MSRI, SURABAYA – Nahdlatul Ulama (NU) akan menggelar Muktamar ke-35 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, pada 27–31 Agustus 2026. Forum permusyawaratan tertinggi organisasi Islam terbesar di Indonesia itu akan menjadi momentum strategis untuk memilih Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sekaligus menetapkan arah kebijakan organisasi pada masa khidmat berikutnya.
Pelaksanaan muktamar tersebut diperkirakan dihadiri ribuan peserta yang terdiri atas para ulama, pengurus wilayah, pengurus cabang, badan otonom, serta perwakilan warga nahdliyin dari berbagai daerah di Indonesia.
Secara historis, Muktamar NU merupakan forum tertinggi dalam organisasi sejak Nahdlatul Ulama didirikan pada 31 Januari 1926 (16 Rajab 1344 H) oleh para ulama, di antaranya Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy'ari. Melalui muktamar, NU menetapkan kebijakan strategis organisasi, memilih kepengurusan PBNU, serta merumuskan berbagai keputusan keagamaan dan kebangsaan. Jombang memiliki ikatan sejarah yang kuat dengan NU karena merupakan daerah kelahiran banyak ulama besar dan menjadi pusat perkembangan pesantren di Indonesia.
Allah SWT berfirman:
"...Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya..." (QS. An-Nisa' [4]: 58).
Ayat ini menjadi pengingat bahwa kepemimpinan adalah amanah yang harus diberikan kepada sosok yang memiliki integritas, kapasitas, dan tanggung jawab demi kemaslahatan umat.
Rasulullah SAW bersabda:
"Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya." (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis tersebut menegaskan bahwa kepemimpinan bukanlah kehormatan semata, melainkan amanah besar yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.
Pemimpin Redaksi Media Suara Rakyat Indonesia (MSRI), Slamet Pramono, yang akrab disapa Cak Bram, berharap Muktamar ke-35 NU dapat berlangsung dengan penuh kekeluargaan, mengedepankan musyawarah, serta menghasilkan kepemimpinan yang mampu menjaga persatuan organisasi.
"Muktamar NU bukan sekadar memilih Ketua Umum PBNU, tetapi menjadi momentum memperkuat ukhuwah dan menentukan arah perjuangan organisasi ke depan. Siapa pun yang nantinya dipercaya memimpin PBNU harus mampu mengemban amanah dengan baik, menjaga marwah Nahdlatul Ulama, merangkul seluruh elemen warga nahdliyin, serta terus berkontribusi bagi kemajuan umat, bangsa, dan negara," ujar Cak Bram dalam keterangannya, Rabu (22/7/2026).
Menurut Cak Bram, NU selama hampir satu abad telah menjadi salah satu pilar penting dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), memperkuat nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jamaah, serta membangun kehidupan berbangsa yang moderat dan toleran.
Ia juga mengajak seluruh warga nahdliyin untuk menjadikan Muktamar ke-35 sebagai ajang mempererat persaudaraan, bukan arena perpecahan akibat perbedaan pilihan.
"Perbedaan pandangan dalam demokrasi organisasi adalah hal yang wajar. Namun, persatuan, ukhuwah, dan kepentingan organisasi harus tetap berada di atas segala kepentingan lainnya. NU harus terus menjadi teladan dalam menjaga harmoni, persatuan, dan kebangsaan," tegasnya.
Muktamar ke-35 NU di Jombang diharapkan menghasilkan keputusan-keputusan strategis yang mampu memperkuat peran Nahdlatul Ulama dalam menghadapi dinamika sosial, keagamaan, pendidikan, ekonomi, dan kebangsaan, sekaligus melahirkan kepemimpinan yang amanah, visioner, dan diterima seluruh warga nahdliyin.
Media Suara Rakyat Indonesia (MSRI)
Perspektif • Akurat • Terpercaya
dibaca

Posting Komentar
Hi Please, Do not Spam in Comments