![]() |
| Dok, foto MSRI: Badan Pekerja Formasy Praja Nusantara Matangkan Sinergi Percepatan Megapolitan Malang Raya dan Koridor Selatan 2045 Berbasis Kearifan Lokal. Sabtu (1/8/2026). |
MSRI, KOTA BATU – Badan Pekerja (BP) Dewan Majelis Nasional (DMN) Formasy Praja Nusantara (FPN) terus memperkuat koordinasi lintas sektor dalam rangka mengoptimalkan terwujudnya Megapolitan Malang Raya dan Program Koridor Selatan 2045 yang berorientasi pada pembangunan berkelanjutan, penguatan ekonomi masyarakat, ketahanan pangan, serta pelestarian lingkungan berbasis kearifan lokal.
Kegiatan tersebut dibahas dalam Rapat Koordinasi dan Focus Group Discussion (FGD) yang berlangsung di Kantor Badan Pekerja FPN sekaligus Pondok Pesantren Entrepreneur Roudlotul Madinah, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, Jumat (31/7/2026), pukul 19.00–22.00 WIB.
Badan Pekerja DMN FPN merupakan organ organisasi yang dibentuk berdasarkan SK Nomor 04B/KOMANDO/DMN.FPN/VIII/2024 dan bertanggung jawab langsung kepada Ketua Umum.
Organ ini beranggotakan para profesional dari berbagai disiplin ilmu yang memiliki pengalaman puluhan tahun di bidangnya masing-masing untuk merumuskan kebijakan strategis organisasi bersama Ketua Umum, Dewan Adat, dan Sesepuh Nusantara Formasy Praja Nusantara.
FGD tersebut merupakan tindak lanjut hasil koordinasi sebelumnya dengan Kepala Bakorwil III Malang, Asep Kusdinar, guna menyelaraskan langkah strategis dalam mendukung pembangunan kawasan Malang Raya dan Koridor Selatan.
FGD dipandu langsung oleh KH. Zainullah Anwar, SE., M.Sc. yang menegaskan bahwa seluruh program harus disusun berdasarkan prosedur tetap (Protap) dan standar operasional prosedur (SOP) dengan sistem perencanaan yang matang, akurat, dan terukur.
Ia menekankan bahwa pendekatan pembangunan harus dilakukan melalui peningkatan pertumbuhan ekonomi masyarakat tanpa mengabaikan aspek sosial, budaya, serta kearifan lokal sebagai identitas wilayah.
Sementara itu, Ir. Dulkomar mengusulkan dilaksanakannya survei lapangan bersama Bakorwil III Malang sebagai langkah awal pemetaan potensi wilayah sekaligus penyusunan program yang tepat sasaran.
Dalam kesempatan yang sama, Prof. Dr. Ir. Nurhidayati menekankan pentingnya identifikasi karakteristik tanah sebagai dasar penyusunan program penghijauan, khususnya pada kawasan berbatu di wilayah selatan. Menurutnya, berbagai metode rehabilitasi lahan yang diperoleh dari hasil studi dan pembelajaran di luar negeri dapat menjadi alternatif untuk meningkatkan produktivitas lahan sekaligus mendorong tumbuhnya pusat-pusat ekonomi baru di Koridor Selatan.
Ketua Umum Formasy Praja Nusantara, Dodik Purwoko, saat memberikan keterangan kepada wartawan Media Suara Rakyat Indonesia (MSRI), menyampaikan rasa syukur atas semakin solidnya koordinasi antaranggota Badan Pekerja dalam menyiapkan berbagai program strategis.
Menurutnya, selain mendukung pengembangan Megapolitan Malang Raya, FPN juga telah menyepakati pelaksanaan program SPEKTANI sebagai konsep penanaman terpadu yang akan dikembangkan mulai dari Kabupaten Pacitan hingga Kabupaten Banyuwangi.
Program tersebut diarahkan untuk memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan adaptasi terhadap perubahan iklim, serta membuka akses ekonomi masyarakat di sepanjang kawasan selatan Pulau Jawa.
Dodik juga menyatakan kesiapan FPN mendukung program pengembangan produksi garam di Malang Selatan sebagaimana menjadi salah satu agenda pembangunan Pemerintah Kabupaten Malang.
"Kami telah menyiapkan berbagai metodologi yang selama ini diterapkan oleh para petani garam binaan Formasy Praja Nusantara di Jawa Barat dan berharap dapat menjadi referensi dalam pengembangan produksi garam di Malang Selatan," ujarnya.
Rapat koordinasi tersebut juga melibatkan sejumlah tenaga ahli dari berbagai bidang, di antaranya Lukito Fauzi, auditor perusahaan dan perguruan tinggi yang memiliki pengalaman panjang di bidang perpajakan, serta H. Edi Suyanto, praktisi pertanian sekaligus mantan manajer area salah satu pabrik gula di Jawa Timur yang akan memperkuat jejaring pelaksanaan program di lapangan.
Sementara itu, Hassoyo Joko Pitono, Asisten Konstruksi Budaya dan Peradaban Nusantara DMN FPN, menegaskan bahwa setiap tahapan pembangunan harus tetap menjunjung tinggi etika budaya dengan mengedepankan tradisi "nyuwun sewu" kepada para sesepuh, tokoh masyarakat, dan pemangku kepentingan di Malang Selatan sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai luhur masyarakat.
Di sisi lain, Achmad Bauzer, Kepala Divisi Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam DMN FPN, menyampaikan bahwa pihaknya selama ini telah melakukan pendampingan terhadap kelompok petani pala di kawasan Malang Selatan sebagai bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat sekaligus penguatan ekonomi berbasis potensi lokal.
Melalui sinergi lintas sektor, Formasy Praja Nusantara berharap seluruh program strategis tersebut mampu menjadi fondasi pembangunan berkelanjutan menuju terwujudnya Megapolitan Malang Raya dan Koridor Selatan 2045 yang maju, mandiri, berdaya saing, serta tetap berpijak pada nilai-nilai budaya Nusantara.
Reporter: Riawan
Kaperwil MSRI Jawa Timur
Editor: Redaksi
dibaca

Posting Komentar
Hi Please, Do not Spam in Comments