Di Majelis Al-Illiyin, Fikih Mandi Jinabat Diperdalam, Mahabbah kepada Rasulullah SAW Dihidupkan

Di Majelis Al-Illiyin, Fikih Mandi Jinabat Diperdalam, Mahabbah kepada Rasulullah SAW Dihidupkan

Majelis Tholabul Ilmi di Pondok Pesantren Internasional Al-Illiyin Gresik membahas fikih mandi jinabat, thaharah, serta memperkuat mahabbah kepada Rasulullah SAW.

MSRI, GRESIK - Menuntut ilmu bukan sekadar menambah pengetahuan, tetapi perjalanan untuk membersihkan hati, memperbaiki amal dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Pesan itulah yang terasa dalam Majelis Tholabul Ilmi di Pondok Pesantren Internasional Al-Illiyin, Dusun Sumberwaru, Desa Sumberwaru, Kecamatan Wringinanom, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, Sabtu (8/8/2026) malam.

Majelis yang dimulai sekitar pukul 19.00 WIB tersebut berlangsung dalam suasana religius dan khidmat. Rangkaian kegiatan diisi dengan pembacaan Maulid Simtudduror bersama Jam’iyah Sholawat Ibrohimiyah. Lantunan sholawat dan dzikir menggema, menghadirkan suasana mahabbah kepada Nabi Muhammad SAW.

Majelis tersebut diasuh Abuya Ahmad Yani Iliyin, Mursyid Tunggal Jam’iyah Sholawat Ibrohimiyah sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Internasional Al-Illiyin.

Memahami Thaharah, Menjaga Kesucian

Salah satu pembahasan utama dalam kajian adalah fikih thaharah, khususnya mengenai mandi jinabat atau mandi wajib.

Jamaah diajak memahami bahwa thaharah dalam Islam tidak hanya berkaitan dengan kebersihan tubuh, tetapi merupakan bagian dari kesempurnaan ibadah dan bentuk ketaatan seorang hamba kepada Allah SWT.

Mandi jinabat diwajibkan dalam kondisi tertentu, di antaranya setelah hubungan suami istri maupun keluarnya mani. Karena itu, pemahaman mengenai sebab, ketentuan dan tata cara mandi wajib menjadi bagian penting dalam kehidupan seorang Muslim.

Kajian tersebut juga menjadi pengingat bahwa persoalan fikih yang bersentuhan langsung dengan kehidupan sehari-hari hendaknya dipelajari secara benar.

Sebab, ibadah yang dilakukan tanpa pengetahuan yang memadai berpotensi menimbulkan kekeliruan. Karena itu, tholabul ilmi menjadi jalan penting agar setiap amal memiliki landasan ilmu dan tuntunan syariat.

Dari Ilmu Menuju Amal

Dalam kajian tersebut juga dinukil keterangan dari Kitab Nashoih Diniyah mengenai kemuliaan amal mandi jinabat.

Pesan yang dibangun bukan semata-mata mengenai kebersihan secara lahiriah, tetapi bagaimana kesucian menjadi bagian dari kesadaran seorang Muslim untuk senantiasa tunduk dan patuh kepada Allah SWT.

Ilmu yang diperoleh dari majelis diharapkan tidak berhenti pada ingatan dan catatan. Lebih jauh, ilmu harus mampu melahirkan amal, memperbaiki akhlak dan mengubah perilaku menuju kehidupan yang lebih baik.

Ilmu tanpa amal adalah pengetahuan, sementara ilmu yang diamalkan menjadi jalan menuju keberkahan.

Sholawat Menguatkan Mahabbah kepada Rasulullah SAW

Nuansa religius semakin kuat melalui pembacaan Maulid Simtudduror.

Sholawat bukan hanya rangkaian lantunan yang indah, tetapi menjadi pengingat bagi umat Islam untuk menumbuhkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW, mengikuti sunnahnya serta berusaha meneladani akhlak beliau dalam kehidupan sehari-hari.

Mahabbah kepada Rasulullah SAW diharapkan tidak hanya hadir dalam majelis, tetapi juga tercermin dalam perilaku, tutur kata, hubungan dengan keluarga, penghormatan kepada ulama serta kepedulian terhadap sesama.

Jamaah juga diingatkan pentingnya mendekatkan diri kepada para ulama dan orang-orang saleh. Majelis ilmu hendaknya menjadi tempat untuk menata hati, memperbaiki diri dan memperkuat istiqamah.

Majelis Ilmu sebagai Jalan Keberkahan

Rangkaian Tholabul Ilmi kemudian ditutup dengan doa dan dzikir.

Jamaah memohon kepada Allah SWT agar ilmu yang dipelajari menjadi ilmu yang bermanfaat, amal yang dikerjakan diterima serta setiap langkah dalam menuntut ilmu diberikan keberkahan dan pertolongan-Nya.

Majelis tersebut menjadi pengingat bahwa perjalanan seorang Muslim menuju ridha Allah SWT membutuhkan ilmu yang benar, thaharah, amal yang ikhlas, akhlak yang baik dan mahabbah kepada Rasulullah SAW.

Di tengah kehidupan yang semakin kompleks, majelis ilmu menjadi ruang untuk kembali menata hati.

Di sanalah pengetahuan dipertemukan dengan ketundukan, ibadah dipertemukan dengan keikhlasan, dan kecintaan kepada Rasulullah SAW dihidupkan melalui sholawat serta keteladanan.

Semoga setiap langkah menuju majelis ilmu dicatat sebagai amal kebaikan, setiap ilmu menjadi cahaya dalam kehidupan, setiap sholawat menjadi sebab turunnya rahmat, dan setiap ikhtiar memperbaiki diri mendapatkan maunah serta ridha Allah SWT.

Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

{ Cak Loem }

Baca Juga

dibaca

Post a Comment

Hi Please, Do not Spam in Comments

Lebih baru Lebih lama