MSRI, GRESIK – Ribuan jamaah dari berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara memadati Pondok Pesantren Internasional Al-Illiyin, Dusun Sumberwaru, Desa Sumberwaru, Kecamatan Wringinanom, Kabupaten Gresik, Sabtu malam (11/7/2026), untuk mengikuti Majelis Rutin Malam Ahad Tholabul Ilmi Jam'iyah Sholawat Ibrahimiyah yang dirangkai dengan pembacaan Maulid Simtudduror dan tausiyah spiritual oleh Abuya Ahmad Yani Iliyin, Mursyid Tunggal Jam'iyah Sholawat Ibrahimiyah sekaligus Pengasuh Ponpes Internasional Al-Illiyin.
Lantunan shalawat yang menggema sepanjang malam menciptakan suasana religius yang khidmat. Jamaah yang hadir tidak hanya berasal dari berbagai daerah di Jawa Timur, tetapi juga dari sejumlah provinsi lain bahkan Malaysia. Mereka datang dengan tujuan menimba ilmu agama, memperkuat kecintaan kepada Rasulullah SAW, serta mempererat hubungan spiritual dengan para ulama dan guru.
Dalam tausiyahnya, Abuya Ahmad Yani Iliyin menjelaskan keutamaan majelis ilmu (ta'lim) dibandingkan majelis dzikir dengan merujuk hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan Abdullah bin Amr. Rasulullah SAW, kata Abuya, pernah mendapati dua kelompok di masjid, yakni kelompok yang berdzikir dan kelompok yang belajar serta mengajarkan ilmu agama. Meski keduanya merupakan majelis yang baik, Rasulullah memilih duduk bersama majelis ilmu karena beliau diutus sebagai seorang pendidik.
"Majelis ilmu bukan hanya menyelamatkan diri sendiri, tetapi juga mampu menerangi kehidupan orang lain. Orang yang belajar kemudian mengajarkan ilmu kepada sesamanya akan menjadi sebab tersebarnya hidayah Allah di muka bumi," ujar Abuya.
Abuya mengingatkan bahwa kehidupan dunia hanyalah persinggahan sementara menuju kehidupan akhirat. Karena itu, menghadiri majelis ilmu secara istiqamah merupakan bekal terbaik dalam perjalanan menuju Allah SWT.
Menurutnya, setiap muslim tidak hanya membutuhkan orang tua sebagai pembimbing kehidupan dunia, tetapi juga memerlukan guru ruhani (Abi Ruhi) yang membimbing perjalanan spiritual menuju Allah SWT. Hubungan murid dengan guru, kata beliau, merupakan ikatan batin yang dibangun atas dasar adab, keikhlasan, dan sanad keilmuan.
Mengutip sabda Rasulullah SAW bahwa seseorang akan dikumpulkan bersama orang yang dicintainya, Abuya mengajak jamaah untuk mencintai para ulama dan orang-orang saleh serta istiqamah menghadiri majelis ilmu.
"Kalau kita senang berkumpul dengan orang-orang saleh di dunia, insya Allah nanti kita juga akan dikumpulkan bersama mereka di akhirat," tuturnya.
Abuya juga menegaskan bahwa menghadiri majelis ilmu merupakan salah satu bentuk amal jariyah yang pahalanya terus mengalir, bahkan setelah seseorang meninggal dunia.
"Apabila seseorang telah meninggal dunia, tetapi selama hidupnya istiqamah menghadiri majelis ilmu dan majelis itu tetap berjalan, maka pahala akan terus mengalir kepadanya di alam kubur. Inilah salah satu bentuk sedekah jariyah yang luar biasa," jelasnya.
Dalam kesempatan itu, Abuya mengingatkan pentingnya menjaga hubungan batin dengan guru yang membimbing menuju Allah SWT. Menurutnya, kecintaan kepada guru yang ikhlas dapat menjadi benteng bagi seseorang untuk menjauhi kemaksiatan.
Beliau juga mengingatkan masyarakat agar tidak belajar agama hanya melalui media sosial tanpa bimbingan guru yang memiliki sanad keilmuan yang jelas. Di era digital, menurutnya, banyak pemahaman agama yang beredar secara sepotong-sepotong sehingga berpotensi menimbulkan kesalahpahaman.
Selain itu, Abuya mendorong para orang tua untuk tidak ragu memasukkan anak-anaknya ke pondok pesantren. Menurutnya, pendidikan pesantren bukan hanya membentuk akhlak dan ilmu agama, tetapi juga menjadi investasi akhirat bagi keluarga.
"Menaruh anak di pondok pesantren sejatinya sedang menyiapkan mereka menuju surga, sekaligus menghadiahkan pahala yang terus mengalir bagi kedua orang tuanya," ungkapnya.
Menutup tausiyahnya, Abuya mengajak seluruh jamaah untuk terus menghidupkan budaya belajar sepanjang hayat melalui Majelis Tholabul Ilmi. Ia bersyukur karena majelis yang dahulu hanya dihadiri empat orang kini telah berkembang menjadi lautan jamaah yang datang dengan penuh kerinduan kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW.
"Majelis ini bukan milik pribadi, tetapi lahir dari keikhlasan jamaah yang ingin terus belajar, bershalawat, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Semoga Allah menjaga keistiqamahan kita semua, melapangkan rezeki, menjaga anak-anak kita, serta mengumpulkan kita bersama Rasulullah SAW dan orang-orang saleh di surga-Nya. Aamiin Ya Rabbal 'Alamin," pungkasnya.
Media Suara Rakyat Indonesia (MSRI) memandang antusiasme ribuan jamaah yang memadati Majelis Tholabul Ilmi menjadi bukti bahwa tradisi menuntut ilmu di lingkungan pesantren masih memiliki daya tarik dan peran strategis dalam membangun moral, karakter, serta ketahanan spiritual masyarakat. Di tengah derasnya arus informasi digital yang tidak seluruhnya memiliki dasar keilmuan yang kuat, majelis ilmu dengan bimbingan ulama yang memiliki sanad keilmuan tetap menjadi rujukan penting dalam membangun pemahaman Islam yang utuh, moderat, dan berakhlakul karimah.
Sebagai media yang mengusung slogan "Perspektif, Akurat, dan Terpercaya," MSRI berkomitmen menghadirkan pemberitaan yang tidak hanya mengawal isu hukum, pemerintahan, dan sosial kemasyarakatan, tetapi juga memberikan ruang bagi syiar Islam dan pendidikan sebagai bagian dari upaya membangun peradaban bangsa yang berilmu, berakhlak, serta menjunjung tinggi persatuan.
Reporter: Mulyadi Budi Santoso (Cak Loem)
Editor: Redaksi MSRI
dibaca


Posting Komentar
Hi Please, Do not Spam in Comments