Cak Bram Ingatkan Wartawan: Viral Bukan Ukuran Benar, Verifikasi Tetap Utama

Cak Bram Ingatkan Wartawan: Viral Bukan Ukuran Benar, Verifikasi Tetap Utama

MSRI, SURABAYA - Pemimpin Redaksi Media Suara Rakyat Indonesia (MSRI), Cak Bram, mengingatkan wartawan agar tidak menjadikan kecepatan dan viralitas sebagai ukuran utama dalam menjalankan tugas jurnalistik.

Menurutnya, wartawan harus mengutamakan fakta, verifikasi, konfirmasi, serta tanggung jawab sebelum sebuah informasi dipublikasikan.

“Viral itu ukuran ramai, bukan ukuran benar,” ujar Cak Bram dalam obrolan bersama sejumlah wartawan di sebuah warung kopi.

Ia menegaskan, tugas wartawan tidak berhenti pada mencari informasi. Setiap informasi perlu diperiksa dan dikonfirmasi kepada pihak terkait sebelum menjadi berita.

“Bertanya itu pintunya. Setelah itu cari fakta, verifikasi, konfirmasi, baru menulis,” katanya.

Cak Bram juga mengingatkan wartawan agar tetap tenang ketika menghadapi narasumber yang keberatan atau marah saat dikonfirmasi.

“Jangan ikut marah. Jawab dengan data. Wartawan mengejar informasi, bukan mengejar orang untuk marah-marah,” ujarnya.

Terkait pemberitaan mengenai pejabat atau pihak yang tidak nyaman diberitakan, Cak Bram menilai pers harus tetap bekerja berdasarkan fakta dan kepentingan publik. Namun, kebebasan pers harus berjalan bersama tanggung jawab.

Jika terdapat keberatan atau kritik terhadap pemberitaan, menurutnya, wartawan harus membuka ruang untuk mendengar dan melakukan koreksi apabila memang terdapat kesalahan.

“Kalau kritiknya benar, perbaiki. Kalau tidak benar, jelaskan dengan fakta, bukan emosi,” katanya.

Wartawan Harus Terbuka terhadap Koreksi

Cak Bram menekankan bahwa koreksi bukan sesuatu yang perlu dianggap sebagai persoalan gengsi.

“Wartawan bisa salah. Yang tidak boleh adalah mempertahankan kesalahan hanya karena gengsi,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya memberikan ruang hak jawab dan hak koreksi sesuai ketentuan yang berlaku.

Selain ketelitian dalam pemberitaan, Cak Bram menyoroti pentingnya komunikasi dan koordinasi antara wartawan dengan redaksi.

“Wartawan boleh sibuk di lapangan, tetapi jangan menghilang. Kalau redaksi menghubungi, jawab. Kalau ada kendala, komunikasikan. Kalau ada persoalan, koordinasikan,” katanya.

Menurutnya, komunikasi dan koordinasi merupakan bagian dari profesionalisme kerja jurnalistik.

“Kerja jurnalistik itu kerja tim. Pena boleh tajam, tetapi komunikasi jangan tumpul,” tegasnya.

Keberanian Harus Disertai Verifikasi

Cak Bram juga mengingatkan agar keberanian wartawan tetap berada dalam koridor verifikasi dan etika jurnalistik.

“Jangan takut pada tekanan kalau berdiri di atas fakta. Tetapi jangan merasa kebal hanya karena membawa nama pers,” ujarnya.

Ia menggambarkan verifikasi sebagai “rem” dalam kerja jurnalistik.

“Mobil tanpa rem berbahaya. Wartawan tanpa verifikasi juga begitu,” katanya.

Menutup obrolan, Cak Bram menyampaikan pesan agar wartawan tetap berani mencari fakta, tidak malas melakukan konfirmasi, terbuka terhadap koreksi, serta menjaga komunikasi dan koordinasi.

“Kepala tetap jernih, pena tetap tajam, komunikasi tetap berjalan, koordinasi tetap kuat, dan integritas tetap menjadi pegangan,” tuturnya.

MSRI - Perspektif Akurat Terpercaya

Baca Juga

dibaca

Post a Comment

Hi Please, Do not Spam in Comments

Lebih baru Lebih lama