PASSER WONG BODHO Maknai 1 Muharram 1448 H dan 1 Suro 2026 sebagai Momentum Hijrah Spiritual, Pelestarian Budaya, serta Penguatan Persatuan dan Persaudaraan Bangsa

PASSER WONG BODHO Maknai 1 Muharram 1448 H dan 1 Suro 2026 sebagai Momentum Hijrah Spiritual, Pelestarian Budaya, serta Penguatan Persatuan dan Persaudaraan Bangsa

MSRI, JAWA TIMUR – Pergantian Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah yang bertepatan dengan malam 1 Suro Tahun 2026 menjadi momentum penuh makna bagi komunitas Passer Wong Bodho. Dua peristiwa penting tersebut dimaknai sebagai ruang refleksi untuk memperkuat nilai-nilai spiritual, melestarikan warisan budaya leluhur, serta memperkokoh persaudaraan dalam kehidupan bermasyarakat.

Bagi umat Islam, 1 Muharram merupakan simbol hijrah, yakni perpindahan menuju kehidupan yang lebih baik, meninggalkan perilaku yang kurang bermanfaat menuju akhlak yang lebih mulia sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW. 

Sementara itu, dalam tradisi budaya Nusantara, khususnya masyarakat Jawa, 1 Suro dimaknai sebagai waktu untuk melakukan introspeksi diri, membersihkan hati, memperkuat hubungan dengan Sang Pencipta, serta menjaga harmoni dengan alam dan sesama manusia.

Mengusung tema “Hijrah Menuju Kebaikan, Suro Menjaga Harmoni Budaya, Alam, dan Sesama”, Passer Wong Bodho menggelar kegiatan sosial dan budaya bertajuk “Berbagi Keberkahan untuk Leluhur” di Petilasan Mbah Sriaji Joyo Boyo, Kediri, Jawa Timur. Kegiatan tersebut menjadi simbol perpaduan nilai religius dan budaya yang tumbuh harmonis dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, para peserta melaksanakan doa bersama, refleksi spiritual, serta berbagi makanan dan minuman gratis kepada masyarakat yang hadir. Kegiatan ini sekaligus menjadi sarana mempererat silaturahmi dan menumbuhkan semangat gotong royong di tengah keberagaman.

Semangat kebersamaan tersebut semakin terasa melalui kolaborasi antara Passer Wong Bodho dari Gresik dan Yayasan Gajah Purwo Nuswantoro dari Malang. Sejak pagi hari, para relawan dari kedua komunitas bekerja bersama menyiapkan berbagai kebutuhan kegiatan, mulai dari pengolahan bahan makanan hingga penyajian konsumsi bagi ribuan masyarakat yang mengikuti acara.

Saat memberikan keterangan kepada wartawan Media Suara Rakyat Indonesia (MSRI), perwakilan Passer Wong Bodho menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan wujud nyata persatuan yang lahir dari semangat gotong royong dan kepedulian sosial.

"Momentum 1 Muharram dan 1 Suro mengajarkan kepada kita pentingnya memperbaiki diri tanpa meninggalkan akar budaya yang telah diwariskan para leluhur. Kami ingin menunjukkan bahwa persaudaraan, kebersamaan, dan gotong royong merupakan kekuatan besar bangsa Indonesia. Kebaikan tidak mengenal batas wilayah, suku, maupun golongan," ujarnya.

Sementara itu, perwakilan Yayasan Gajah Purwo Nuswantoro menyampaikan apresiasi atas sinergi yang terjalin dalam kegiatan tersebut. Menurutnya, kebersamaan yang dibangun tidak hanya menghadirkan manfaat secara sosial, tetapi juga menjadi sarana memperkuat nilai-nilai kemanusiaan dan kepedulian terhadap sesama.

"Kegiatan ini bukan sekadar berbagi hidangan kepada masyarakat, tetapi juga mempererat tali persaudaraan, menjaga nilai-nilai budaya, serta menumbuhkan semangat saling peduli dalam kehidupan bermasyarakat," tuturnya kepada wartawan MSRI.

Melalui kegiatan ini, Passer Wong Bodho berharap semangat hijrah, pelestarian budaya, dan kepedulian sosial dapat terus tumbuh di tengah masyarakat. Layaknya gunung yang kokoh dan sungai yang mengalir memberikan manfaat bagi kehidupan, nilai-nilai kebersamaan yang diwariskan para leluhur diharapkan mampu memperkuat persatuan bangsa serta mendorong terwujudnya Indonesia yang lebih bermartabat, damai, dan sejahtera.

Reporter: Riawan

Dokumentasi: MSRI

Baca Juga

dibaca

Post a Comment

Hi Please, Do not Spam in Comments

Lebih baru Lebih lama