![]() |
| Dok, foto: Haul Syekh Abdul Qodir Al-Jailani dan Megengan Ramadan 1447 H, Ribuan Jamaah Semarakkan Malam Penuh Cahaya di Ponpes Internasional Al-Illiyin Gresik. Sabtu malam, 14 Februari 2026. |
Kegiatan yang terbuka untuk umum ini menghadirkan sejumlah ulama, habaib, dan masyayikh kharismatik dari berbagai kota, di antaranya Syekh Muhammad bin Faqih (Pamekasan), Tuan Guru KH Zhofarudin (Guru Udin) Samarinda, KH Muhammad Fauzi (Batu Ampar, Madura), serta Guru Jamaludin (Samarinda). Tuan rumah sekaligus pengasuh pesantren, Abuya KH Ahmad Yani Al-Illiyin, memimpin langsung rangkaian acara yang dimulai sejak ba’da Magrib hingga larut malam.
Momentum Spiritual Menyongsong Ramadan
Tradisi Megengan yang telah mengakar dalam kultur masyarakat Jawa dimaknai bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum muhasabah dan penyucian hati menjelang Ramadan. Dalam mau’izhah hasanahnya, Abuya KH Ahmad Yani menegaskan bahwa kecintaan kepada ulama dan auliya merupakan karunia cahaya (nur) dari Allah SWT.
“Cinta kepada para ulama, para habaib, dan orang-orang saleh bukan sekadar rasa. Itu adalah nur yang Allah tanamkan di dalam hati. Tidak semua orang diberi anugerah tersebut,” tuturnya di hadapan jamaah.
Beliau mengajak seluruh hadirin memperbanyak syukur, mempererat ukhuwah, dan memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, seraya berharap pertemuan malam itu dicatat sebagai amal saleh serta menjadi sebab dikumpulkannya seluruh jamaah bersama Rasulullah SAW di akhirat kelak.
Keteladanan Sultanul Auliya
Dalam tausiyah para masyayikh, disampaikan kemuliaan dan karamah Syekh Abdul Qodir Al-Jailani, yang dikenal sebagai Sultanul Auliya. Dikisahkan bagaimana beliau menunjukkan kebesaran Allah SWT melalui dakwah dan akhlaknya hingga mampu menyadarkan banyak manusia kembali ke jalan kebenaran.
Namun ditegaskan pula bahwa karamah terbesar bukanlah peristiwa luar biasa yang tampak secara kasat mata, melainkan kemampuan membimbing manusia untuk bertobat dan kembali kepada Allah SWT.
“Menyadarkan satu jiwa untuk bertobat kepada Allah, itu lebih besar nilainya daripada menghidupkan ratusan orang dari kubur,” kutipan hikmah yang disampaikan Abuya, merujuk pada ajaran Syekh Abdul Qodir Al-Jailani.
Pesan ini menegaskan bahwa dakwah, pendidikan, dan pembinaan akhlak adalah inti perjuangan para ulama sepanjang zaman.
Ilmu, Takwa, dan Silaturahmi
Guru Jamaludin dalam tausiyahnya menekankan pentingnya menuntut ilmu agama sebagai fondasi ketakwaan. Menurutnya, pakaian terbaik manusia adalah takwa, dan bahan bakunya adalah ilmu.
“Jika ingin menjadi hamba yang baik di sisi Allah, maka pahamilah agama. Ilmu adalah bekal menuju akhirat,” pesannya.
Sementara itu, KH Muhammad Fauzi mengingatkan pentingnya menjaga silaturahmi menjelang Ramadan. Ia menasihati jamaah agar membersihkan hati dari dendam dan permusuhan, sebab ibadah tanpa kelapangan hati dapat kehilangan nilai di sisi Allah SWT.
“Jangan sampai puasa kita tertolak karena memutus tali silaturahmi,” tegasnya.
Kebersamaan dan Harapan Keberkahan
Rangkaian acara yang diisi dengan pembacaan manaqib, doa bersama, serta ramah tamah dan hidangan megengan berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan. Sejumlah jamaah bahkan hadir dari luar Jawa Timur demi memperoleh keberkahan dan doa para masyayikh.
Doa-doa dipanjatkan agar seluruh yang hadir diberi kesehatan, umur panjang dalam ketaatan, serta dipertemukan kembali dengan Ramadan dalam keadaan iman yang sempurna. Panitia berharap kegiatan haul dan megengan ini tidak hanya menjadi agenda rutin tahunan, melainkan wasilah penguat ukhuwah Islamiyah serta peneguh kecintaan kepada Rasulullah SAW, para auliya, dan pewarisnya, para ulama.
Di penghujung acara, doa bersama dipanjatkan dengan haru:
“Pertemuan malam ini semoga bukan hanya di dunia. Semoga Allah SWT mengumpulkan kita kembali di akhirat bersama guru-guru kita dan Rasulullah SAW.”
Doa tersebut diaminkan ribuan jamaah, menutup malam penuh cahaya dan keberkahan di Gresik.
Reporter : Cak Loem
Editor : Redaksi MSRI
dibaca


Posting Komentar
Hi Please, Do not Spam in Comments