![]() |
| Dok, foto: Ruwatan Desa (Sedekah Bumi) Tempuran Sooko Mojokerto, Wujud Syukur, Pelestarian Tradisi, dan Guyub Rukun Warga. Minggu (8/2/2026). |
MSRI, MOJOKERTO - Pemerintah Desa Tempuran bersama seluruh elemen masyarakat menggelar Ruwatan Desa atau Sedekah Bumi pada Minggu, 8 Februari 2026, bertempat di Pepunden Desa Tempuran, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Kegiatan berlangsung khidmat, meriah, dan sarat makna sebagai wujud rasa syukur sekaligus penghormatan terhadap warisan budaya leluhur.
Ruwatan Desa atau Sedekah Bumi merupakan tradisi adat yang diwariskan secara turun-temurun oleh para sesepuh Desa Tempuran. Tradisi ini secara konsisten dilaksanakan sebagai pengingat bagi masyarakat untuk selalu mengenang jasa para leluhur, menjaga nilai kebersamaan, serta memperkuat persatuan dan kerukunan antarwarga.
Prosesi kegiatan diawali dengan hening cipta dan doa bersama, yang diikuti oleh masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, serta jajaran Pemerintah Desa Tempuran. Nuansa sakral dan kebersamaan terasa kuat, mencerminkan semangat guyub rukun yang masih terjaga dengan baik di tengah kehidupan masyarakat desa.
Salah satu warga Tempuran, Sutrisno (54), menyampaikan bahwa ruwatan desa bukan sekadar tradisi, tetapi juga menjadi sarana mempererat hubungan sosial antarwarga.
“Ruwatan desa ini sudah menjadi warisan leluhur. Selain bentuk rasa syukur, kegiatan ini membuat warga semakin rukun dan saling peduli,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Sri Wahyuni (47), warga sekitar Pepunden Desa Tempuran.
“Setiap tahun selalu kami tunggu. Selain doa bersama, juga ada hiburan rakyat yang mendidik dan menumbuhkan rasa kebersamaan,” katanya.
Melalui ruwatan desa ini, masyarakat memanjatkan doa agar diberikan keselamatan, keberkahan rezeki, serta ketenteraman hidup. Sedekah Bumi juga dimaknai sebagai ungkapan rasa syukur atas limpahan hasil bumi dan nikmat yang telah dianugerahkan oleh Allah SWT kepada masyarakat Desa Tempuran.
Kemeriahan acara semakin terasa dengan ditampilkannya pagelaran seni gamelan dan sinden bertema campursari, sebagai bagian dari upaya pelestarian seni budaya tradisional Jawa. Kegiatan ini direncanakan menjadi agenda rutin desa pada pelaksanaan ruwatan desa di tahun-tahun mendatang.
Kepala Desa Tempuran, Slamet, menegaskan bahwa ruwatan desa memiliki makna strategis dalam menjaga harmoni sosial dan kelestarian budaya.
“Ruwatan desa atau sedekah bumi ini adalah bentuk rasa syukur kepada Allah SWT sekaligus penghormatan kepada leluhur yang telah mewariskan nilai-nilai kebersamaan. Kami berharap tradisi ini terus dijaga dan dilestarikan oleh seluruh warga, terutama generasi muda,” tegasnya.
Ia menambahkan, Pemerintah Desa Tempuran berkomitmen untuk terus mendukung kegiatan adat dan budaya yang memperkuat persatuan masyarakat.
“Melalui ruwatan desa ini, kami ingin membangun kebersamaan, ketertiban, dan kerukunan sosial agar Desa Tempuran tetap aman, harmonis, dan berbudaya,” tambah Slamet.
Dalam mendukung kelancaran kegiatan, pasukan berbaju serba hitam turut dilibatkan untuk membantu pengaturan tamu dan menjaga ketertiban selama acara berlangsung. Pasukan ini merupakan bagian dari organisasi kemasyarakatan warga Desa Tempuran yang secara sukarela ikut berpartisipasi menyukseskan jalannya ruwatan desa.
Sementara itu, Pemimpin Redaksi Media Suara Rakyat Indonesia (MSRI), Bram melalui Kepala Biro Mojokerto, Mulyono, yang akrab disapa Mbah Mul, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut.
“Ruwatan desa atau sedekah bumi ini merupakan kekayaan budaya bangsa yang harus dijaga bersama. Tradisi seperti ini bukan hanya ritual, tetapi juga pendidikan sosial bagi masyarakat tentang gotong royong dan rasa syukur,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa MSRI akan terus berkomitmen mendukung pelestarian budaya lokal melalui pemberitaan yang edukatif dan berimbang.
“Media memiliki tanggung jawab moral untuk mengangkat kearifan lokal agar tetap hidup dan dikenal luas oleh masyarakat,” tegas Mbah Mul.
Melalui kegiatan Ruwatan Desa atau Sedekah Bumi ini, diharapkan seluruh masyarakat Desa Tempuran dapat terus menjaga dan melestarikan tradisi adat sebagai bagian dari identitas budaya lokal, sekaligus memperkokoh persaudaraan dan persatuan dalam kehidupan bermasyarakat.
Reporter : Mbah Mul
Editor : Redaksi MSRI
dibaca


Posting Komentar
Hi Please, Do not Spam in Comments