KKN UIN Tulungagung Dorong UMKM Tunggulsari Lebih Adaptif, Kenalkan KUR hingga Digitalisasi Usaha

KKN UIN Tulungagung Dorong UMKM Tunggulsari Lebih Adaptif, Kenalkan KUR hingga Digitalisasi Usaha

MSRI, TULUNGAGUNG – Penguatan ekonomi masyarakat berbasis Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menjadi perhatian mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung Tahun 2026.

Melalui Divisi Ekonomi, mahasiswa KKN menggelar sosialisasi Kredit Usaha Rakyat (KUR), penguatan UMKM, dan digitalisasi usaha di Balai Desa Tunggulsari, Kecamatan Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung, Sabtu (8/8/2026) sekitar pukul 15.30 WIB.

Kegiatan tersebut diikuti warga Desa Tunggulsari, pemerintah desa, tokoh masyarakat, serta mahasiswa KKN. Selain memberikan pemahaman mengenai akses pembiayaan, kegiatan juga menjadi ruang dialog untuk membahas berbagai tantangan yang dihadapi pelaku UMKM dalam mengembangkan usaha.

Materi disampaikan oleh Nur Awan, S.E., M.E., yang mengulas sejumlah aspek penting mulai dari posisi strategis UMKM dalam perekonomian, pemanfaatan teknologi digital, penggunaan QRIS, hingga akses pembiayaan melalui program KUR.

UMKM Dinilai Punya Peran Strategis dalam Ekonomi Masyarakat

Dalam pemaparannya, Nur Awan menjelaskan bahwa UMKM memiliki peran penting dalam menopang perekonomian nasional.

Menurutnya, keberadaan UMKM bukan hanya berkaitan dengan aktivitas perdagangan, tetapi juga berkontribusi terhadap penciptaan lapangan pekerjaan dan peningkatan kemandirian ekonomi masyarakat.

“UMKM merupakan backbone atau tulang punggung perekonomian Indonesia. Bahkan satu usaha kuliner seperti warung nasi saja bisa menyerap beberapa tenaga kerja,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan pelaku usaha agar tidak tertinggal oleh perkembangan teknologi.

Menurutnya, perubahan pola konsumsi masyarakat harus diikuti dengan kemampuan pelaku UMKM dalam memanfaatkan media sosial, marketplace, serta berbagai platform digital sebagai sarana promosi dan pemasaran.

Pemanfaatan teknologi, lanjutnya, dapat membantu pelaku usaha memperluas jangkauan pasar sekaligus memperkenalkan produk kepada konsumen di luar wilayahnya.

QRIS dan Digitalisasi Jadi Bagian dari Adaptasi UMKM

Selain pemasaran digital, penggunaan QRIS juga menjadi salah satu materi yang mendapat perhatian dalam kegiatan tersebut.

Sistem pembayaran digital dinilai dapat memberikan kemudahan bagi pelaku UMKM dalam menerima pembayaran sekaligus memberikan alternatif transaksi yang praktis bagi konsumen.

Digitalisasi tersebut diharapkan tidak sekadar menjadi tren, tetapi menjadi bagian dari strategi pelaku UMKM untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing usaha.

KUR Jadi Alternatif Akses Pembiayaan

Dalam sesi berikutnya, peserta mendapatkan penjelasan mengenai Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebagai salah satu alternatif pembiayaan bagi masyarakat yang membutuhkan tambahan modal untuk menjalankan maupun mengembangkan usaha.

Nur Awan menjelaskan bahwa pembiayaan usaha tidak hanya berkaitan dengan besarnya modal yang dibutuhkan, tetapi juga kesiapan calon debitur dalam memenuhi aspek kelayakan pembiayaan.

Ia kemudian menjelaskan prinsip 5C, yaitu Character, Capacity, Capital, Collateral, dan Condition, yang secara umum menjadi aspek yang diperhatikan dalam proses penilaian kredit.

“Bank tidak hanya melihat besar kecilnya usaha, tetapi juga melihat karakter, kemampuan membayar, modal, jaminan, serta kondisi usaha maupun kondisi ekonominya,” jelas Nur Awan.

Mahasiswa Soroti Persoalan Penolakan Pengajuan Kredit

Sesi sosialisasi semakin menarik ketika memasuki forum diskusi dan tanya jawab.

Aqil, salah satu mahasiswa peserta kegiatan, mempertanyakan kondisi pelaku UMKM yang telah memiliki usaha berjalan dengan baik dan dinilai layak, tetapi masih mengalami penolakan ketika mengajukan pembiayaan kepada bank.

“Bagaimana solusi bagi pelaku UMKM yang usahanya sudah berjalan dengan baik dan sebenarnya layak, tetapi ketika mengajukan pinjaman justru ditolak oleh pihak bank?” tanyanya.

Menanggapi hal tersebut, Nur Awan menjelaskan bahwa penolakan pengajuan pembiayaan tidak selalu berkaitan dengan kualitas atau kelayakan usaha.

Menurutnya, terdapat berbagai faktor yang dapat menjadi pertimbangan, termasuk riwayat kredit calon debitur.

“Bisa saja usahanya bagus, tetapi ketika dicek ternyata ada permasalahan pada riwayat kreditnya. Misalnya pernah menunggak atau ada penggunaan identitas oleh pihak lain. Karena itu, perlu dilihat dan ditelusuri terlebih dahulu track record-nya,” jelasnya.

Warga Dorong Kemudahan bagi Pelaku Usaha Kecil

Diskusi kemudian berkembang dengan pandangan dari Pangestu, yang menyoroti kondisi masyarakat yang membangun usaha secara mandiri dari bawah.

Menurutnya, pengembangan UMKM perlu melihat kondisi riil masyarakat, termasuk berbagai kewajiban dan tantangan ekonomi yang harus dihadapi para pelaku usaha.

“Kita memang harus melihat kondisi masyarakat yang berusaha dari bawah. Mereka membangun usahanya sendiri dan tentu berharap ada kemudahan untuk bisa berkembang,” ungkap Pangestu.

Berbagai pandangan tersebut kemudian menjadi bagian dari diskusi mengenai pentingnya membangun ekosistem usaha yang mampu memberikan ruang bagi masyarakat untuk bertumbuh secara mandiri.

KKN UIN Tulungagung Dorong UMKM Desa Naik Kelas

Melalui kegiatan tersebut, Divisi Ekonomi KKN UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung Tahun 2026 berharap masyarakat Desa Tunggulsari semakin memahami berbagai pilihan akses permodalan sekaligus mampu mengembangkan usaha secara lebih adaptif.

Tidak hanya soal modal, mahasiswa juga mendorong pelaku UMKM untuk memperkuat kualitas produk, meningkatkan kreativitas, memperluas pemasaran melalui platform digital, serta memanfaatkan sistem pembayaran non-tunai.

Kegiatan ditutup dengan penyerahan cendera mata kepada narasumber dan foto bersama yang melibatkan mahasiswa KKN, narasumber, pemerintah desa, tokoh masyarakat, serta peserta kegiatan.

Sosialisasi tersebut menjadi bagian dari kontribusi mahasiswa KKN UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung dalam membangun literasi ekonomi masyarakat sekaligus membuka ruang komunikasi mengenai tantangan dan peluang pengembangan UMKM di tingkat desa.

Reporter: Firnanda

Editor: Redaksi MSRI

Baca Juga

dibaca

Post a Comment

Hi Please, Do not Spam in Comments

Lebih baru Lebih lama