbuh dari dalam diri mereka.

Dan jangan berhenti setelah satu kali ceramah. Perubahan manusia membutuhkan hubungan, keteladanan, pendampingan, dan proses yang panjang.

Majelis ilmu tetap penting. Tetapi jangan sampai majelis ilmu berubah menjadi “klub orang-orang yang sudah sadar,” sementara mereka yang belum sadar dibiarkan berjalan tanpa arah.

Kalau kita benar-benar percaya bahwa ilmu dapat memperbaiki manusia, maka ilmu tidak boleh hanya menunggu manusia datang mencarinya.

Ilmu harus berani mendatangi manusia.

Sebab tujuan akhir pembinaan bukanlah sebanyak apa orang yang hadir dalam majelis, tetapi sebanyak apa kehidupan manusia yang berubah karena ilmu.

Oleh: Soejitno Irmim

Semoga menginspirasi.

MSRI - Perpektif Akurat Terpercaya

Baca Juga

dibaca

Post a Comment

Hi Please, Do not Spam in Comments

Lebih baru Lebih lama