Menjelang Muktamar ke-35 NU di Jombang, Konstelasi Bursa Calon Ketua Umum PBNU Kian Menghangat

Menjelang Muktamar ke-35 NU di Jombang, Konstelasi Bursa Calon Ketua Umum PBNU Kian Menghangat

MSRI, JOMBANG – Menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang dijadwalkan berlangsung di Kabupaten Jombang pada 27–31 Agustus 2026, dinamika bursa calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mulai menghangat dan menjadi perhatian luas masyarakat, khususnya warga Nahdliyin di berbagai daerah. Kamis (23/7/2026).

Muktamar ke-35 NU dipandang sebagai momentum strategis dalam menentukan arah kepemimpinan organisasi Islam terbesar di Indonesia untuk lima tahun ke depan. Selain memilih Ketua Umum PBNU, forum permusyawaratan tertinggi NU tersebut juga diharapkan menjadi ruang konsolidasi organisasi, memperkuat ukhuwah nahdliyah, menjaga tradisi keilmuan pesantren, serta merumuskan langkah-langkah strategis menghadapi tantangan kebangsaan dan perkembangan zaman.

Seiring semakin dekatnya waktu pelaksanaan Muktamar, sejumlah nama tokoh mulai diperbincangkan sebagai kandidat potensial. Mereka berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari kalangan pesantren, akademisi, organisasi kemasyarakatan, hingga jaringan struktural Nahdlatul Ulama.

Dalam konstelasi yang berkembang di ruang publik, nama KH Yahya Cholil Staquf dan Prof. KH Nasaruddin Umar turut menjadi perhatian. Selain itu, sejumlah tokoh lain juga disebut-sebut memiliki peluang untuk ikut dalam kontestasi kepemimpinan PBNU.

Dari kalangan tokoh yang memiliki pengalaman di bidang politik maupun organisasi, nama KH Imam Jazuli, KH Abdussalam Shohib, KH Yusuf Chudlori, KH Marzuki Mustamar, dan KH Zulfa Mustofa termasuk di antara figur yang kerap diperbincangkan. Mereka dinilai memiliki pengalaman kepemimpinan, jejaring yang luas, serta pengaruh di lingkungan Nahdlatul Ulama.

Sementara itu, dari unsur kepengurusan wilayah Nahdlatul Ulama, muncul pula nama KH Abd Ghaffar Rozin, KH Abd Hakim Mahfudz, dan KH Juhadi Muhammad. Munculnya berbagai nama tersebut mencerminkan bahwa dinamika menuju Muktamar berlangsung secara terbuka dan menunjukkan beragam aspirasi yang berkembang di tubuh organisasi.

Meski demikian, seluruh nama yang beredar hingga saat ini masih berada dalam ranah dinamika politik organisasi dan belum merupakan daftar resmi calon Ketua Umum PBNU. Penetapan calon maupun proses pemilihan nantinya tetap mengacu pada mekanisme organisasi sesuai Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), tata tertib Muktamar, serta hasil musyawarah para peserta yang memiliki hak suara.

Sebagai tuan rumah, Kabupaten Jombang memiliki makna historis yang sangat kuat dalam perjalanan Nahdlatul Ulama. Kehadiran sejumlah pesantren besar, termasuk kawasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, menjadi bagian penting dari sejarah lahir dan berkembangnya tradisi keilmuan serta perjuangan NU. Oleh karena itu, penyelenggaraan Muktamar ke-35 diperkirakan akan menjadi perhatian nasional.

Di sisi lain, berbagai kalangan berharap Muktamar kali ini mampu melahirkan kepemimpinan yang tidak hanya memiliki kapasitas keilmuan dan pengalaman organisasi, tetapi juga mampu menjaga persatuan, memperkuat marwah Nahdlatul Ulama, serta membawa organisasi semakin adaptif terhadap tantangan global tanpa meninggalkan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah.

Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Ali 'Imran ayat 103:

"Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai."

Rasulullah SAW juga bersabda:

"Mukmin yang satu dengan mukmin lainnya bagaikan satu bangunan yang saling menguatkan." (HR. Bukhari dan Muslim).

Nilai-nilai tersebut menjadi pengingat bahwa perbedaan pilihan dalam forum organisasi merupakan bagian dari proses demokrasi yang harus tetap dilandasi ukhuwah, adab, dan semangat persatuan.

Kini, perhatian warga Nahdliyin mulai tertuju pada proses konsolidasi menjelang Muktamar. Apakah akan mengerucut pada satu figur dengan dukungan mayoritas atau menghadirkan kompetisi yang sehat di antara sejumlah tokoh, seluruh jawabannya akan ditentukan melalui mekanisme organisasi dalam forum Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Jombang.

Reporter: Mulyadi Budi Santoso (Cak Loem)

Editor: Redaksi MSRI

Baca Juga

dibaca

Post a Comment

Hi Please, Do not Spam in Comments

Lebih baru Lebih lama