MSRI, SURABAYA – Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1946 kembali menjadi momentum sakral bagi umat Hindu, sekaligus refleksi universal bagi seluruh masyarakat Indonesia untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan dan melakukan introspeksi diri.
Nyepi yang berakar dari tradisi kalender Saka yang telah digunakan sejak tahun 78 Masehi di India kini berkembang menjadi bagian penting dari warisan spiritual dan budaya di Indonesia, khususnya di Bali. Perayaan ini tidak hanya sarat nilai religius, tetapi juga mengandung filosofi mendalam tentang keseimbangan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Rangkaian Nyepi diawali dengan ritual Melasti, dilanjutkan Tawur Kesanga, serta pawai ogoh-ogoh yang menjadi simbol pembersihan energi negatif. Puncaknya adalah pelaksanaan Catur Brata Penyepian, yakni tidak menyalakan api (amati geni), tidak bekerja (amati karya), tidak bepergian (amati lelungan), dan tidak menikmati hiburan (amati lelanguan).
Dalam keheningan total tersebut, masyarakat diajak untuk menyucikan diri, menenangkan pikiran, serta memperbaiki hubungan dengan Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan.
Jajaran Direksi PT. Media Suara Rakyat Nasional dan Media Suara Rakyat Indonesia (MSRI) turut menyampaikan ucapan:
“Selamat Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1946. Semoga damai dalam hening, terang dalam hati, dan harmoni dalam kehidupan.”
Pemimpin Redaksi Media Suara Rakyat Indonesia (MSRI), Slamet Pramono, yang akrab disapa Bram, menegaskan bahwa Nyepi bukan sekadar tradisi keagamaan, melainkan refleksi penting di tengah dinamika kehidupan modern.
“Di era yang serba cepat dan penuh distraksi, manusia sering kehilangan ruang untuk merenung. Nyepi mengajarkan kita arti diam yang bermakna sebuah kesempatan untuk mengevaluasi diri, memperbaiki niat, dan kembali pada nilai-nilai kemanusiaan,” ujar Bram.
Menurutnya, nilai keheningan dalam Nyepi sangat relevan untuk memperkuat kesadaran kolektif masyarakat Indonesia dalam menjaga persatuan di tengah keberagaman.
“Keheningan bukanlah kekosongan, melainkan ruang lahirnya kebijaksanaan. Dari Nyepi, kita belajar bahwa kedamaian sejati dimulai dari dalam diri, lalu menyebar menjadi harmoni sosial,” tambahnya.
Momentum Nyepi diharapkan tidak hanya menjadi perayaan seremonial, tetapi juga menjadi titik balik dalam membangun karakter bangsa yang lebih bijak, toleran, dan berimbang dalam menghadapi tantangan zaman.
{Redaksi MSRI}
dibaca

Posting Komentar
Hi Please, Do not Spam in Comments