Oleh: Soejitno Irmim
MSRI, JAWA TIMUR - Sahabatku, Mencerdaskan bangsa bukan hanya berlangsung di ruang kelas, kampus, atau lembaga pendidikan formal. Di tengah masyarakat, ada proses pendidikan yang berjalan hampir setiap hari—sering kali tanpa sorotan, tanpa anggaran negara, dan tanpa tuntutan imbalan.
Salah satunya berlangsung di masjid-masjid di berbagai pelosok negeri melalui pengajian, tausiah, kajian keislaman, dan berbagai kegiatan pembinaan masyarakat.
Di balik kegiatan tersebut, ada para takmir masjid dan masyarakat yang bergerak secara sukarela. Mereka menyediakan tempat, mengundang ustaz atau narasumber, mengatur jadwal, menyiapkan perlengkapan, bahkan mengumpulkan biaya secara swadaya.
Tidak jarang semua itu dilakukan dengan kesederhanaan dan keterbatasan. Namun, keterbatasan tidak selalu menjadi alasan untuk berhenti. Mereka tetap berusaha agar kegiatan ilmu, pembinaan, dan silaturahmi terus berjalan.
Yang diberikan bukan sekadar tambahan pengetahuan agama. Lebih jauh, pengajian dan tausiah dapat menjadi ruang untuk membangun karakter, memperkuat akhlak, menanamkan kejujuran, mengendalikan hawa nafsu, menumbuhkan kepedulian sosial, serta mengingatkan manusia tentang tanggung jawabnya kepada Allah dan sesama.
Dengan demikian, kontribusi masjid tidak hanya menyentuh kecerdasan pikiran, tetapi juga berupaya membentuk manusia yang lebih baik dalam sikap dan perilakunya.
Jika mencerdaskan kehidupan bangsa merupakan salah satu amanat konstitusi, maka kontribusi masyarakat melalui masjid patut dilihat sebagai bagian dari energi sosial yang ikut menopang tujuan tersebut.
Negara tentu tidak mungkin bekerja sendirian. Ada keluarga, sekolah, perguruan tinggi, pesantren, organisasi kemasyarakatan, komunitas, dan masjid yang setiap hari ikut mengambil bagian dalam proses pembinaan manusia.
Menariknya, sebagian besar kegiatan tersebut tidak selalu digerakkan oleh kepentingan materi. Banyak takmir dan penggeraknya bekerja karena kesadaran, tanggung jawab, dan keikhlasan.
Mereka tidak menghitung berapa keuntungan yang diperoleh. Pamrihnya bukan kepada manusia, melainkan kepada Allah.
Karena itu, ada satu perenungan yang layak disampaikan kepada para pengambil keputusan:
Apakah kontribusi masyarakat seperti ini cukup hanya dibiarkan berjalan sendiri?
Tidak selalu harus dalam bentuk bantuan dana atau fasilitas. Apresiasi moral, perhatian, penghargaan, kemitraan, dan dukungan terhadap kegiatan pembinaan masyarakat pun dapat menjadi bentuk penghormatan terhadap kepedulian warga negara.
Sebab, masjid bukan hanya tempat ibadah ritual. Di banyak tempat, masjid telah menjadi ruang pembelajaran, pembentukan karakter, penguatan kepedulian sosial, dan pembinaan masyarakat.
Mungkin kontribusi itu tidak tercatat dalam laporan anggaran negara.
Mungkin pula nama para takmir dan penggeraknya tidak pernah masuk dalam daftar orang-orang yang dianggap berjasa.
Tetapi dampaknya hidup di tengah masyarakat.
Anak-anak belajar mengaji. Orang dewasa mendapatkan nasihat. Warga kembali diingatkan tentang kejujuran dan kepedulian. Silaturahmi terjaga. Dan nilai-nilai kebaikan terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Mereka bekerja dalam sunyi, dengan biaya sendiri, dan berharap balasan dari Allah.
Negara setidaknya jangan sampai tidak melihatnya.
Karena mencerdaskan bangsa bukan hanya tentang membangun gedung pendidikan, tetapi juga tentang merawat manusia yang hidup di dalamnya.
Dan di banyak tempat, pekerjaan itu sedang dilakukan oleh orang-orang sederhana di masjid-masjid—tanpa panggung, tanpa sorotan, dan tanpa meminta tepuk tangan.
Semoga menjadi inspirasi.
MSRI - Perspektif Akurat Terpercaya
dibaca

Posting Komentar
Hi Please, Do not Spam in Comments