Damailah Bangsaku: Menyeruak Tabir Kebencian di Tengah Krisis Persatuan Bangsa

Damailah Bangsaku: Menyeruak Tabir Kebencian di Tengah Krisis Persatuan Bangsa

"Bangsa yang besar bukanlah bangsa yang saling menjatuhkan, melainkan bangsa yang mampu berdiri tegak karena persatuan rakyatnya."

MSRI, SURABAYA - Di tengah derasnya arus modernisasi dan kompetisi kehidupan, bangsa Indonesia sedang menghadapi tantangan yang tidak ringan. Bukan semata persoalan ekonomi, politik, atau hukum, melainkan krisis yang jauh lebih mengkhawatirkan, yakni memudarnya rasa persaudaraan, kepedulian, dan saling percaya antarsesama anak bangsa.

Perbedaan pandangan yang dahulu menjadi kekuatan demokrasi, kini kerap berubah menjadi bibit permusuhan. Perbedaan pilihan dijadikan alasan untuk saling mencaci. Perbedaan kepentingan melahirkan kebencian. Bahkan, tidak sedikit yang rela mengorbankan etika, profesionalisme, dan persaudaraan demi ambisi pribadi, jabatan, popularitas, maupun kepentingan materi.

Fenomena saling menjatuhkan, mencari kesalahan orang lain, hingga merasa diri paling benar semakin mudah dijumpai. Ironisnya, semua itu sering dibungkus dengan dalih perjuangan atau kepentingan organisasi, padahal yang diperjuangkan sejatinya hanyalah ego pribadi.

Dalam falsafah Jawa dikenal ungkapan, "Ngono yo ngono, ning ojo ngono nemen." Sebuah nasihat sederhana yang mengajarkan bahwa segala sesuatu memiliki batas kepatutan. Ambisi boleh dimiliki, tetapi jangan sampai menghilangkan nurani.

Persaingan boleh dilakukan, tetapi jangan sampai memutus tali persaudaraan.

Di tengah kondisi seperti itu, pesan Bung Karno kembali menemukan relevansinya.

"Damailah Bangsaku."

Kalimat sederhana tersebut bukan sekadar seruan, melainkan amanat moral bagi seluruh rakyat Indonesia. Bung Karno memahami bahwa kemerdekaan hanya dapat dipertahankan apabila rakyat tetap bersatu. Tidak ada bangsa yang mampu berdiri kokoh apabila warganya sibuk saling membenci dan saling menghancurkan.

Media sosial yang seharusnya menjadi ruang berbagi ilmu dan inspirasi, kini tidak jarang berubah menjadi panggung pencitraan, tempat mencari pengakuan, bahkan arena untuk mempermalukan orang lain. Nilai keikhlasan perlahan tergeser oleh budaya ingin dipuji dan dilihat.

Padahal, pengabdian yang sejati tidak membutuhkan tepuk tangan. Kebaikan yang tulus tidak selalu memerlukan sorotan kamera. Sebab, nilai sebuah amal tidak diukur dari banyaknya penonton, melainkan dari manfaat yang diberikan kepada sesama.

Kita perlu kembali belajar tentang kesabaran. Filosofi Jawa "Ngenteni tetesing embun" mengajarkan bahwa segala sesuatu memiliki waktunya. 

Kesuksesan yang diraih melalui kejujuran akan jauh lebih bermartabat dibanding keberhasilan yang diperoleh dengan cara mengorbankan integritas.

Slamet Pramono akrab disapa Cak Bram, yang diproyeksikan sebagai Ketua DPW PNI Merdeka Jawa Timur, mengajak seluruh elemen bangsa untuk menghidupkan kembali semangat nasionalisme dan persatuan sebagaimana dicita-citakan para pendiri bangsa.

"Indonesia tidak dibangun oleh kebencian, tetapi oleh persatuan. Kita boleh berbeda pendapat, berbeda pilihan, bahkan berbeda kepentingan, tetapi jangan pernah kehilangan rasa hormat kepada sesama. Mari kita hentikan budaya saling menjatuhkan dan mulai membangun budaya saling menguatkan. Persatuan adalah kekuatan terbesar bangsa ini. Pesan Bung Karno, 'Damailah Bangsaku', harus menjadi kompas moral dalam setiap langkah kita demi Indonesia yang adil, berdaulat, dan bermartabat," tegas Cak Bram.

Sebagai insan pers, Media Suara Rakyat Indonesia (MSRI) meyakini bahwa kemerdekaan pers bukan hanya tentang menyampaikan informasi, tetapi juga menghadirkan nilai-nilai kebangsaan, menjaga akal sehat publik, serta menjadi jembatan yang memperkuat persatuan bangsa.

Karena itu, mari memulai perubahan dari diri sendiri. Kurangi kebencian, perbanyak kepedulian. Kurangi kesombongan, perbanyak kerendahan hati. Kurangi iri hati, perbanyak rasa syukur.

Sebab pada akhirnya, jabatan akan berakhir, kekuasaan akan berganti, harta akan ditinggalkan. Namun nama baik, integritas, dan kebaikan akan tetap hidup dalam ingatan orang-orang yang pernah merasakan manfaatnya.

Damailah Bangsaku. Sebab Indonesia yang kuat hanya dapat berdiri di atas fondasi persatuan, persaudaraan, dan gotong royong. Itulah warisan terbesar yang harus terus kita jaga demi generasi yang akan datang.

Oleh: Slamet Pramono (Cak Bram) 

Pemimpin Redaksi

Media Suara Rakyat Indonesia (MSRI)

Baca Juga

dibaca

Post a Comment

Hi Please, Do not Spam in Comments

Lebih baru Lebih lama