MSRI, SURABAYA - Malam ke-29 Ramadhan 1447 H bukan sekadar angka dalam hitungan kalender ibadah. Ia adalah penentu—apakah Ramadhan tahun ini benar-benar mengubah kita, atau hanya berlalu sebagai rutinitas tanpa makna.
Allah SWT telah menegaskan dalam Al-Qur’an:
“Lailatul Qadar itu lebih baik daripada seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 3).
Namun pertanyaannya, sudahkah kita benar-benar memburunya? Atau justru kita lebih sibuk dengan persiapan duniawi menjelang Hari Raya?
Realitas yang tak bisa dipungkiri, di penghujung Ramadhan, sebagian umat justru mulai “melemah”. Masjid yang sebelumnya penuh, perlahan mulai lengang. Ibadah yang awalnya khusyuk, berubah menjadi sekadar formalitas. Padahal, justru di malam-malam ganjil seperti malam ke-29 inilah peluang besar Lailatul Qadar terbuka lebar.
Rasulullah ï·º telah memberi teladan yang sangat tegas. Dalam riwayat Aisyah binti Abu Bakar RA:
“Rasulullah ï·º apabila memasuki sepuluh malam terakhir, beliau menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, dan bersungguh-sungguh dalam ibadah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Bandingkan dengan kondisi kita hari ini apakah semangat itu meningkat, atau justru menurun?
Para sahabat Nabi tidak pernah menganggap malam ke-29 sebagai “opsi terakhir”, melainkan bagian dari kesungguhan total. Umar bin Khattab dikenal menangis dalam panjangnya qiyamul lail, sementara Ali bin Abi Thalib menghidupkan malam dengan ibadah yang tak terputus. Bahkan Abdullah bin Mas'ud menegaskan bahwa siapa yang ingin mendapatkan Lailatul Qadar, hendaknya tidak melewatkan satu pun malam di akhir Ramadhan.
Pemimpin Redaksi Media Suara Rakyat Indonesia (MSRI), Slamet Pramono atau yang akrab disapa Bram, mengingatkan dengan nada tegas bahwa fenomena “kemunduran ibadah” di akhir Ramadhan adalah ironi yang berulang setiap tahun.
“Ini yang harus kita koreksi bersama. Jangan sampai Ramadhan hanya kuat di awal, tapi rapuh di akhir. Justru penentu kemenangan itu ada di detik-detik terakhir, termasuk malam ke-29 ini,” tegas Bram.
Lebih lanjut, Bram menilai bahwa umat Islam harus berani melakukan introspeksi mendalam.
“Kalau kita benar-benar memahami nilai Lailatul Qadar, tidak mungkin kita menyia-nyiakan malam ke-29. Ini bukan soal lelah atau tidak, tapi soal iman dan kesungguhan,” tambahnya.
Ramadhan sejatinya bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi tentang membentuk karakter takwa. Jika di penghujungnya kita justru lengah, maka patut dipertanyakan: apakah Ramadhan benar-benar membekas dalam diri kita?
Rasulullah ï·º bersabda:
“Barangsiapa yang menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
(HR. Bukhari dan Muslim).
Malam ke-29 adalah ujian terakhir apakah kita termasuk yang bersungguh-sungguh, atau yang menyesal setelah Ramadhan pergi.
Di titik ini, tidak ada lagi ruang untuk menunda. Tidak ada lagi alasan untuk lalai.
Perbanyak doa yang diajarkan Rasulullah ï·º:
“Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni”
Karena bisa jadi, malam ini adalah kesempatan terakhir kita. Dan jika kita gagal lagi, bukan Ramadhan yang merugimelainkan kita sendiri.
{Redaksi MSRI}
dibaca

Posting Komentar
Hi Please, Do not Spam in Comments