MSRI, SURABAYA – Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kota Surabaya terus menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan solusi inovatif terhadap persoalan lingkungan. Salah satu terobosan yang kini tengah dikembangkan adalah teknologi pirolisis untuk mengolah sampah plastik di kawasan mangrove menjadi minyak bakar yang dapat dimanfaatkan oleh para nelayan.
Saat memberikan keterangan kepada wartawan Media Suara Rakyat Indonesia (MSRI), Kepala BRIDA Kota Surabaya, Agus Imam Sonhaji, menjelaskan bahwa persoalan sampah di kawasan mangrove tidak hanya berasal dari aliran sungai, tetapi juga terbawa arus laut ketika terjadi pasang.
Menurutnya, di saluran Kebon Agung sebenarnya telah dipasang screen penyaring sampah oleh Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Kota Surabaya. Namun, sampah plastik masih banyak ditemukan menumpuk di kawasan mangrove akibat terbawa gelombang laut dan tersangkut di akar-akar mangrove.
"Ternyata ketika pasang, justru laut membawa sampah masuk ke kawasan mangrove dan tersangkut di akar-akar napas mangrove," ujar Agus Imam kepada wartawan MSRI, Jumat (26/6/2026).
Agus mengungkapkan, kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri karena sebagian besar sampah sulit dijangkau dan diangkat dari sela-sela akar mangrove. Untuk itu, BRIDA menggagas kolaborasi dengan berbagai pihak, mulai dari perguruan tinggi, pelajar, hingga masyarakat untuk mengumpulkan sampah plastik yang sudah tidak memiliki nilai ekonomis.
"Kalau botol plastik masih memiliki nilai jual. Namun, plastik kresek yang rusak dan sampah plastik sejenis lainnya sudah tidak bernilai, padahal jumlahnya cukup banyak dan mengambang di kawasan mangrove. Sampah non-valuable inilah yang ingin kami kumpulkan," katanya.
Sampah plastik tersebut nantinya akan diolah melalui proses pirolisis hingga menghasilkan minyak bakar. Agus berharap, hasil pengolahan itu dapat dikembalikan kepada masyarakat pesisir, khususnya para nelayan, sebagai bahan bakar untuk operasional perahu mereka.
"Ketika nelayan tidak melaut, mereka bisa membantu mengumpulkan sampah plastik di kawasan mangrove. Sampah itu kemudian kami proses menjadi minyak bakar dan hasilnya dapat dimanfaatkan kembali oleh nelayan sebagai bahan bakar motor tempel," tuturnya.
Meski demikian, Agus mengakui pengembangan alat pirolisis tersebut masih menghadapi kendala pendanaan.
"Pengembangannya sudah hampir selesai, namun kami masih mencari dukungan pendanaan agar program ini dapat segera direalisasikan secara optimal," ujarnya.
Sementara itu, Sekretaris BRIDA Kota Surabaya, Mamik Suparmi, menjelaskan bahwa teknologi pirolisis difokuskan pada pengolahan sampah plastik yang selama ini sulit didaur ulang dan tidak memiliki nilai ekonomi.
"Botol plastik masih bisa dicacah dan didaur ulang karena memiliki nilai. Sedangkan plastik yang kualitasnya sudah buruk dan tidak berguna lagi, kami kumpulkan untuk diproses melalui pirolisis hingga menghasilkan minyak," jelas Mamik kepada wartawan MSRI.
Menurutnya, minyak hasil pirolisis tersebut nantinya dapat langsung dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif. Saat ini, BRIDA juga menjalin kerja sama dengan Fakultas Teknik (FT) dan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) untuk melakukan riset sekaligus menyempurnakan alat pirolisis tersebut.
Selain mengembangkan inovasi pengelolaan sampah mangrove, BRIDA juga membuka ruang kolaborasi riset melalui platform berbasis web BRIGHT (BRIDA Research, Internship Growth and Holistic Training).
Melalui platform tersebut, BRIDA memfasilitasi mahasiswa, dosen, peneliti, hingga masyarakat yang ingin melakukan riset, magang, maupun pengembangan inovasi dengan lokus di Kota Surabaya.
"BRIDA hadir sebagai wadah bagi lahirnya riset dan inovasi, termasuk bagi mahasiswa yang menjalani program magang. Dari riset dan kolaborasi tersebut diharapkan muncul ide-ide baru yang berkembang menjadi inovasi nyata dan bermanfaat bagi masyarakat," kata Mamik.
Ia menambahkan, sejumlah mahasiswa peserta magang telah berhasil menghasilkan berbagai inovasi yang dikembangkan bersama BRIDA dan didaftarkan sebagai Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Langkah tersebut diharapkan mampu meningkatkan daya saing para lulusan ketika memasuki dunia kerja.
"Ini sekaligus menjadi bekal bagi adik-adik mahasiswa agar memiliki kompetensi dan daya saing ketika nantinya terjun ke dunia kerja," pungkasnya.
Reporter : Eka F. A
Editor : Redaksi MSRI
dibaca

Posting Komentar
Hi Please, Do not Spam in Comments