MSRI, JOMBANG – Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, mulai memasuki fase penting. Di balik kesibukan menyiapkan akomodasi, pengamanan, peserta hingga rangkaian acara, terdapat agenda yang jauh lebih strategis: menentukan arah perjalanan Nahdlatul Ulama untuk lima tahun ke depan. Selasa, 04/08/2026.
PBNU telah merilis Daftar Peserta Sementara (DPS) Tahap I per 1 Agustus 2026. Sebanyak 501 kepengurusan PWNU, PCNU dan PCINU masuk dalam daftar awal. Data tersebut bukan sekadar administrasi. Dalam forum Muktamar, keberadaan peserta memiliki arti penting karena menyangkut legitimasi proses musyawarah dan arah keputusan organisasi.
Karena itu, proses verifikasi hingga 6 Agustus 2026 menjadi tahapan yang tidak boleh dipandang sebelah mata. Di tengah meningkatnya dinamika politik organisasi, akurasi data peserta menjadi bagian penting dari kredibilitas Muktamar.
Di sisi lain, kesiapan Tambakberas sebagai tuan rumah terus digenjot. Sekitar 3.000 kasur dan 300 unit AC disiapkan untuk para muktamirin. Ribuan kiai, ulama, pengurus dan delegasi akan berkumpul dalam satu forum yang secara organisatoris memiliki konsekuensi besar terhadap masa depan NU.
Namun, Muktamar NU bukan hanya soal siapa yang mendapatkan posisi.
Lebih dari itu, pertanyaan besarnya adalah siapa yang mampu membawa NU tetap menjadi rumah besar ulama, pesantren dan umat, tanpa kehilangan independensi di tengah tarik-menarik kepentingan politik.
Di sinilah pertarungan gagasan sesungguhnya berada.
NU memiliki sejarah panjang sebagai organisasi keagamaan yang sekaligus memainkan peran penting dalam perjalanan bangsa. Karena itu, kepemimpinan NU tidak pernah sepenuhnya steril dari perhatian politik.
Tetapi justru karena memiliki posisi strategis tersebut, Muktamar harus mampu memastikan bahwa kepentingan umat tidak tenggelam di bawah kepentingan kelompok, jaringan maupun kepentingan politik praktis.
Pengamanan besar-besaran juga disiapkan. Sekitar 20.000 personel Banser akan disiagakan di 24 titik vital mulai 25 Agustus 2026. Pengamanan tersebut diharapkan tetap mengedepankan pendekatan humanis, sehingga pesta demokrasi organisasi NU berlangsung aman dan kondusif.
Di tengah suhu politik Muktamar yang berpotensi menghangat, pesan tabayyun menjadi semakin relevan.
PBNU telah mengingatkan warga Nahdliyin agar tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum terverifikasi.
Sebab, dalam kontestasi organisasi, perang gagasan seharusnya tidak berubah menjadi perang fitnah. Perbedaan pilihan merupakan keniscayaan dalam musyawarah, tetapi persaudaraan harus tetap menjadi batas yang tidak boleh dilampaui.
Semangat tersebut sejalan dengan tradisi pesantren: berbeda pandangan boleh, tetapi adab dan ukhuwah jangan sampai hilang.
Tambakberas sendiri memiliki nilai simbolik yang kuat. Dari lingkungan pesantren inilah tradisi keilmuan, sanad keulamaan dan perjuangan NU terus dirawat. Kehadiran lukisan raksasa yang menampilkan 15 muassis NU menjadi pengingat bahwa generasi sekarang tidak sedang membangun NU dari titik nol.
Mereka hanya sedang menerima tongkat estafet perjuangan para ulama terdahulu.
Karena itu, Muktamar ke-35 seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan siapa yang menang dan siapa yang kalah. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: apakah setelah Muktamar NU semakin kuat sebagai jam'iyyah ulama, semakin mandiri dalam menentukan sikap, semakin dekat dengan umat, dan semakin mampu menjaga marwah pesantren?
Jika politik masuk ke ruang Muktamar, politik itu semestinya menjadi politik gagasan, politik kebangsaan dan politik kemaslahatan bukan politik kepentingan sesaat.
Pada akhirnya, jabatan dalam NU bukan sekadar kekuasaan. Ia adalah amanah dan khidmah. Semakin tinggi posisi seseorang, semakin berat pula pertanggungjawabannya, bukan hanya kepada struktur organisasi, tetapi juga kepada umat dan kepada Allah SWT.
Dari Tambakberas, publik Nahdliyin kini menunggu satu hal: bukan sekadar siapa yang akan memegang kendali NU, tetapi ke mana NU akan dibawa setelah palu Muktamar diketuk.
Sebab sejarah akan mencatat, Muktamar ke-35 bukan hanya tentang pergantian kepemimpinan, melainkan tentang pertarungan menentukan wajah NU di tengah perubahan zaman antara tradisi dan modernitas, independensi dan kepentingan politik, serta kekuasaan dan khidmah.
Dan pada akhirnya, suara yang paling penting bukanlah suara yang paling keras, melainkan suara yang paling mampu menghadirkan maslahat bagi umat, menjaga marwah ulama, dan meneruskan perjuangan para muassis Nahdlatul Ulama.
Reporter: Cak Loem
Kabiro MSRI Jombang Jawa Timur
Editor: Redaksi MSRI
dibaca




Posting Komentar
Hi Please, Do not Spam in Comments