Muktamar NU 2026 Kian Dekat, Dinamika Kepemimpinan PBNU Menghangat, Gus Adi Sebut Nasaruddin Umar Layak Jadi Figur Pemersatu

Muktamar NU 2026 Kian Dekat, Dinamika Kepemimpinan PBNU Menghangat, Gus Adi Sebut Nasaruddin Umar Layak Jadi Figur Pemersatu

MSRI, JOMBANG – Menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang dijadwalkan berlangsung pada 27–31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, dinamika menjelang pemilihan kepemimpinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) semakin menghangat. Berbagai aspirasi dari kalangan kiai, pesantren, hingga warga Nahdliyin mulai mengemuka terkait sosok yang dinilai mampu menjaga marwah organisasi sekaligus memperkuat peran NU sebagai pilar Islam moderat dan perekat kebangsaan. Sabtu (11/7/2026).

Di tengah menguatnya berbagai nama yang diperbincangkan sebagai calon Ketua Umum PBNU, sejumlah tokoh menilai kepemimpinan NU ke depan tidak hanya membutuhkan kapasitas keilmuan dan pengalaman organisasi, tetapi juga figur yang mampu merangkul seluruh elemen Nahdliyin serta menjaga independensi organisasi dari kepentingan politik praktis.

Salah satu pandangan tersebut disampaikan H. Ahmad Silahuddin atau Gus Adi, tokoh asal Jombang sekaligus cucu pendiri NU, KH. Wahab Chasbullah, saat memberikan keterangan kepada wartawan Media Suara Rakyat Indonesia (MSRI).

Menurut Gus Adi, NU memerlukan pemimpin yang istiqamah menjaga nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja), menghormati amanah para masyayikh, serta mampu memperkuat persatuan warga Nahdliyin di tengah berbagai tantangan kebangsaan.

"NU membutuhkan sosok yang mampu menjadi perekat, menjaga independensi organisasi, serta membawa kemaslahatan bagi umat dan bangsa," ujarnya.

Ia menambahkan, kepengurusan PBNU mendatang harus memiliki orientasi yang jelas dalam memperkuat ukhuwah Islamiyah, meningkatkan kualitas pendidikan pesantren, memberdayakan ekonomi umat, serta mendorong kesejahteraan warga Nahdliyin.

Ketika ditanya mengenai figur yang dinilai memenuhi kriteria tersebut, Gus Adi menyebut nama Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, yang saat ini menjabat sebagai Menteri Agama Republik Indonesia.

Menurutnya, rekam jejak keilmuan, pengalaman memimpin berbagai lembaga keagamaan, serta kemampuan membangun komunikasi dengan berbagai kalangan menjadi modal penting untuk memimpin organisasi Islam terbesar di Indonesia.

Gus Adi juga menilai karakter kepemimpinan KH. Nasaruddin Umar yang moderat, tawadhu, toleran, dan dekat dengan para kiai sepuh merupakan nilai strategis dalam menjaga soliditas internal NU sekaligus memperkuat peran organisasi sebagai penjaga Islam rahmatan lil 'alamin.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa penentuan Ketua Umum PBNU sepenuhnya merupakan kewenangan forum Muktamar sesuai mekanisme organisasi yang diatur dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) Nahdlatul Ulama.

Muktamar ke-35 NU di Tambakberas dinilai bukan sekadar agenda pergantian kepemimpinan, melainkan momentum strategis dalam menentukan arah pengabdian NU ke depan, memperkuat peran pesantren, menjaga persatuan umat, serta memperkokoh kontribusi NU dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

{Cak Loem}

Baca Juga

dibaca

Post a Comment

Hi Please, Do not Spam in Comments

Lebih baru Lebih lama