MSRI, SURABAYA - Setiap perjalanan memiliki awal, setiap amanah memiliki tanggung jawab, dan setiap langkah pada akhirnya akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Tuhan Yang Maha Esa. Atas dasar keyakinan tersebut, Slamet Pramono, yang akrab disapa Cak Bram, mendirikan sekaligus mengemban amanah sebagai Pendiri, Direktur Utama, dan Pemimpin Redaksi PT. Media Suara Rakyat Nasional - Media Suara Rakyat Indonesia (MSRI).
PT. Media Suara Rakyat Nasional dan Media Suara Rakyat Indonesia (MSRI) lahir pada 5 Juli 2024. Sejak tonggak kelahirannya hingga sekarang, MSRI terus tumbuh sebagai bagian dari ikhtiar membangun institusi pers yang menjunjung tinggi kebenaran, integritas, profesionalisme, akurasi, keberimbangan, dan kepentingan masyarakat.
Bagi Cak Bram, mendirikan sebuah media bukan semata-mata membangun perusahaan atau institusi pemberitaan. Pers adalah amanah moral sekaligus tanggung jawab sosial. Setiap berita membawa konsekuensi, setiap informasi harus memiliki dasar yang jelas, dan setiap fakta harus melalui proses verifikasi serta dapat dipertanggungjawabkan.
Karena itu, dalam menjalankan MSRI, Cak Bram memegang prinsip yang sederhana namun tegas:
“Kita tidak mencari musuh. Kita mencari fakta.”
Bagi dirinya, keberanian dalam jurnalistik bukanlah keberanian untuk menuduh, menghakimi, ataupun mencari kesalahan seseorang. Keberanian adalah berdiri teguh di atas fakta, melakukan verifikasi dan konfirmasi, memberikan ruang yang adil kepada pihak terkait, menghormati hukum dan Kode Etik Jurnalistik, serta menyampaikan informasi kepada masyarakat secara bertanggung jawab.
Di tengah derasnya arus informasi dan beragam kepentingan yang mengitari dunia pers, marwah jurnalistik harus tetap dijaga. Pers boleh kritis, tetapi tidak boleh kehilangan etika. Pers harus berani, tetapi tidak boleh mengabaikan fakta. Pers harus bebas, tetapi kebebasan harus berjalan bersama tanggung jawab.
MSRI dan Peran Pers sebagai Pilar Keempat
Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, pers dikenal sebagai salah satu pilar penting demokrasi atau kerap disebut sebagai pilar keempat, setelah eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Dalam posisi tersebut, pers memiliki tanggung jawab untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat, menjalankan fungsi kontrol sosial, sekaligus menjadi ruang komunikasi antara masyarakat dan berbagai pemangku kepentingan.
Atas dasar itu, MSRI berkomitmen menjalankan fungsi pers secara profesional, independen, konstruktif, dan bertanggung jawab, dengan tetap menjunjung tinggi fakta, verifikasi, keberimbangan, etika jurnalistik, serta kepentingan publik.
Dalam menjalankan fungsi tersebut, MSRI juga membangun sinergi dan kemitraan dengan TNI, POLRI, serta berbagai instansi pemerintah dan lembaga terkait, sepanjang tetap berada dalam koridor profesionalisme dan independensi pers.
Kemitraan tersebut dimaknai sebagai sinergi untuk memperkuat komunikasi publik, keterbukaan informasi, edukasi masyarakat, serta penyampaian informasi yang akurat kepada publik. Bukan berarti mengurangi independensi redaksi, melainkan membangun hubungan profesional yang saling menghormati antara insan pers dan institusi negara.
Pers tetap menjalankan fungsi kontrol sosial. Institusi tetap menjalankan tugas dan kewenangannya. Keduanya dapat bersinergi dalam kepentingan yang lebih besar, yaitu pelayanan informasi dan kepentingan masyarakat.
Bagi Cak Bram, hubungan baik dengan TNI, POLRI, pemerintah, maupun lembaga lainnya harus dibangun di atas saling menghormati, keterbukaan, komunikasi, dan profesionalisme, tanpa menghilangkan prinsip independensi jurnalistik.
Bagi Cak Bram, nama besar sebuah media tidak dibangun hanya dari banyaknya berita yang diterbitkan, melainkan dari seberapa kuat media tersebut menjaga kepercayaan masyarakat dan mempertanggungjawabkan setiap fakta yang disampaikannya.
Sejak 5 Juli 2024 hingga sekarang, perjalanan MSRI bukan sekadar perjalanan sebuah perusahaan media. Lebih dari itu, MSRI merupakan perjalanan sebuah amanah yang terus dijaga, diperjuangkan, dan dikembangkan bersama seluruh jajaran Direksi, redaksi, wartawan, kontributor, biro, koordinator wilayah, serta seluruh keluarga besar MSRI.
Atas perjalanan tersebut, Cak Bram menyampaikan penghargaan dan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada seluruh jajaran yang telah memberikan waktu, tenaga, pikiran, loyalitas, dedikasi, dan kebersamaan dalam membangun MSRI.
“Terima kasih kepada seluruh jajaran Direksi dan keluarga besar MSRI. Perjalanan ini bukan hasil kerja satu orang. Apa yang telah kita bangun adalah hasil dari kebersamaan, kepercayaan, loyalitas, dan perjuangan bersama.”
Cak Bram berharap seluruh keluarga besar MSRI senantiasa diberikan kekuatan, kesehatan, keberkahan, keteguhan hati, dan kemudahan dalam melanjutkan perjalanan. Ia berharap MSRI tidak hanya berkembang sebagai institusi media, tetapi juga semakin kuat dalam integritas, profesionalisme, kualitas jurnalistik, solidaritas organisasi, dan pengabdian kepada masyarakat.
Ke depan, MSRI diharapkan mampu menjadi rumah besar bagi insan pers yang bekerja dengan hati nurani, berpijak pada fakta, menjunjung tinggi etika, menghormati hukum, serta senantiasa mengutamakan kepentingan publik.
Berbeda tugas, satu tujuan.
Berbeda peran, satu perjuangan.
Bersama menjaga MSRI, bersama menjaga marwah pers.
Sebagai peneguhan atas seluruh perjalanan tersebut, Cak Bram memegang satu prinsip:
“Fakta Tidak Boleh Takut pada Tekanan.”
Prinsip tersebut bukan sekadar sebuah kalimat, melainkan komitmen untuk terus menjaga independensi, integritas, keberanian, dan kehormatan jurnalistik.
Sebab bagi Cak Bram, pers pada akhirnya bukan hanya tentang menulis dan memberitakan, tetapi tentang menjalankan amanah untuk menyampaikan kebenaran kepada masyarakat dengan penuh tanggung jawab di hadapan manusia dan di hadapan Tuhan Yang Maha Esa.
MSRI - “Perspektif Akurat Terpercaya.”
dibaca

Posting Komentar
Hi Please, Do not Spam in Comments