![]() |
| Dok, foto: Semangat Kebangkitan Nasional Tak Lengkap Tanpa Kebangkitan Pers yang Jujur. Rabu, 20 Mei 2026. |
MSRI, TULUNGAGUNG – Hari Kebangkitan Nasional yang diperingati setiap 20 Mei menjadi pengingat bahwa persatuan bangsa lahir dari kesadaran dan keberanian menyampaikan kebenaran. Semangat yang sama kini dituntut hadir kembali dalam bentuk kebangkitan pers yang jujur, kritis, dan berpihak pada rakyat.
Pada 20 Mei 1908, para pemuda Indonesia memilih jalan perlawanan melalui pikiran dan organisasi. Boedi Oetomo menjadi simbol bahwa bangsa ini bisa bangkit bukan hanya dengan senjata, melainkan dengan tulisan, gagasan, dan informasi yang mencerdaskan.
Sejak masa pergerakan, pers telah menjadi pilar penting dalam menyebarluaskan semangat kemerdekaan. Tanpa pers, seruan persatuan hanya akan berhenti sebagai wacana di ruang tertutup. Tanpa pers, rakyat tak akan mengetahui apa yang terjadi di balik kebijakan kekuasaan.
Pimpinan Redaksi Media Suara Rakyat Indonesia (MSRI) Slamet Pramono yang lebih akrab disapa Bram menyampaikan, nilai kebangkitan nasional harus dimaknai lebih luas di era digital.
“Kebangkitan nasional hari ini bukan hanya soal pembangunan fisik, ekonomi, dan teknologi. Tapi juga tentang kebangkitan informasi yang bersih dari hoaks, tekanan, dan kepentingan sempit,” ujar Bram saat memberikan keterangan kepada wartawan MSRI, Rabu 20 Mei 2026.
Ia menegaskan, pers yang merdeka adalah syarat mutlak bagi bangsa yang merdeka. Masyarakat yang buta informasi akan mudah diarahkan dan dibohongi. Sebaliknya, masyarakat yang cerdas informasi akan mampu mengawal jalannya pemerintahan dan pembangunan.
Di tengah derasnya arus informasi, MSRI mengajak insan pers nasional untuk kembali pada semangat awal: berani, jujur, dan bertanggung jawab.
“Ketika pers bangkit, rakyat tercerahkan. Dan ketika rakyat tercerahkan, Indonesia benar-benar bangkit,” tegas Bram.
Peringatan Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 2026 menjadi momentum bagi seluruh elemen bangsa, termasuk insan pers, untuk meneguhkan kembali komitmen menjaga kebenaran dan kepentingan publik di atas segalanya.
Reporter: Roni Yuwantoko
Kaperwil Jawa Timur
Editor: Redaksi MSRI
dibaca

Posting Komentar
Hi Please, Do not Spam in Comments