MSRI, JOMBANG – Menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang dijadwalkan berlangsung pada 27–31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, dinamika menjelang forum permusyawaratan tertinggi organisasi Islam terbesar di Indonesia itu semakin menghangat. Selain perhatian publik tertuju pada proses pemilihan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), pembentukan Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) juga menjadi salah satu agenda yang menyita perhatian berbagai kalangan. Minggu (12/7/2026).
AHWA merupakan forum yang beranggotakan para ulama sepuh, kiai kharismatik, dan tokoh-tokoh yang memiliki kedalaman ilmu, integritas moral, kebijaksanaan, serta rekam jejak panjang dalam pengabdian kepada Nahdlatul Ulama. Keberadaan forum ini dipandang memiliki posisi strategis dalam menjaga marwah jam'iyah sekaligus memberikan pertimbangan dalam proses regenerasi kepemimpinan PBNU sesuai mekanisme yang diatur dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) NU.
Seiring semakin dekatnya pelaksanaan muktamar, sejumlah nama ulama nasional mulai ramai diperbincangkan sebagai kandidat kuat anggota AHWA. Mereka berasal dari berbagai daerah di Indonesia dan dikenal luas memiliki kontribusi besar dalam dunia pesantren, dakwah, pendidikan Islam, serta penguatan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah.
Adapun sembilan nama yang banyak disebut sebagai kandidat kuat anggota AHWA meliputi:
1. KH. Nurul Huda Jazuli
2. KH. Mustofa Bisri (Gus Mus)
3. KH. Anwar Manshur
4. KH. TGH Turmudzi Badruddin
5. KH. Ma'ruf Amin
6. KH. Miftachul Akhyar
7. KH. M. Hasib Wahab Hasbullah
8. KH. Ali Akbar Marbun
9. KH. Nasaruddin Umar
Masing-masing tokoh memiliki latar belakang keilmuan dan pengalaman yang berbeda, mulai dari pengasuh pesantren besar, ulama nasional, cendekiawan Muslim, hingga tokoh yang berperan dalam pengembangan pendidikan Islam, penguatan moderasi beragama, dan pembangunan kehidupan kebangsaan.
Salah seorang tokoh Nahdlatul Ulama yang mengikuti dinamika menjelang muktamar, saat memberikan keterangan kepada wartawan Media Suara Rakyat Indonesia (MSRI), menyampaikan bahwa proses pembentukan AHWA harus tetap berpedoman pada ketentuan organisasi, mengedepankan musyawarah, serta mengutamakan kemaslahatan jam'iyah di atas kepentingan kelompok maupun individu.
Pelaksanaan Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas diproyeksikan menjadi salah satu agenda organisasi keagamaan terbesar pada tahun 2026. Ribuan peserta yang terdiri dari pengurus wilayah, cabang, majelis, badan otonom, delegasi pesantren, serta tamu undangan dari berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara diperkirakan akan memadati Kota Santri, Jombang.
Jombang sendiri memiliki nilai historis yang sangat kuat bagi Nahdlatul Ulama. Daerah ini dikenal sebagai salah satu pusat lahirnya ulama-ulama besar Nusantara sekaligus episentrum perkembangan pesantren yang memiliki kontribusi penting dalam perjalanan sejarah berdirinya NU sejak tahun 1926.
Selain menjadi forum konsolidasi organisasi, Muktamar ke-35 NU diharapkan mampu melahirkan berbagai keputusan strategis terkait penguatan pendidikan pesantren, pemberdayaan ekonomi umat, transformasi digital organisasi, pengembangan dakwah Islam yang moderat, serta memperkuat peran NU dalam menjawab berbagai tantangan kebangsaan dan dinamika global.
Di tengah berbagai dinamika tersebut, proses pembentukan AHWA diperkirakan akan menjadi salah satu agenda yang paling menyedot perhatian peserta muktamar. Sebab, forum inilah yang diharapkan mampu menghadirkan kebijaksanaan kolektif para ulama dalam memberikan arah bagi proses regenerasi kepemimpinan PBNU secara arif, demokratis, dan sesuai dengan tradisi musyawarah Nahdlatul Ulama.
Meski sejumlah nama telah beredar luas di ruang publik sebagai kandidat kuat anggota AHWA, keputusan resmi mengenai susunan keanggotaan maupun mekanisme penetapannya tetap sepenuhnya menjadi kewenangan forum Muktamar ke-35 NU sesuai AD/ART organisasi dan hasil musyawarah para peserta yang memiliki hak dalam persidangan.
Dengan mengusung semangat ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah basyariyah, Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama diharapkan menjadi momentum memperkuat persatuan warga NU, memperkokoh komitmen kebangsaan, menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, serta melanjutkan perjuangan para muassis dalam mewujudkan Islam rahmatan lil 'alamin demi kemaslahatan umat, bangsa, dan negara.
Reporter: Cak Loem
dibaca

Posting Komentar
Hi Please, Do not Spam in Comments