MSRI, SURABAYA - Perayaan Hari Raya Idul Fitri kerap menghadirkan dinamika di tengah masyarakat, termasuk kemungkinan perbedaan penetapan 1 Syawal antara pemerintah, Nahdlatul Ulama, dan Muhammadiyah. Perbedaan ini umumnya disebabkan oleh metode penentuan awal bulan Hijriah, yakni rukyat (pengamatan hilal) dan hisab (perhitungan astronomi).
Namun demikian, perbedaan tersebut sejatinya bukanlah sumber perpecahan, melainkan bagian dari kekayaan dalam kehidupan berbangsa dan beragama di Indonesia. Di tengah keberagaman yang telah menjadi jati diri bangsa, sikap saling menghormati dan menghargai menjadi fondasi utama dalam menjaga persatuan dan kesatuan.
Dalam Al-Qur'an, Allah SWT berfirman:
"Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai..." (QS. Ali Imran: 103).
Ayat ini menegaskan pentingnya persatuan di tengah perbedaan. Selain itu, Allah SWT juga berfirman:
"Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang... Maka berlomba-lombalah dalam kebaikan." (QS. Al-Ma'idah: 48).
Sementara itu, dalam hadits yang diriwayatkan oleh Nabi Muhammad SAW disebutkan:
"Berpuasalah kamu karena melihat hilal dan berbukalah kamu karena melihat hilal..." (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadits ini menjadi dasar adanya perbedaan metode dalam menentukan awal bulan Hijriah, yang pada akhirnya melahirkan perbedaan penetapan Idul Fitri.
Pemimpin Redaksi Media Suara Rakyat Indonesia (MSRI), Slamet Pramono yang akrab disapa Bram, menegaskan bahwa perbedaan dalam penetapan Idul Fitri adalah hal yang wajar dan tidak perlu dipertentangkan.
“Perbedaan antara pemerintah, Nahdlatul Ulama, dan Muhammadiyah merupakan cerminan kedewasaan umat dalam menyikapi ragam metode dan pandangan. Ini bukan alasan untuk terpecah, melainkan peluang untuk menunjukkan bahwa kita mampu hidup dalam perbedaan dengan tetap rukun,” ujarnya.
Lebih lanjut, Bram mengajak seluruh masyarakat untuk menjadikan momentum Idul Fitri sebagai sarana mempererat tali silaturahmi dan memperkuat ukhuwah.
“Kita adalah bangsa besar yang berdiri di atas keberagaman. Mari jadikan perbedaan ini sebagai kekuatan, bukan kelemahan. Idul Fitri bukan sekadar soal hari yang sama, tetapi tentang kembali kepada fitrah, saling memaafkan, dan menjaga persaudaraan,” tegasnya.
Sejumlah masyarakat yang ditemui wartawan Media Suara Rakyat Indonesia (MSRI) juga menyampaikan pandangan yang senada.
Mulyadi, seorang warga Surabaya, mengaku tidak mempermasalahkan adanya perbedaan hari raya.
“Yang terpenting adalah kebersamaan dan saling menghormati. Meski berbeda hari, kami tetap saling bersilaturahmi,” ujarnya.
Sementara itu, Vivi, warga Gresik, menilai perbedaan tersebut justru menjadi pelajaran penting dalam kehidupan bermasyarakat.
“Ini bukti bahwa kita bisa hidup rukun dalam perbedaan. Tidak perlu diperdebatkan, yang penting tetap menjaga persaudaraan,” katanya.
Hal serupa disampaikan Sukamad, yang menyebut bahwa Idul Fitri adalah momentum untuk mempererat hubungan sosial.
“Perbedaan bukan penghalang. Justru ini mengajarkan kita arti toleransi yang sesungguhnya,” ungkapnya.
Dengan berbagai pandangan yang ada, semangat persatuan tetap menjadi benang merah di tengah masyarakat. Idul Fitri bukan hanya tentang penetapan waktu, tetapi tentang nilai-nilai kebersamaan, kedamaian, dan saling memaafkan.
“Dalam perbedaan, kita tetap satu. Mari rayakan Idul Fitri dengan penuh kedamaian, saling menghormati, dan memperkuat nilai-nilai persatuan sebagai bangsa dan sebagai umat,” pungkas Bram.
Selamat Hari Raya Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin.
Reporter : Eka F. A
Editor : Redaksi MSRI
dibaca

Posting Komentar
Hi Please, Do not Spam in Comments