Sangkan Paraning Dumadi: Dari Mana Kita Datang, Untuk Apa Kita Hidup, Ke Mana Kita Kembali

Sangkan Paraning Dumadi: Dari Mana Kita Datang, Untuk Apa Kita Hidup, Ke Mana Kita Kembali

MSRI, JAWA TIMUR - Manusia lahir tanpa memilih kapan, di mana, dan melalui siapa ia hadir ke dunia. Ia datang tanpa membawa harta, jabatan, maupun nama besar. Ia hanya menerima satu anugerah: kesempatan untuk hidup.

Namun kesempatan itu tidak abadi. Manusia tumbuh, belajar, mencintai, berjuang, kehilangan, dan pada akhirnya menghadapi kematian. Di antara kelahiran dan kematian itulah tersimpan pertanyaan paling mendasar:

Untuk apa manusia hidup?

Pertanyaan tersebut membawa kita kepada falsafah Jawa “sangkan paraning dumadi” memahami dari mana keberadaan berasal, bagaimana kehidupan dijalani, dan ke mana pada akhirnya manusia kembali.

Sangkan mengingatkan manusia kepada asal. Dumadi adalah perjalanan menjadi dan menjalani kehidupan. Paran adalah tujuan atau kepulangan.

Dalam perspektif religius, kehidupan bukan milik mutlak manusia, melainkan amanah dari Sang Pencipta. Napas, waktu, ilmu, keluarga, harta, dan kesempatan adalah titipan yang kelak harus dipertanggungjawabkan.

Karena itu, makna hidup bukan sekadar tentang berapa banyak yang dapat kita miliki, tetapi seberapa baik kita menggunakan apa yang telah dipercayakan kepada kita.

Harta bermakna ketika menjadi jalan berbagi. Ilmu bermakna ketika memberi manfaat. Kekuasaan bermakna ketika dijalankan dengan amanah. Dan kehidupan bermakna ketika kehadiran kita membawa kebaikan bagi sesama.

Dalam spiritualitas Jawa, perjalanan itu disebut laku, perjalanan lahir dan batin untuk menata diri. Mengendalikan amarah, menundukkan keserakahan, menjaga ucapan, menghormati sesama, menepati amanah, serta berani memperbaiki kesalahan merupakan bagian dari laku.

Karena itu pula dikenal prinsip eling lan waspada.

Eling: ingat kepada Tuhan, ingat kepada asal, dan ingat bahwa kehidupan memiliki batas.

Waspada: menjaga diri agar tidak dikuasai kesombongan, hawa nafsu, kebencian, dan keserakahan.

Manusia boleh mengejar keberhasilan, tetapi jangan sampai kehilangan kemanusiaan. Boleh memiliki kekuasaan, tetapi jangan lupa bahwa kekuasaan adalah amanah. Boleh memiliki kekayaan, tetapi jangan sampai lupa berbagi.

Kematian kemudian datang sebagai pengingat paling tegas bahwa segala sesuatu di dunia bersifat sementara.

Dalam keyakinan religius, kehidupan tidak berhenti pada dunia; manusia akan kembali kepada Tuhan dan mempertanggungjawabkan amal perbuatannya. Sementara sejumlah tradisi spiritual mengenal gagasan kelahiran kembali atau reinkarnasi. Pandangan tersebut merupakan wilayah keyakinan dan filsafat, bukan fakta ilmiah yang telah terbukti secara universal.

Namun apa pun keyakinan seseorang tentang kehidupan setelah kematian, ada satu hal yang tidak dapat diabaikan:

Kesempatan untuk memperbaiki kehidupan ada sekarang.

Jangan menunggu kehilangan untuk menghargai. Jangan menunggu tua untuk mendekat kepada Tuhan. Jangan menunggu kematian untuk memahami arti kehidupan.

Sebab manusia pada akhirnya tidak membawa jabatan, kekayaan, atau popularitas ketika meninggalkan dunia. Yang tertinggal adalah jejak perbuatan, kebaikan, dan manfaat yang pernah diberikan.

Di situlah sangkan paraning dumadi menemukan maknanya.

Sangkan mengajarkan kerendahan hati karena kita mengingat asal.

Dumadi mengajarkan tanggung jawab karena kita sedang menjalani amanah kehidupan.

Paran mengajarkan kesadaran karena kita semua sedang menuju kepulangan.

Maka makna kehidupan bukan sekadar hadir di dunia, melainkan menjadi manusia yang bermakna selama kehadiran itu masih diberikan.

Hidup untuk beribadah.

Hidup untuk berbuat baik.

Hidup untuk menjaga amanah.

Hidup untuk memberi manfaat.

Eling marang Gusti.

Eling marang sangkan.

Waspada ing laku.

Ngudi kabecikan.

Migunani tumraping liyan.

Lan siyap nalika wayahe mulih.

Ingat kepada Tuhan. Ingat kepada asal. Waspada dalam menjalani kehidupan. Senantiasa mengupayakan kebaikan, bermanfaat bagi sesama, dan bersiap ketika waktunya kembali.

Sebab pada akhirnya:

Kita datang dari rahasia Sang Pencipta, menjalani kehidupan sebagai amanah-Nya, dan kembali kepada-Nya dengan membawa jejak laku serta amal kehidupan.

Itulah makna terdalam sangkan paraning dumadi: mengetahui asal, menjalani hidup dengan benar, dan mempersiapkan diri untuk pulang.

Penulis: Cak Bram

MSRI - Perspektif Akurat Terpercaya

Baca Juga

dibaca

Post a Comment

Hi Please, Do not Spam in Comments

Lebih baru Lebih lama