MSRI, SULAWESI UTARA – Sosok anggota kepolisian, Vicky Katiandagho, menjadi sorotan luas publik setelah mengambil keputusan yang dinilai tidak biasa: mengundurkan diri di tengah penugasan, usai dimutasi ketika tengah menangani dugaan kasus korupsi.
Vicky dikenal sebagai aparat yang memiliki rekam jejak keberanian dalam mengusut perkara-perkara sensitif, khususnya yang berkaitan dengan tindak pidana korupsi. Namun di tengah proses tersebut, ia justru mendapat mutasi ke penugasan lain. Keputusan itu memantik perhatian, terlebih setelah dirinya memilih tidak melanjutkan tugas baru dan mengakhiri masa pengabdiannya secara terhormat.
Momen perpisahan berlangsung sederhana di lingkungan Polda Sulawesi Utara, tanpa seremoni formal. Hanya ungkapan terima kasih yang tulus kepada rekan-rekan sejawat yang selama ini mendampingi perjalanan tugasnya.
Suasana haru menyelimuti prosesi tersebut, terlebih ketika Vicky menutup perjalanannya dengan bersujud sebuah gestur simbolik yang dimaknai sebagai bentuk refleksi, keikhlasan, serta keteguhan dalam mengambil sikap di tengah dinamika institusi.
Peristiwa yang terjadi pada Rabu (1/4/2026) itu dengan cepat menyebar dan viral di berbagai platform media sosial. Respons publik pun beragam, mulai dari apresiasi terhadap integritas hingga munculnya pertanyaan kritis terkait transparansi kebijakan internal yang melatarbelakangi mutasi tersebut.
Menanggapi fenomena ini, Pemimpin Redaksi Media Suara Rakyat Indonesia (MSRI), Slamet Pramono yang akrab disapa Bram, menegaskan bahwa peristiwa ini merupakan cerminan penting bagi penegakan nilai integritas di tubuh institusi penegak hukum.
“Apa yang dilakukan saudara Vicky Katiandagho bukan sekadar respons terhadap mutasi. Ini adalah representasi keberanian moral, integritas, serta komitmen terhadap prinsip penegakan hukum, khususnya dalam pemberantasan korupsi,” tegas Bram.
Lebih lanjut, Bram menekankan pentingnya keterbukaan institusi dalam merespons dinamika yang berkembang di ruang publik.
“Transparansi dan akuntabilitas adalah kunci dalam menjaga kepercayaan masyarakat. Institusi harus mampu memberikan penjelasan yang terbuka agar tidak memunculkan spekulasi yang berlarut,” tambahnya.
Alih-alih menjalankan penugasan baru, Vicky memilih menutup masa baktinya. Melalui unggahan video yang viral di akun Threads @folkkonoha pada Kamis (2/4/2026), ia menyampaikan pesan perpisahan yang sarat makna.
“Terima kasih Polda Sulut, Terima kasih Polres Minahasa, Terima kasih Polres Kepulauan Talaud. Kapanpun baju coklat ini bisa tanggal... tetapi jiwa, SEKALI BHAYANGKARA SELAMANYA BHAYANGKARA,” tulisnya.
Jejak Pengusutan Dugaan Korupsi
Berdasarkan penelusuran, Vicky merupakan sosok penyidik yang dikenal konsisten dan berintegritas dalam menangani perkara. Salah satu kasus yang sempat menjadi perhatian adalah dugaan korupsi yang melibatkan seorang calon legislatif (caleg) pada Pemilu 2024.
Dalam keterangannya pada 10 Februari 2024, ia menyebut bahwa penanganan kasus tersebut sempat dihentikan sementara guna menjaga stabilitas selama tahapan pemilu berlangsung.
“Ada satu kasus korupsi yang sedang ditangani namun dihentikan sementara waktu hingga pemilu usai. Yang sedang kita tangani berstatus caleg,” ungkapnya kala itu.
Profil Singkat
• Nama: Vicky Katiandagho
• Pangkat Terakhir: Ajun Inspektur Polisi Dua (Aipda)
Satuan: Polres Minahasa, Polda • Sulawesi Utara
• Angkatan: ZAZG
• Dikenal Karena: Integritas dan keberanian dalam mengusut kasus korupsi
Hingga saat ini, belum terdapat keterangan resmi dari pihak Polda Sulawesi Utara terkait alasan spesifik mutasi maupun pengunduran diri Vicky. Namun demikian, gelombang dukungan publik terus mengalir, menjadikan sosoknya sebagai simbol keteguhan prinsip di tengah kompleksitas birokrasi penegakan hukum.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa integritas bukan hanya soal posisi, melainkan tentang pilihan sikap bahkan ketika konsekuensinya adalah melepaskan atribut dan jabatan yang selama ini diemban.
{Redaksi MSRI}
dibaca

Posting Komentar
Hi Please, Do not Spam in Comments