Prabowo Dorong Kepemimpinan Teladan di TNI–Polri: Singgung Kemhan, Maung, hingga Pesan "Jangan Jarkoni"

Prabowo Dorong Kepemimpinan Teladan di TNI–Polri: Singgung Kemhan, Maung, hingga Pesan "Jangan Jarkoni"

MSRI, JAKARTA – Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menegaskan bahwa kemajuan kekuatan pertahanan nasional tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan alat utama sistem persenjataan (alutsista), tetapi juga oleh kualitas kepemimpinan yang mampu memberikan keteladanan kepada setiap prajurit.

Pesan tersebut disampaikan Presiden saat memimpin Panen Raya Serentak di Seluruh Indonesia Bersama TNI di Malang, Jawa Timur, Jumat (17/7/2026). Dalam kesempatan itu, Prabowo turut mengenang pengalamannya ketika menjabat sebagai Menteri Pertahanan (Menhan), termasuk proses awal penggunaan kendaraan taktis Maung produksi dalam negeri oleh TNI.

Dengan nada bercanda, Prabowo menyinggung hubungan kelembagaan antara Kementerian Pertahanan dan Kepolisian Republik Indonesia. Ia mengaku saat masih menjabat Menhan tidak memiliki kewenangan mengatur Polri.

"Saya waktu itu Menteri Pertahanan, jadi saya enggak bisa ngurus Polri, sorry. Polisi enggak mau di bawah Menteri Pertahanan sih," ujar Prabowo, disambut tawa para peserta, sebagaimana dikutip dari tayangan YouTube Sekretariat Presiden.

Prabowo kemudian menceritakan bahwa saat itu TNI dihadapkan pada dua pilihan kendaraan taktis, yakni produk impor dengan harga lebih murah atau kendaraan buatan anak bangsa yang harganya relatif lebih tinggi. Menurutnya, keputusan memilih produk dalam negeri merupakan investasi strategis untuk membangun kemandirian industri pertahanan nasional.

Ia mengaku lebih memilih kendaraan produksi nasional yang kemudian dikenal sebagai Maung, dengan pertimbangan bahwa Indonesia harus mampu memiliki kendaraan taktis hasil karya sendiri.

Beberapa tahun kemudian, kendaraan produksi PT Pindad (Persero) tersebut kini telah digunakan oleh para perwira TNI dan secara bertahap didistribusikan ke berbagai satuan kewilayahan. Meski demikian, Prabowo mengakui proses distribusi belum dapat dilakukan secara serentak hingga seluruh daerah.

Selain kendaraan taktis, Presiden juga menyampaikan bahwa personel Bintara Pembina Desa (Babinsa) mulai menggunakan sepeda motor listrik produksi dalam negeri untuk mendukung mobilitas tugas di lapangan. Menurutnya, perkembangan tersebut menjadi bukti meningkatnya kemampuan industri pertahanan nasional, termasuk dalam memproduksi berbagai peralatan strategis yang mampu bersaing di tingkat internasional.

Namun demikian, Prabowo menekankan bahwa secanggih apa pun perlengkapan yang dimiliki, keberhasilan sebuah institusi tetap sangat bergantung pada kualitas kepemimpinan.

Menurutnya, prajurit Indonesia memiliki potensi besar untuk berprestasi apabila dipimpin dengan baik, didukung peralatan yang memadai, memperoleh hak-haknya secara layak, serta terbebas dari praktik korupsi.

Menutup arahannya, Presiden mengingatkan para komandan, baik di lingkungan TNI maupun Polri, agar menjadi pemimpin yang mampu memberikan teladan nyata, bukan sekadar pandai memberikan instruksi.

Prabowo mengutip istilah Jawa "jarkoni"—iso ngajar nanging ora iso nglakoni (bisa mengajarkan tetapi tidak mampu melaksanakan)—sebagai pengingat agar setiap pemimpin tidak hanya mahir berbicara, melainkan juga menjadi contoh dalam tindakan.

"Tentara dan polisi Indonesia harus ing ngarsa sung tuladha, di depan memberi teladan," tegas Presiden.

Pernyataan tersebut sekaligus menegaskan pentingnya budaya kepemimpinan yang berintegritas sebagai fondasi dalam memperkuat profesionalisme TNI dan Polri, seiring upaya pemerintah membangun kemandirian industri pertahanan nasional.

{Redaksi MSRI}

Baca Juga

dibaca

Post a Comment

Hi Please, Do not Spam in Comments

Lebih baru Lebih lama