Buka Puasa Berujung Petaka, Puluhan Santri Ponpes di Mojoagung Diduga Keracunan Massal, Pengawasan Pangan Dipertanyakan

Buka Puasa Berujung Petaka, Puluhan Santri Ponpes di Mojoagung Diduga Keracunan Massal, Pengawasan Pangan Dipertanyakan
Dok, foto: Buka Puasa Berujung Petaka, Puluhan Santri Ponpes di Mojoagung Diduga Keracunan Massal, Pengawasan Pangan Dipertanyakan. Kamis malam, (5/3/2026).

MSRI, JOMBANG - Suasana Ramadan yang seharusnya dipenuhi ketenangan dan ibadah justru berubah menjadi kepanikan di Pondok Pesantren Sholawat Darut Taubah, Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang. Puluhan santri dilaporkan mengalami dugaan keracunan massal usai menyantap hidangan berbuka puasa pada Kamis (5/3/2026) malam.

Peristiwa ini sontak menggemparkan lingkungan pondok. Beberapa menit setelah para santri menyelesaikan santapan berbuka, satu per satu mulai menunjukkan gejala yang mengkhawatirkan. Keluhan mual, pusing, muntah hingga kondisi lemas mendadak menyerang para santri.

Bahkan, beberapa di antaranya dilaporkan sempat kehilangan kesadaran.

Situasi yang semula tenang berubah menjadi panik. Para santri yang masih dalam kondisi sehat berupaya menolong teman-temannya dengan mengevakuasi korban ke pendopo pondok. Kondisi korban yang terus memburuk membuat pihak pondok akhirnya meminta bantuan medis. Ambulans pun berdatangan dan membawa para santri ke Instalasi Gawat Darurat RSU PKU Muhammadiyah Mojoagung untuk mendapatkan penanganan intensif.

Pantauan di lokasi rumah sakit menunjukkan suasana yang tidak biasa. Sejumlah ambulans terlihat berjejer di halaman rumah sakit, sementara tenaga medis bekerja cepat menangani para santri yang mengalami gejala keracunan. Beberapa korban tampak terbaring lemah di ruang perawatan, sementara keluarga dan pihak pondok menunggu dengan penuh kecemasan.


Di tengah situasi tersebut, sejumlah pejabat dan aparat juga terlihat mendatangi rumah sakit untuk memantau kondisi korban. Pengasuh Pondok Pesantren Sholawat Darut Taubah tampak mendampingi para santri, bersama jajaran Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang, Camat Mojoagung, serta aparat kepolisian dari Polsek dan Polres Jombang.

Menurut salah seorang santri bernama Khoirunisa menjelaskan saat ditanya awak media, mengungkapkan bahwa kejadian berlangsung sangat cepat setelah para santri berbuka puasa. Menurutnya, menu yang disajikan saat itu berupa nasi rawon yang disiapkan pihak pondok, ditambah paket makanan kering dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Setelah buka puasa, tidak lama kemudian ada yang mulai mual dan pusing. Beberapa bahkan sampai pingsan,” ungkapnya saat ditemui di RSU PKU Muhammadiyah Mojoagung.

Khoirunisa sendiri mengaku tidak ikut mengonsumsi makanan tersebut karena belum sempat berbuka bersama teman-temannya. Saat itu ia sedang mengikuti kegiatan di luar pondok dan baru kembali ketika para santri lain sudah selesai makan.

“Saya belum makan dari tadi. Waktu kembali, teman-teman sudah makan dan banyak yang mulai mual bahkan ada yang pingsan,” tuturnya.

Menurut keteranganya jumlah santri putri di pondok tersebut sekitar 34 orang, sementara santri putra lebih dari 30 orang. Tidak sedikit dari mereka yang akhirnya harus mendapatkan perawatan medis akibat gejala yang muncul secara bersamaan setelah berbuka.

Menu tambahan yang dikonsumsi para santri diketahui berasal dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disalurkan melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Desa Betek. Paket makanan tersebut berisi roti, susu, kacang, kurma, dan telur asin.

Namun hingga kini belum dapat dipastikan apakah makanan dari program tersebut, hidangan utama dari dapur pondok, atau faktor lain yang menjadi penyebab keracunan massal tersebut.

Peristiwa ini pun memunculkan tanda tanya besar mengenai sistem pengawasan keamanan pangan, khususnya pada distribusi makanan bagi lembaga pendidikan berbasis asrama seperti pondok pesantren.

Pasalnya, makanan yang dikonsumsi para santri seharusnya telah melalui proses pengolah Medistradistribusi yang aman serta memenuhi standar kesehatan.

Pihak Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang bersama aparat kepolisian kini dikabarkan tengah melakukan penyelidikan lebih lanjut, termasuk mengambil sampel makanan untuk dilakukan uji laboratorium. Langkah ini penting guna memastikan sumber penyebab keracunan sekaligus mencegah kejadian serupa terulang di kemudian hari.

Hingga berita ini diturunkan, puluhan santri masih menjalani perawatan medis di RSU PKU Muhammadiyah Mojoagung. Kondisi sebagian korban dilaporkan mulai berangsur stabil, meski tenaga medis masih terus melakukan pemantauan intensif.

Peristiwa ini menjadi pengingat serius bahwa pengawasan terhadap kualitas makanan terutama yang dikonsumsi secara massal tidak boleh dianggap remeh. Jika benar terjadi kelalaian dalam proses penyediaan atau distribusi pangan, maka bukan hanya kesehatan para santri yang dipertaruhkan, tetapi juga kepercayaan publik terhadap sistem pengawasan yang seharusnya menjamin keselamatan mereka.

Reporter : Cak Loem

Editor : Redaksi MSRI

Baca Juga

dibaca

Post a Comment

Hi Please, Do not Spam in Comments

Lebih baru Lebih lama