MSRI, SURABAYA - Dalam dinamika kehidupan sosial, ada satu fenomena yang kerap terlihat dan sering dirasakan banyak orang: ketika seseorang memiliki kepentingan atau kebutuhan terhadap orang lain, respons yang diberikan biasanya menjadi jauh lebih cepat, bahkan terlihat sangat perhatian dan intens dalam berkomunikasi.
Hal ini bukan sekadar teori, tetapi sering terlihat langsung dalam berbagai aktivitas di tengah masyarakat, termasuk dalam perjalanan liputan jurnalistik di berbagai daerah.
Berdasarkan pengalaman melakukan liputan di sejumlah wilayah di Jawa Timur mulai dari kegiatan pemerintahan daerah, kegiatan organisasi masyarakat, hingga aksi sosial dan kegiatan Ramadhan fenomena tersebut kerap terlihat jelas.
Ketika suatu pihak membutuhkan dukungan, publikasi, atau perhatian dari media, komunikasi biasanya menjadi sangat aktif. Telepon cepat diangkat, pesan segera dibalas, bahkan hubungan terasa sangat hangat dan dekat.
Namun, setelah kegiatan selesai dan kepentingan tersebut telah terpenuhi, intensitas komunikasi sering kali mulai berkurang. Respons yang sebelumnya begitu cepat perlahan menjadi biasa saja, bahkan tidak jarang kembali seperti sebelum ada kebutuhan tersebut.
Pengalaman serupa juga kerap ditemui dalam berbagai kegiatan organisasi, kegiatan sosial kemasyarakatan, hingga agenda seremonial di berbagai daerah. Saat membutuhkan publikasi atau dukungan, hubungan terasa begitu dekat. Namun setelah kepentingan tersebut selesai, komunikasi pun sering kembali normal.
Pemimpin Redaksi Media Suara Rakyat Indonesia (MSRI), Slamet Pramono yang akrab disapa Bram, menilai fenomena tersebut merupakan bagian dari dinamika hubungan sosial yang sering terjadi di tengah masyarakat.
Menurut Bram, pengalaman di lapangan justru menjadi pelajaran penting bagi insan pers untuk memahami karakter manusia dalam berbagai situasi.
“Dalam perjalanan liputan di berbagai tempat, kami sering melihat bagaimana komunikasi bisa berubah tergantung kepentingannya. Ketika ada kebutuhan, hubungan terasa sangat dekat dan respons begitu cepat. Namun setelah kepentingan itu selesai, komunikasi kembali seperti biasa. Bagi kami sebagai jurnalis, itu menjadi pelajaran untuk lebih memahami dinamika manusia dalam kehidupan sosial,” ujar Bram.
Ia juga menambahkan bahwa dalam membangun hubungan yang baik, ketulusan dan rasa saling menghargai menjadi hal yang jauh lebih penting daripada sekadar hubungan yang muncul karena kepentingan sesaat.
“Hubungan yang dibangun karena kepentingan biasanya tidak bertahan lama. Tetapi hubungan yang dibangun dengan ketulusan, saling menghargai, dan kepercayaan akan tetap terjaga, baik ada kepentingan maupun tidak,” tambahnya.
Bagi insan pers, pengalaman-pengalaman seperti ini justru menjadi bagian dari perjalanan memahami kehidupan. Di balik setiap peristiwa yang diliput, selalu ada cerita tentang karakter manusia, tentang kepentingan, tentang kejujuran, dan tentang nilai persahabatan yang sejati.
Karena pada akhirnya, yang paling berharga bukanlah siapa yang datang ketika membutuhkan sesuatu, melainkan siapa yang tetap menjaga hubungan dengan tulus tanpa harus menunggu adanya kepentingan.
Reporter : Roni Yuwantoko
Editor : Redaksi MSRI
dibaca

Posting Komentar
Hi Please, Do not Spam in Comments