MSRI, BARITO UTARA - Kabut asap yang melanda sejumlah wilayah di Kalimantan menjadi persoalan serius yang tidak hanya menyangkut kualitas udara, tetapi juga menyentuh langsung aspek keselamatan dan kesehatan masyarakat.
Di tengah kondisi tersebut, Dinas Kesehatan Kabupaten Barito Utara melalui Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2) mengambil langkah penguatan pengawasan dengan turun langsung melakukan supervisi ke jaringan pelayanan kesehatan di wilayah kerja Puskesmas se-Kabupaten Barito Utara.
Kunjungan kali ini menyasar Pustu dan Poskesdes di wilayah kerja Puskesmas Lampeong, Kecamatan Gunung Purei. Langkah tersebut menjadi penting karena fasilitas pelayanan kesehatan tingkat desa merupakan garda terdepan yang berhadapan langsung dengan masyarakat ketika gangguan kesehatan mulai muncul akibat kondisi lingkungan.
Ketua Tim Supervisi, H. Basirun, saat memberikan keterangan kepada wartawan MSRI, menegaskan bahwa jajaran Puskesmas tidak boleh menunggu persoalan kesehatan berkembang sebelum mengambil tindakan.
Menurutnya, Pustu dan Poskesdes harus memperkuat koordinasi dengan masyarakat, terutama dalam mendeteksi dan menangani dampak kesehatan akibat kabut asap.
“Pustu dan Poskesdes harus mampu bekerja sama dengan masyarakat dalam mengantisipasi dan menangani dampak kabut asap, terutama terhadap penyakit ISPA yang berpotensi meningkat,” tegas H. Basirun.
Perhatian khusus diarahkan pada Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Dalam situasi kabut asap, pemantauan kasus tidak cukup hanya mengandalkan laporan rutin. Petugas di lapangan dituntut memiliki kepekaan terhadap perubahan kondisi kesehatan masyarakat.
H. Basirun meminta setiap temuan kasus ISPA dicatat dan dilaporkan secara harian maupun mingguan kepada petugas surveilans Puskesmas.
Instruksi tersebut menjadi bagian penting dari sistem kewaspadaan dini. Data dari Pustu dan Poskesdes menjadi mata rantai awal untuk melihat perkembangan kasus di tingkat masyarakat sebelum persoalan berkembang lebih luas.
Bukan Hanya ISPA, Penyakit yang Bisa Dicegah Imunisasi Ikut Diawasi
Supervisi Dinkes Barito Utara juga menyoroti persoalan penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I).
H. Basirun meminta Puskesmas meningkatkan kecepatan respons apabila menemukan indikasi kasus. Menurutnya, kewaspadaan terhadap penyakit yang dapat dicegah melalui imunisasi harus tetap berjalan meskipun perhatian publik sedang tertuju pada persoalan kabut asap.
Hal ini menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan tidak boleh terjebak pada penanganan satu persoalan saja. Ketika ancaman kesehatan muncul bersamaan, seluruh sistem pelayanan harus tetap bekerja secara terintegrasi.
Rahmat Yani: Sosialisasi Imunisasi Jangan Sekadar Formalitas
Pengelola Program Imunisasi Dinkes Barito Utara, Rahmat Yani, turut memberikan penekanan mengenai pentingnya memperkuat edukasi masyarakat.
Saat memberikan keterangan kepada wartawan MSRI, Rahmat Yani mendorong Puskesmas untuk lebih intensif menyosialisasikan manfaat imunisasi kepada seluruh lapisan masyarakat.
“Puskesmas harus lebih sering memberikan sosialisasi mengenai manfaat imunisasi kepada masyarakat agar angka penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi dapat ditekan,” ujar Rahmat Yani.
Ia juga menegaskan bahwa Pustu dan Poskesdes tidak boleh diposisikan sekadar sebagai perpanjangan administrasi Puskesmas. Jejaring tersebut harus benar-benar dilibatkan dalam kegiatan pelayanan dan program kesehatan.
Pelibatan petugas hingga tingkat desa dinilai penting untuk memperluas jangkauan edukasi, meningkatkan cakupan pelayanan, sekaligus mendukung pencapaian target kesehatan yang telah ditetapkan pemerintah melalui Kementerian Kesehatan.
Catatan Investigatif MSRI: Data Lapangan Menjadi Kunci
MSRI menilai, titik krusial dalam menghadapi dampak kabut asap bukan hanya pada seberapa cepat petugas turun ke lapangan, tetapi seberapa akurat kondisi masyarakat terpetakan.
Laporan kasus ISPA dari Pustu dan Poskesdes menjadi salah satu instrumen penting untuk melihat apakah dampak kabut asap benar-benar mengalami peningkatan atau tidak.
Karena itu, akurasi data, konsistensi pelaporan, kecepatan respons, serta keterbukaan informasi kesehatan masyarakat menjadi hal yang patut mendapat perhatian serius.
Jika terdapat peningkatan kasus, masyarakat membutuhkan informasi yang jelas mengenai langkah penanganan dan perlindungan kesehatan. Sebaliknya, apabila kondisi terkendali, data lapangan juga harus mampu memberikan gambaran objektif kepada publik.
Di sisi lain, program imunisasi juga tidak boleh kehilangan momentum. Capaian imunisasi harus benar-benar mencerminkan kondisi di lapangan, bukan sekadar angka administratif di atas kertas.
MSRI menegaskan, Pustu dan Poskesdes adalah mata dan telinga pelayanan kesehatan pemerintah di tingkat masyarakat. Karena itu, setiap laporan yang muncul dari lapangan harus ditindaklanjuti secara serius, terukur, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Kabut asap bukan sekadar persoalan pemandangan yang terganggu. Ketika kualitas udara memburuk dan masyarakat mulai mengalami gangguan kesehatan, maka negara dituntut hadir dengan sistem pengawasan yang kuat dan pelayanan kesehatan yang benar-benar bekerja.
Reporter: Mbah Mul
MSRI - Perspektif Akurat Terpercaya
dibaca

Posting Komentar
Hi Please, Do not Spam in Comments