MSRI, GRESIK - Suasana penuh khidmat dan religius menyelimuti kegiatan Haul ke-14 Almaghfurlah Romo KH. Syahiduddin dan Almarhumah Ibu Nyai Marsihin yang digelar di Pondok Pesantren Miftahul Ulum, Jalan Tlogobedah RT 08 RW 04, Desa Hulaan, Kecamatan Menganti, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, mulai pukul 19.00 WIB hingga selesai.
Kegiatan tersebut turut dihadiri unsur Muspika Kecamatan Menganti, Kepala Desa Hulaan beserta perangkat desa, Ketua RT dan RW setempat, tokoh agama, tokoh masyarakat, alim ulama, para santri, alumni pondok pesantren, serta ratusan warga yang memadati area pesantren dalam suasana penuh kekeluargaan dan kebersamaan.
Ratusan jamaah, santri, alumni, tokoh masyarakat, dan warga sekitar hadir untuk bersama-sama memanjatkan doa, tahlil, serta mengenang perjuangan dua sosok ulama yang telah mengabdikan hidupnya demi syiar Islam, pendidikan umat, dan pembentukan akhlakul karimah di tengah masyarakat.
Serangkaian acara berlangsung dengan lancar, tertib, dan penuh kekhusyukan. Kegiatan diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, dilanjutkan lantunan tahlil dan doa bersama. Suasana haru semakin terasa ketika para santri dan santriwati Pondok Pesantren Miftahul Ulum membacakan puisi religi dengan penuh penghayatan dan khusyuk, yang menyentuh hati para jamaah serta menghadirkan rasa rindu dan penghormatan kepada para pendiri pondok pesantren.
Dalam sambutannya, Ketua Yayasan Pondok Pesantren Miftahul Ulum, Gus Masduki, S.Pd.I, menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya haul ke-14 tersebut. Beliau juga mengenang sejarah perjuangan pondok pesantren pada masa awal berdiri yang penuh keterbatasan, namun tetap istiqamah menjadi pusat pendidikan agama dan pembinaan moral masyarakat.
“Pondok ini dibangun dengan perjuangan, keikhlasan, dan doa para masyayikh. Apa yang kita rasakan hari ini adalah buah dari kesabaran dan pengabdian beliau-beliau terdahulu,” ungkap Gus Masduki dalam sambutannya.
Sementara itu, Ketua Panitia kegiatan menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh jamaah, masyarakat, alumni, serta para pihak yang telah mendukung terselenggaranya acara haul sehingga dapat berjalan dengan aman, lancar, dan penuh keberkahan.
“Semoga kegiatan ini menjadi sarana mempererat silaturahmi, menambah kecintaan kepada ulama, serta menjadi pengingat bagi kita semua untuk terus menjaga nilai-nilai perjuangan para pendiri pondok,” ujarnya.
Dalam tausiyah agamanya, KH. Heru Sudjihanarto, S.Pd., Ketua MT Pusat PSW Jombang dari Pasuruan, menyampaikan bahwa manusia terbaik adalah mereka yang memiliki hati yang baik, akhlak yang mulia, rendah hati, serta mampu meninggalkan jejak kebaikan setelah wafat meninggalkan dunia.
Beliau juga mengingatkan para jamaah agar tidak memiliki sifat sombong dan senantiasa berprasangka baik kepada sesama manusia. Menurutnya, kesombongan dapat merusak hati, sedangkan prasangka baik akan menghadirkan ketenangan, persaudaraan, dan keberkahan dalam kehidupan.
“Jangan pernah berlaku sombong terhadap siapa pun, dan biasakanlah berprasangka baik kepada sesama. Karena orang yang hatinya dipenuhi kesombongan akan sulit menerima kebenaran, sedangkan orang yang berbaik sangka akan lebih mudah menjaga persaudaraan dan kedamaian,” tutur KH. Heru Sudjihanarto dalam tausiyahnya.
Beliau mencontohkan sosok Almaghfurlah Romo KH. Syahiduddin dan Almarhumah Ibu Nyai Marsihin sebagai pribadi yang semasa hidupnya istiqamah dalam berdakwah, mendidik santri, serta mengayomi masyarakat dengan penuh kasih sayang, kesederhanaan, dan ketulusan tanpa membeda-bedakan golongan.
Dalam ceramahnya, beliau juga menyampaikan firman Allah SWT:
“Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia karena sombong dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.”
(QS. Luqman: 18)
Serta firman Allah SWT lainnya:
“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa.” (QS. Al-Hujurat: 12)
Selain itu, beliau turut mengingatkan hadits Rasulullah SAW:
“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walau sebesar biji sawi.” (HR. Muslim)
Dan hadits Rasulullah SAW:
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad)
Beliau juga menyampaikan firman Allah SWT:
“Dan berbekallah kamu, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah: 197)
Menurut KH. Heru Sudjihanarto, keteladanan para ulama akan terus hidup melalui ilmu, doa, serta amal jariyah yang diwariskan kepada umat. Oleh sebab itu, haul bukan sekadar mengenang, melainkan juga menjadi sarana introspeksi diri untuk memperbaiki hati, memperkuat iman, serta meningkatkan kepedulian dan persaudaraan antar sesama.
“Tanda orang yang dicintai Allah adalah ketika wafatnya masih dikenang dalam doa dan kebaikannya tetap hidup di tengah masyarakat,” tutup beliau di hadapan para jamaah.
Acara kemudian ditutup dengan doa bersama yang dipanjatkan penuh khusyuk, memohon keberkahan, keselamatan, serta agar seluruh amal ibadah Almaghfurlah Romo KH. Syahiduddin dan Almarhumah Ibu Nyai Marsihin diterima Allah SWT dan ditempatkan di tempat terbaik di sisi-Nya.
{Eka F. A}
dibaca

Posting Komentar
Hi Please, Do not Spam in Comments