Orang Tua Adalah Surga dan Cahaya Kehidupan: Keteladanan Abadi Soewono–Sumami Mengalir dalam Doa dan Jejak Lima Putra-Putri


MSRI, SURABAYA – Dalam setiap lembar perjalanan hidup manusia, selalu ada sosok yang menjadi akar kekuatan dan sumber keteguhan. Sosok itu adalah orang tua mereka yang menghadirkan cinta tanpa syarat, pengorbanan tanpa batas, dan doa yang tak pernah terputus oleh waktu.

Demikianlah gambaran keteladanan yang terpancar dari pasangan suami-istri Soewono dan Sumami, yang dengan penuh keikhlasan telah membesarkan dan mendidik lima putra-putri dengan nilai-nilai luhur, keimanan, serta akhlak mulia.

Dalam tuntunan Ilahi, Allah SWT berfirman:

"Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya..." (QS. Luqman ayat 14)

Ayat tersebut menjadi landasan bahwa kemuliaan orang tua adalah bagian dari perintah suci yang wajib dijunjung tinggi. 

Soewono dan Sumami telah membuktikan, bahwa mendidik anak bukan sekadar kewajiban, melainkan ibadah yang sarat makna.

Dari rahim kasih dan didikan penuh hikmah, lahirlah lima putra-putri: Sri Wahyuningsih (Almarhumah), Eni Budi Handayani, Ari Supriyadi, Slamet Pramono (Bram), dan Dian Saputri yang kini masing-masing menapaki jalan kehidupan dengan membawa nilai-nilai yang telah diwariskan.

Orang Tua Adalah Surga dan Cahaya Kehidupan: Keteladanan Abadi Soewono–Sumami Mengalir dalam Doa dan Jejak Lima Putra-Putri


Rasulullah ﷺ bersabda:

"Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua, dan murka Allah tergantung pada murka orang tua."

(HR. Hadits Tirmidzi tentang ridha orang tua)

Pernyataan Putra-Putri

Almarhumah Sri Wahyuningsih, semasa hidupnya pernah menyampaikan:

“Bapak dan Ibu adalah segalanya bagi saya. Dari merekalah saya belajar arti kesabaran, keteguhan, dan keikhlasan. Saya hanya berharap dapat menjadi anak yang mampu membanggakan dan selalu mendoakan mereka.”

Eni Budi Handayani mengungkapkan:

“Didikan Bapak dan Ibu adalah bekal utama dalam hidup kami. Nilai kejujuran dan tanggung jawab yang mereka tanamkan menjadi pegangan kami dalam setiap langkah.”

Ari Supriyadi menambahkan:

“Ketegasan dan kasih sayang Bapak serta kelembutan Ibu adalah keseimbangan yang membentuk karakter kami. Kami belajar bahwa hidup harus dijalani dengan kesungguhan dan keimanan.”

Slamet Pramono (Bram) menyampaikan:

“Kami berdiri hari ini tidak lepas dari doa dan pengorbanan orang tua. Apa yang kami capai adalah bagian dari keberkahan doa mereka. Kami hanya ingin terus berbakti dan menjaga nama baik keluarga.”

Dian Saputri menuturkan dengan penuh haru:

“Bapak dan Ibu adalah rumah bagi kami. Dalam doa mereka, kami menemukan kekuatan. Dalam kasih mereka, kami menemukan arah kehidupan.

Sebagai penutup refleksi, sabda Rasulullah ﷺ menjadi pengingat abadi:

"Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya." (HR. Hadits Muslim tentang amal jariyah)

Keteladanan Soewono dan Sumami adalah bukti nyata bahwa cinta orang tua tak pernah lekang oleh waktu. Ia hidup dalam doa, tumbuh dalam akhlak anak-anaknya, dan mengalir sebagai amal jariyah yang tak terputus.

MSRI mencatat, keluarga ini menjadi gambaran bahwa kekuatan sebuah bangsa berawal dari ketahanan keluarga dari nilai, doa, dan kasih sayang yang diwariskan lintas generasi.

Penulis : Dian Saputri

Baca Juga

dibaca

Post a Comment

Hi Please, Do not Spam in Comments

Lebih baru Lebih lama