Refleksi Ramadhan Hari Keenam 1447 H/2026 M, MSRI Serukan Konsistensi Iman, Ujian Integritas, dan Kepedulian Sosial

Refleksi Ramadhan Hari Keenam 1447 H/2026 M, MSRI Serukan Konsistensi Iman, Ujian Integritas, dan Kepedulian Sosial


MSRI, SURABAYA - Selasa, 24 Februari 2026, umat Muslim telah menapaki hari keenam ibadah puasa Ramadan 1447 Hijriah. Waktu berjalan tanpa jeda, enam hari pun berlalu dalam irama sahur, puasa, dan berbuka yang silih berganti.

Namun di balik hitungan kalender itu, ada pertanyaan yang tak boleh luput dari perenungan: apakah kualitas iman turut bertumbuh seiring berjalannya hari, ataukah Ramadan hanya kita jalani sebatas rutinitas tahunan yang berulang?

Ramadan bukan agenda tahunan tanpa makna. Ia adalah panggilan perbaikan. 

Allah SWT telah menegaskan dalam Al-Qur’an:

“Yā ayyuhalladzīna āmanū kutiba ‘alaikumush-shiyāmu kamā kutiba ‘alalladzīna min qablikum la‘allakum tattaqūn.”

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

(QS. Al-Baqarah: 183).

Tujuannya jelas: takwa. Bukan pencitraan. Bukan formalitas. Bukan sekadar ramai di awal lalu lengang di akhir.

Sejarah mencatat, puasa Ramadan diwajibkan pada tahun ke-2 Hijriah. Di tahun yang sama, terjadi Perang Badar—momen pembuktian bahwa Ramadan adalah bulan kekuatan moral dan spiritual. Bahkan Al-Qur’an diturunkan di bulan ini (QS. Al-Baqarah: 185), menegaskan bahwa Ramadan adalah bulan petunjuk dan peradaban.

Pemimpin Redaksi Media Suara Rakyat Indonesia (MSRI) Slamet Pramono (Bram) menegaskan bahwa Ramadan harus dimaknai lebih dalam, bukan hanya sebagai ritual tahunan.

“Ramadan adalah ujian integritas. Orang yang benar puasanya akan jujur meski tidak diawasi, amanah meski tidak dipuji, dan tetap lurus meski ada peluang menyimpang. Jika Ramadan tidak melahirkan kejujuran sosial dan keberanian moral, maka ada yang perlu kita evaluasi,” tegasnya Bram.

Menurutnya, media juga memiliki tanggung jawab etik dalam mengawal nilai-nilai kebenaran selama Ramadan maupun setelahnya. “Puasa mengajarkan kontrol diri. Dan kontrol diri adalah fondasi dari kepemimpinan dan keadilan,” tambahnya.

Pesan Moral MSRI

Hari keenam adalah alarm konsistensi. Jangan biarkan Ramadan hanya kuat di awal, lalu melemah di pertengahan.

Puasa melatih disiplin tanpa pengawasan, kejujuran tanpa kamera, dan kepedulian tanpa publikasi. Di situlah nilai sejatinya.

Ramadan adalah madrasah perbaikan diri dan perbaikan sosial. Jika setelah Ramadan kita tetap menjaga lisan, tetap menolak yang batil, dan tetap berpihak pada kebenaran—maka itulah kemenangan yang sesungguhnya.

Jika Ramadan mampu membentuk pribadi yang jujur, peduli, dan berani berpihak pada kebenaran, maka di situlah letak kemenangan yang sesungguhnya.

Ramadan bukan hanya ibadah spiritual, tetapi juga panggilan moral dan sosial. Ia tentang menahan diri dari menjadi bagian dari masalah, dan memilih menjadi bagian dari solusi.

{Redaksi MSRI}

Baca Juga

dibaca

Post a Comment

Hi Please, Do not Spam in Comments

Lebih baru Lebih lama