![]() |
| Dok, foto MSRI: Slamet Pramono (Cak Bram) Direktur Utama/Pemimpin Redaksi Media Suara Rakyat Indonesia (MSRI). |
MSRI, SURABAYA - Politik sering kali dipersepsikan sebagai panggung yang hanya layak diisi oleh mereka yang telah lama berkecimpung di dalamnya. Di sisi lain, tidak sedikit masyarakat yang ragu untuk terjun ke dunia politik karena merasa belum memiliki pengalaman.
Padahal, pengalaman bukanlah satu-satunya tolok ukur untuk menjadi pemimpin yang berkualitas.
Yang jauh lebih penting adalah integritas, kapasitas, kemauan belajar, dan keberanian berpihak kepada kepentingan rakyat. Pengalaman memang dapat membentuk ketangguhan, tetapi tanpa kejujuran dan komitmen moral, pengalaman justru berpotensi kehilangan arah.
Sebaliknya, mereka yang baru memasuki dunia politik bukan berarti tidak memiliki kesempatan untuk memberikan perubahan. Dengan bekal pendidikan politik yang baik, kemampuan mendengar aspirasi masyarakat, serta semangat melayani tanpa pamrih, pendatang baru mampu menjadi energi positif bagi lahirnya kepemimpinan yang lebih segar dan responsif.
Politik Indonesia membutuhkan regenerasi yang sehat. Regenerasi bukan berarti menyingkirkan mereka yang senior, melainkan menciptakan ruang kolaborasi antara pengalaman dan gagasan baru. Pengalaman memberikan kebijaksanaan, sedangkan generasi baru menghadirkan inovasi dan semangat perubahan. Keduanya harus berjalan beriringan.
Sayangnya, masih ada pandangan bahwa politik hanya soal kekuasaan, popularitas, atau jabatan. Padahal, hakikat politik adalah amanah untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat. Ketika orientasi bergeser menjadi kepentingan pribadi atau kelompok, kepercayaan publik pun akan semakin terkikis.
Sebagai insan pers, Media Suara Rakyat Indonesia (MSRI) memandang bahwa demokrasi hanya akan tumbuh sehat apabila diisi oleh figur-figur yang menjunjung tinggi etika, transparansi, akuntabilitas, serta siap menerima kritik dari masyarakat dan media. Kritik bukan ancaman, melainkan bagian dari mekanisme demokrasi untuk memperbaiki kualitas kepemimpinan.
Saya meyakini bahwa tidak ada pemimpin yang langsung sempurna. Semua berproses. Namun proses itu harus dilandasi kejujuran, kerja keras, dan keberanian untuk terus belajar.
Seperti orang tua terdahulu sampaikan, "Jangan pernah merasa paling layak hanya karena memiliki pengalaman, dan jangan pernah menganggap diri tidak mampu hanya karena belum berpengalaman. Politik adalah ruang pengabdian. Selama seseorang memiliki integritas, kemauan belajar, serta keberpihakan kepada rakyat, maka kesempatan untuk menjadi pemimpin yang amanah akan selalu terbuka."
Sudah saatnya masyarakat tidak lagi menilai calon pemimpin semata-mata dari lamanya berpolitik. Yang lebih penting adalah rekam jejak, integritas, kompetensi, keberanian mengambil keputusan yang berpihak kepada rakyat, serta konsistensi antara ucapan dan tindakan.
Indonesia tidak kekurangan orang pintar. Indonesia membutuhkan lebih banyak pemimpin yang jujur, berani, rendah hati, dan siap bekerja. Sebab pada akhirnya, rakyat tidak membutuhkan pemimpin yang sekadar berpengalaman, melainkan pemimpin yang mampu menghadirkan keadilan, kesejahteraan, dan harapan bagi masa depan bangsa.
Oleh: Slamet Pramono (Cak Bram)
Direktur Utama/Pemimpin Redaksi Media Suara Rakyat Indonesia (MSRI)
dibaca

Posting Komentar
Hi Please, Do not Spam in Comments