Lestarikan Budaya Dayak, Komunitas Penyumpit Gunung Purei Gelar Lomba Sumpitan Tradisional Sambut HUT ke-2 dan HUT ke-81 Kemerdekaan RI

Lestarikan Budaya Dayak, Komunitas Penyumpit Gunung Purei Gelar Lomba Sumpitan Tradisional Sambut HUT ke-2 dan HUT ke-81 Kemerdekaan RI

Terbuka untuk umum pada 15–16 Agustus 2026, ajang ini menjadi momentum mempererat persaudaraan, melestarikan warisan budaya Dayak, serta menumbuhkan semangat nasionalisme di Kabupaten Barito Utara.

MSRI, BARITO UTARA – Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-2 Komunitas Penyumpit Senjata Tradisional sekaligus menyemarakkan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Komunitas Penyumpit Kecamatan Gunung Purei, Kabupaten Barito Utara, Kalimantan, akan menggelar Lomba Sumpitan Tradisional pada 15–16 Agustus 2026.

Kegiatan tersebut diprakarsai oleh penggerak komunitas bersama Media Suara Rakyat Indonesia (MSRI) sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian budaya, penguatan nilai-nilai kebersamaan, serta upaya menjaga warisan budaya Nusantara agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

Lomba terbuka bagi masyarakat umum, baik pria maupun wanita. Selain warga Kecamatan Gunung Purei, panitia juga mengundang peserta dari luar daerah untuk turut berpartisipasi dalam ajang yang mengedepankan sportivitas, ketangkasan, dan kecintaan terhadap budaya bangsa.

Warisan Budaya Dayak yang Sarat Nilai Luhur

Sumpitan atau sipet merupakan salah satu senjata tradisional khas masyarakat Dayak di Pulau Kalimantan yang telah diwariskan secara turun-temurun selama berabad-abad. Pada masa lalu, sumpitan digunakan sebagai alat berburu di hutan sekaligus sebagai sarana mempertahankan diri.

Terbuat dari kayu pilihan dengan lubang presisi di bagian tengah, sumpitan menggunakan anak sumpit yang umumnya dibuat dari bambu atau bahan alami lainnya. Dahulu, dalam tradisi berburu, sebagian masyarakat memanfaatkan racun alami dari tumbuhan hutan pada ujung anak sumpit. Namun, dalam perlombaan modern seluruh peserta menggunakan anak sumpit yang aman sehingga kegiatan lebih berorientasi pada olahraga tradisional, edukasi budaya, dan pelestarian kearifan lokal.

Bagi masyarakat Dayak, sumpitan bukan sekadar senjata tradisional, melainkan simbol kecermatan, kesabaran, disiplin, keberanian, serta keharmonisan manusia dengan alam.

Lestarikan Budaya Dayak, Komunitas Penyumpit Gunung Purei Gelar Lomba Sumpitan Tradisional Sambut HUT ke-2 dan HUT ke-81 Kemerdekaan RI

Bang Karlos: Budaya Harus Tetap Hidup di Tengah Generasi Muda

Penggerak Komunitas Penyumpit Gunung Purei, Bang Karlos, mengatakan bahwa kegiatan ini bertujuan mempererat persaudaraan masyarakat sekaligus menjaga eksistensi budaya Dayak agar terus diwariskan kepada generasi muda.

Saat memberikan keterangan kepada wartawan Media Suara Rakyat Indonesia (MSRI), Bang Karlos mengatakan bahwa panitia membuka pendaftaran bagi seluruh masyarakat yang memiliki kemampuan maupun minat terhadap olahraga sumpitan tradisional.

"Lomba ini bukan sekadar ajang adu ketangkasan, tetapi juga wujud nyata kecintaan kami terhadap budaya leluhur. Kami ingin generasi muda mengenal, mencintai, dan melestarikan sumpitan sebagai identitas budaya Dayak sekaligus memperkuat persatuan masyarakat dalam semangat Kemerdekaan Republik Indonesia," ujar Bang Karlos.

Ia menambahkan, momentum HUT ke-2 Komunitas Penyumpit menjadi kesempatan untuk memperkuat solidaritas antarkomunitas serta membangun semangat gotong royong dan kebersamaan di tengah masyarakat.

Momentum Persatuan dan Pelestarian Budaya

Panitia berharap kegiatan ini dapat menjadi agenda budaya tahunan yang mampu menarik partisipasi masyarakat dari berbagai daerah serta menjadi sarana memperkenalkan kekayaan budaya Kabupaten Barito Utara kepada masyarakat luas.

Melalui lomba sumpitan tradisional ini, Komunitas Penyumpit Gunung Purei ingin menegaskan bahwa budaya bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan identitas bangsa yang harus terus dijaga, dikembangkan, dan diwariskan kepada generasi penerus sebagai bagian dari semangat persatuan Indonesia.

Pull Quote

"Melestarikan sumpitan berarti menjaga jati diri budaya Dayak. Budaya yang hidup adalah budaya yang diwariskan, dipelajari, dan dibanggakan oleh generasi penerus bangsa." – Bang Karlos

Reporter: Mbah Mul

Editor: Redaksi MSRI

Baca Juga

dibaca

Post a Comment

Hi Please, Do not Spam in Comments

Lebih baru Lebih lama