Skandal Dapur MBG Montong Tangi: Anak SD Dicekoki Telur Setengah Matang dan Menu Tidak Sesuai Anggaran, Uang Negara Diduga Hilang di Dapur

Skandal Dapur MBG Montong Tangi: Anak SD Dicekoki Telur Setengah Matang dan Menu Tidak Sesuai Anggaran, Uang Negara Diduga Hilang di Dapur
Dok, foto: Skandal Dapur MBG Montong Tangi: Anak SD Dicekoki Telur Setengah Matang dan Menu Tidak Sesuai Anggaran, Uang Negara Diduga Hilang di Dapur. 

MSRI, LOMBOK TIMUR - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang pemerintah sebagai benteng ketahanan gizi anak sekolah justru berubah menjadi skandal memalukan di lapangan. Di Lombok Timur, khususnya di SDN 3 Lepak, sejumlah wali murid membongkar dugaan praktik dapur MBG yang dinilai jauh dari standar gizi, minim porsi, bahkan berpotensi membahayakan kesehatan anak-anak.

Sorotan paling tajam tertuju pada dapur pengelola MBG Dapur Bina Bangsa Nusantara yang beroperasi di Desa Montong Tangi. Dari dapur inilah diduga menu bermasalah tersebut diproduksi dan didistribusikan ke sekolah.

Temuan paling mengejutkan adalah telur rebus setengah matang yang dibagikan kepada siswa sekolah dasar.

Secara ilmiah, telur yang tidak dimasak sempurna dapat menjadi medium berkembangnya bakteri berbahaya seperti Salmonella, yang dikenal dapat memicu keracunan makanan, diare akut, hingga infeksi serius pada anak-anak.

Dalam konteks kesehatan masyarakat, penyajian telur setengah matang kepada siswa SD bukan sekadar kesalahan dapur, ini berpotensi menjadi kelalaian serius yang mengancam keselamatan anak-anak.

Skandal Dapur MBG Montong Tangi: Anak SD Dicekoki Telur Setengah Matang dan Menu Tidak Sesuai Anggaran, Uang Negara Diduga Hilang di Dapur
Perbandingan


Porsi Minim, Menu Diduga Tidak Layak

Keluhan wali murid tidak berhenti pada soal telur setengah matang. Mereka juga menyoroti porsi lauk yang dinilai sangat minim dan jauh dari konsep makan bergizi yang selama ini dipromosikan pemerintah.

Seorang wali murid yang ditemui saat menjemput anaknya mengungkapkan kekecewaan dengan nada geram.

“Manuk 5 gecok kodek-kodek kance kentang 4 gecok, terombok sik buak jeruk kodek-kodek, maik angen sak epe dapur ne.”

Keluhan tersebut menggambarkan kondisi menu yang diterima siswa: lauk sedikit, porsi kecil, dan kualitas yang jauh dari harapan.

Wali murid lain bahkan menduga nilai makanan yang diterima anak-anak tidak sebanding dengan anggaran program negara.

“Menu yang disajikan pernah juga mungkin tidak sampai baluk ribu pak, santer loek bati dapur niki pak.”

Jika dugaan ini benar, maka muncul pertanyaan serius:

ke mana sebenarnya anggaran program makan bergizi tersebut mengalir?

Skandal Dapur MBG Montong Tangi: Anak SD Dicekoki Telur Setengah Matang dan Menu Tidak Sesuai Anggaran, Uang Negara Diduga Hilang di Dapur


Telur Busuk Pernah Dibawa Pulang Anak

Keluhan yang lebih mengkhawatirkan datang dari seorang ibu yang mengaku anaknya pernah membawa pulang telur MBG yang sudah berbau busuk.

Tidak hanya itu, beberapa telur juga disebut tidak dimasak sempurna.

“Kembek telok ndek man masak sikn beng kanak pak, takut te beng kanak laun ye sikne sakit tian.”

"Wah jauk olek telok solah ruen laguk ye bais mambune Pak marak ambun telok sede"

Bagi banyak orang tua, kejadian ini bukan lagi sekadar persoalan kualitas makanan.

Ini sudah menyentuh wilayah keselamatan anak-anak di sekolah.

Bau Busuk Dapur Ganggu Lingkungan

Masalah dapur MBG di Montong Tangi ternyata tidak hanya dirasakan oleh siswa.

Warga sekitar dan petani yang melintas di kawasan dapur mengaku sering mencium bau busuk menyengat dari lokasi tersebut.

Seorang petani yang ditemui di sekitar lokasi mengatakan:

“Lelahte berembok pak sik bais lamun te liwat, ye bais leman dapur MBG jage pak.”

Informasi yang beredar di masyarakat bahkan menyebut dapur tersebut diduga belum memiliki Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).

Jika benar, maka operasional dapur tersebut berpotensi melanggar standar sanitasi lingkungan dan dapat mencemari kawasan sekitar.

Diduga Ada Selisih Anggaran Program Negara

Temuan-temuan ini memunculkan dugaan yang lebih serius:

adanya ketimpangan antara anggaran program MBG dengan kualitas makanan yang diterima siswa.

Program yang seharusnya meningkatkan kualitas gizi anak sekolah justru diduga berubah menjadi proyek dapur dengan pengawasan lemah.

Jika pengelolaan dapur dilakukan secara asal-asalan, maka bukan hanya kualitas makanan yang dipertanyakan, tetapi juga transparansi penggunaan anggaran negara.

Desakan Audit dan Evaluasi Total

Ketua Suara Rakyat Sakra Timur Foundation, Muh. Firdaus, mengecam keras dugaan kelalaian pengelola dapur tersebut.

Menurutnya, program makan bergizi tidak boleh berubah menjadi proyek yang mengorbankan kesehatan anak-anak.

Ia memastikan pihaknya akan membawa kasus ini ke Badan Gizi Nasional untuk dilakukan evaluasi menyeluruh.

“Program ini menggunakan uang negara dan menyangkut kesehatan anak-anak. Kalau sampai makanan yang disajikan tidak layak, bahkan berpotensi membahayakan, maka pengelolanya harus dimintai pertanggungjawaban secara serius.”

Alarm Bahaya Program MBG

Kasus dapur MBG di Lombok Timur kini menjadi alarm keras bagi pengawasan program makan bergizi di daerah.

Tanpa pengawasan ketat, program yang seharusnya menjadi penyelamat gizi anak bangsa berpotensi berubah menjadi skandal baru, mulai dari kualitas pangan, sanitasi dapur, hingga dugaan ketidaksesuaian penggunaan anggaran.

Kini publik menunggu langkah tegas pemerintah.

Karena bagi banyak orang tua, pertanyaannya sederhana namun menohok:

Apakah program makan bergizi ini benar-benar untuk anak-anak… atau hanya menjadi proyek dapur yang luput dari pengawasan?

{Tim-Red}

Baca Juga

dibaca

Post a Comment

Hi Please, Do not Spam in Comments

Lebih baru Lebih lama