Pedepokan Eyang Macan Putih Gelar Sedekah Bumi dan Rutinan Sabtu Pahing, Serukan Kerukunan Jelang Ramadan 1447 H

Pedepokan Eyang Macan Putih Gelar Sedekah Bumi dan Rutinan Sabtu Pahing, Serukan Kerukunan Jelang Ramadan 1447 H


MSRI, MOJOKERTO – Menjelang datangnya bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, Pedepokan Eyang Macan Putih menggelar kegiatan rutin Sabtu Pahing yang dirangkaikan dengan tradisi sedekah bumi, Sabtu (14/2/2026), di Jalan Pulu, Kelurahan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto, Jawa Timur.

Kegiatan yang sarat nilai spiritual dan budaya tersebut dipimpin langsung oleh pimpinan pedepokan, Gus Yudi. Dalam suasana khidmat dan penuh kebersamaan, beliau memberikan edukasi serta arahan kepada para santri, tokoh budaya, tokoh agama, dan masyarakat sekitar tentang pentingnya menjaga kerukunan umat beragama menjelang Ramadan.

Dalam sambutannya, Gus Yudi menegaskan bahwa momentum sedekah bumi dan rutinan Sabtu Pahing bukan sekadar tradisi, melainkan wahana mempererat silaturahmi serta memperkokoh persaudaraan lintas elemen masyarakat.

“Menjelang bulan suci Ramadan, mari kita tundukkan hati kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kita harus mampu merangkul satu sama lain dengan erat, menjaga kerukunan umat beragama, serta saling menghormati antar pemeluk agama demi keutuhan dan kedaulatan NKRI di bumi Pertiwi Nusantara,” ungkapnya.

Pedepokan Eyang Macan Putih Gelar Sedekah Bumi dan Rutinan Sabtu Pahing, Serukan Kerukunan Jelang Ramadan 1447 H


Ia juga menekankan bahwa sebagai umat beragama dan bagian dari bangsa Indonesia, menjaga persatuan adalah tanggung jawab bersama. Nilai-nilai spiritual yang hidup dalam tradisi sedekah bumi, menurutnya, menjadi jembatan harmonis antara budaya dan agama dalam merawat kebhinekaan.

Pedepokan Eyang Macan Putih secara konsisten merangkul tokoh budaya dan tokoh agama dalam setiap kegiatan sosial dan spiritualnya. Kehadiran Gus Yudi di tengah masyarakat dinilai mencerminkan sosok pemimpin berjiwa satria yang menjunjung tinggi nilai persaudaraan, toleransi, serta komitmen menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sementara itu, Media Suara Rakyat Indonesia (MSRI) menyatakan dukungan terhadap upaya pelestarian nilai-nilai budaya yang selaras dengan ajaran agama. Tradisi sedekah bumi dinilai sebagai warisan luhur yang perlu dijaga dan diwariskan kepada generasi penerus.

Pedepokan Eyang Macan Putih Gelar Sedekah Bumi dan Rutinan Sabtu Pahing, Serukan Kerukunan Jelang Ramadan 1447 H


Sejarah dan Nilai Filosofis Sedekah Bumi

Tradisi sedekah bumi merupakan warisan budaya masyarakat agraris Jawa yang telah berlangsung turun-temurun sejak masa kerajaan-kerajaan Nusantara, termasuk era kejayaan Kerajaan Majapahit yang berpusat di wilayah Mojokerto dan sekitarnya.

Pada masa lampau, sedekah bumi dilakukan sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen dan keselamatan desa. Masyarakat membawa hasil bumi seperti padi, buah-buahan, dan tumpeng sebagai simbol kemakmuran dan doa bersama agar terhindar dari marabahaya. Tradisi ini kemudian berakulturasi dengan nilai-nilai Islam, sehingga doa-doa yang dipanjatkan berorientasi pada tauhid dan rasa syukur kepada Allah SWT.

Adapun Sabtu Pahing dalam penanggalan Jawa memiliki makna spiritual tersendiri. Pahing sebagai salah satu pasaran dipercaya melambangkan kekuatan batin dan keteguhan niat. Karena itu, banyak komunitas spiritual Jawa memilih momentum tersebut untuk menggelar doa bersama, tirakat, serta penguatan nilai kebersamaan.

Di wilayah Mojokerto yang dikenal sebagai bumi Majapahit, tradisi sedekah bumi bukan hanya seremoni budaya, melainkan simbol harmonisasi antara adat, agama, dan nasionalisme. Warisan ini menjadi pengingat bahwa kearifan lokal dapat berjalan selaras dengan ajaran agama dalam menjaga persatuan bangsa.

Budaya yang dirawat hari ini diyakini akan menjadi fondasi karakter anak cucu bangsa di masa mendatang. Dengan menjaga nilai spiritualitas, toleransi, dan kearifan lokal, masyarakat Mojokerto diharapkan terus menjadi bagian dari penjaga harmoni dan kedaulatan NKRI di bumi Majapahit, Jawa Timur.

Reporter : Mbah Mul

Editor : Redaksi MSRI

Baca Juga

dibaca

Post a Comment

Hi Please, Do not Spam in Comments

Lebih baru Lebih lama