Jamaah Sholawat Ibrahimiyah Istiqomah Gelar Majelis Sabtu Malam Minggu, Menyelami Makna Tholabul Ilmi, Ziarah Wali, dan Hakikat Kematian dalam Perspektif Tasawuf

Jamaah Sholawat Ibrahimiyah Istiqomah Gelar Majelis Sabtu Malam Minggu, Menyelami Makna Tholabul Ilmi, Ziarah Wali, dan Hakikat Kematian dalam Perspektif Tasawuf

MSRI, WRINGINANOM-GRESIK – Suasana penuh kekhusyukan dan nuansa spiritual kembali menyelimuti kegiatan rutin Jamaah Sholawat Ibrahimiyah yang istiqomah dilaksanakan setiap Sabtu malam Minggu di Pondok Pesantren Internasional Al-Illiyin, Desa Sumberwaru, Kecamatan Wringinanom, Kabupaten Gresik, Sabtu (27/6/2026) malam.

Majelis yang menjadi wadah berkumpulnya para pecinta sholawat, santri, dan tokoh-tokoh Jam'iyyah Sholawat Ibrahimiyah Pondok Pesantren Internasional Al-Illiyin ini tidak hanya menjadi sarana mempererat ukhuwah Islamiyah, tetapi juga menjadi ruang pencarian ketenangan jiwa melalui dzikir, sholawat, tholabul ilmi, serta penguatan nilai-nilai spiritual Islam.

Dalam tausiyah yang disampaikan kepada jamaah, dijelaskan bahwa manusia sejatinya membutuhkan waktu-waktu khusus untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sebagaimana para nabi, para wali, dan para kekasih Allah pada masa lalu yang senantiasa meluangkan waktu untuk berinteraksi dengan Sang Pencipta melalui ibadah, munajat, dan tirakat yang istiqomah.

Menurut para ulama tasawuf, jejak spiritual para wali Allah tidak pernah terputus meskipun mereka telah meninggalkan dunia fana. Amal ibadah, keikhlasan, dan kedekatan mereka kepada Allah meninggalkan energi ruhani yang menjadi inspirasi bagi umat Islam yang datang berziarah dan mengenang perjuangan mereka dalam menegakkan agama Allah.

Dalam majelis tersebut juga disampaikan pentingnya tradisi silaturahim dan ziarah kepada para wali Allah. Dijelaskan bahwa bersilaturahim kepada para ulama dan wali yang masih hidup maupun yang telah wafat sama-sama memiliki nilai kebaikan yang besar di sisi Allah SWT, meskipun memiliki perbedaan dari sisi maqam spiritual.


Wali yang masih hidup masih memiliki keterikatan dengan urusan duniawi, keluarga, dan tanggung jawab kehidupan. Sedangkan para wali yang telah wafat telah terbebas dari seluruh urusan dunia dan sepenuhnya berada dalam rahmat serta kedekatan Allah SWT. Oleh sebab itu, umat Islam dianjurkan untuk mengirimkan doa, membaca Al-Fatihah, dan bershalawat ketika berziarah ke makam para wali sebagai bentuk penghormatan dan penyambung hubungan ruhani.

"Ketika kita berziarah kepada para wali Allah, sesungguhnya kita sedang belajar menghormati orang-orang yang telah menghabiskan hidupnya untuk Allah dan Rasul-Nya," ungkap penceramah di hadapan jamaah.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa alam kubur merupakan alam gaib yang tidak dapat dilihat oleh manusia biasa. Hanya para nabi dan hamba-hamba pilihan Allah yang diberikan karunia khusus untuk mengetahui sebagian rahasia alam tersebut. Rasulullah SAW sendiri merupakan manusia yang diberi kemampuan berkomunikasi dengan alam ruh atas izin Allah SWT.

Dalam kajian yang sarat dengan nilai tasawuf tersebut, jamaah diajak memahami bahwa kehidupan dunia hanyalah perjalanan sementara menuju kehidupan yang abadi. Oleh karena itu, setiap muslim hendaknya memperbanyak amal saleh, menuntut ilmu, dan memperbaiki hubungan dengan Allah SWT sebelum datangnya kematian.

Tema tentang kematian menjadi salah satu pembahasan yang paling menyentuh hati jamaah. Dijelaskan bahwa sakaratul maut merupakan fase yang pasti akan dialami oleh setiap manusia. Dalam berbagai kitab para ulama disebutkan bahwa beratnya sakaratul maut menjadi pengingat agar manusia tidak terlena dengan kenikmatan dunia.


Namun bagi orang-orang yang beriman, istiqomah dalam ibadah, dan senantiasa berada di jalan Allah, kematian bukanlah sesuatu yang menakutkan. Sebaliknya, kematian menjadi gerbang perjumpaan dengan kasih sayang Allah SWT.

Penceramah menegaskan bahwa seseorang yang wafat dalam keadaan membawa niat baik, menuntut ilmu agama, menghadiri majelis dzikir, majelis sholawat, atau berada dalam perjalanan menuju kebaikan akan memperoleh kemuliaan besar di sisi Allah SWT.

"Jangan pernah meremehkan langkah menuju majelis ilmu. Bisa jadi langkah itu menjadi sebab keselamatan seseorang di akhir hayatnya," pesan beliau.

Karena itu, kegiatan tholabul ilmi yang rutin dilaksanakan setiap Sabtu malam Minggu menjadi salah satu amalan yang sangat dianjurkan. Selain menambah wawasan keagamaan, majelis ilmu juga menjadi sarana membersihkan hati, memperkuat kecintaan kepada Rasulullah SAW, dan menyiapkan bekal menuju kehidupan akhirat.

Di penghujung majelis, jamaah diajak memperbanyak membaca sholawat kepada Nabi Muhammad SAW, salah satunya:

"Allahumma shalli 'ala Sayyidina Muhammad wa 'ala ali Sayyidina Muhammad."

Menurut para ulama, sholawat merupakan cahaya yang menerangi kehidupan, pembuka pintu rahmat, serta menjadi sebab terangkatnya berbagai kesulitan dan siksa bagi seorang mukmin.

Lantunan sholawat yang menggema dari seluruh jamaah malam itu menghadirkan suasana haru dan penuh kerinduan kepada Baginda Rasulullah SAW. Majelis pun ditutup dengan doa bersama, memohon agar seluruh jamaah senantiasa diberikan keistiqomahan dalam menuntut ilmu, menghidupkan sholawat, mencintai para wali Allah, serta memperoleh husnul khatimah ketika kelak dipanggil menghadap Sang Khalik.

Di tengah derasnya arus modernisasi dan perkembangan teknologi yang kian memengaruhi pola kehidupan masyarakat, keberadaan majelis ilmu dan sholawat seperti yang istiqomah digelar Jamaah Sholawat Ibrahimiyah menjadi oase spiritual yang menyejukkan. Kegiatan ini bukan sekadar rutinitas keagamaan, melainkan juga menjadi benteng moral dan ruang pembinaan karakter bagi masyarakat, khususnya generasi muda.

MSRI memandang, tradisi tholabul ilmi, dzikir, dan sholawat memiliki peran penting dalam menjaga nilai-nilai keislaman, mempererat ukhuwah, serta menumbuhkan kesadaran akan pentingnya mempersiapkan kehidupan akhirat tanpa mengabaikan tanggung jawab kehidupan dunia.

Pesan-pesan tentang hakikat kematian, keutamaan menuntut ilmu, dan pentingnya menghormati para ulama serta wali Allah menjadi pengingat bahwa manusia sejatinya memiliki keterbatasan dan membutuhkan kedekatan dengan Sang Pencipta. Oleh karena itu, majelis-majelis seperti ini patut mendapat perhatian dan dukungan dari seluruh elemen masyarakat sebagai bagian dari upaya membangun kehidupan yang lebih religius, damai, dan berakhlakul karimah.

Semangat istiqomah yang terus dijaga Jamaah Sholawat Ibrahimiyah menjadi bukti bahwa di tengah derasnya arus kehidupan modern, masih banyak umat yang merindukan kedamaian hati melalui majelis ilmu, dzikir, dan sholawat. Sebuah jalan ruhani yang telah diwariskan oleh para nabi, para wali, dan para ulama untuk mengantarkan manusia semakin dekat kepada Allah SWT.

{Cak Loem}

Baca Juga

dibaca

Post a Comment

Hi Please, Do not Spam in Comments

Lebih baru Lebih lama