BRT Surabaya Raya Dirancang Miliki Jalur Khusus, Koridor Awal Waru–Tunjungan Masih Dikaji

BRT Surabaya Raya Dirancang Miliki Jalur Khusus, Koridor Awal Waru–Tunjungan Masih Dikaji

MSRI, SURABAYA – Pemerintah mulai mematangkan rencana pengembangan Bus Rapid Transit (BRT) Surabaya Raya yang akan menghubungkan Kabupaten Sidoarjo dengan Kota Surabaya. Salah satu konsep utama yang disiapkan adalah penggunaan jalur khusus terpisah dari lalu lintas kendaraan pribadi, guna mendukung kelancaran perjalanan dan meningkatkan kualitas layanan transportasi publik.

Meski demikian, proyek tersebut masih berada pada tahap awal perencanaan. Pemerintah saat ini memprioritaskan penyusunan Detail Engineering Design (DED), yang mencakup pematangan rute, penentuan lokasi depo, kebutuhan infrastruktur pendukung, serta kajian teknis terhadap ruas jalan yang akan dilalui.

Dalam rencana awal, koridor pertama BRT akan menghubungkan kawasan Waru, Kabupaten Sidoarjo, dengan sejumlah ruas jalan di Surabaya hingga kawasan Tunjungan. Namun, penetapan rute secara definitif masih menunggu hasil survei dan penyelesaian desain teknis.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Surabaya, Trio Wahyu Bowo, mengatakan bahwa pihaknya telah melakukan pertemuan dengan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) untuk membahas sejumlah aspek teknis pengembangan BRT, termasuk rencana koridor pelayanan.

“Kami telah bertemu Kementerian Perhubungan untuk membahas sejumlah teknis BRT. Di antaranya rute koridor. Pada awalnya, ini nanti akan kami melakukan survei dahulu dan sebagainya. Ini masih sangat awal karena untuk DED-nya pun baru akan dikerjakan,” kata Trio saat dikonfirmasi di Surabaya, Minggu (18/10/2026).

Rute Waru–Tunjungan Masih dalam Tahap Kajian

Ketua Tim Perencanaan dan Pengembangan Angkutan Dishub Surabaya, Sekar Satya Mayang Sari, menjelaskan bahwa pembahasan bersama Kemenhub saat ini berfokus pada penyelesaian DED, termasuk kepastian jalur, lokasi depo, dan kemungkinan pembangunan koridor layang atau elevated pada sejumlah titik.

Dalam skenario awal, pengembangan BRT direncanakan berlangsung dalam dua fase. Fase pertama akan menghubungkan Waru, Kabupaten Sidoarjo, dengan Surabaya melalui Jalan Ahmad Yani menuju kawasan Wonokromo.

Dari Wonokromo, terdapat beberapa alternatif jalur yang masih dipertimbangkan. Salah satunya melalui Jalan Diponegoro sebelum terhubung dengan koridor dari wilayah barat Surabaya.

Pemilihan jalur tersebut masih memerlukan kajian dengan mempertimbangkan kondisi kawasan, ketersediaan ruang jalan, kebutuhan konstruksi, serta karakteristik lingkungan yang dilintasi.

Jalan Diponegoro menjadi salah satu alternatif yang dikaji dibandingkan Jalan Darmo, mengingat sebagian kawasan Darmo bersinggungan dengan ruang terbuka hijau dan kawasan cagar budaya atau heritage.

“Saat ini masih akan dibahas, apakah akan melewati Darmo atau Diponegoro,” katanya.

Sementara itu, koridor barat direncanakan berawal dari kawasan Universitas Negeri Surabaya (Unesa), kemudian melintasi Jalan HR Muhammad dan Jalan Mayjend Sungkono.

Rute selanjutnya direncanakan mengarah ke Jalan Indragiri untuk bertemu dengan koridor selatan di kawasan Jalan Dr. Soetomo.

Dari titik tersebut, jalur direncanakan berlanjut menuju Jalan Urip Sumoharjo. Alternatif melalui kawasan Keputran juga masih dikaji, termasuk kemungkinan pembangunan jalur layang di atas lahan milik Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS).

Dalam skenario yang dibahas, jalur layang dari kawasan Keputran akan turun menuju Jalan Basuki Rahmat. Perjalanan kemudian direncanakan berlanjut melalui jalur bawah hingga kawasan Tunjungan sebagai titik akhir fase pertama.

Sekar menegaskan bahwa seluruh rancangan tersebut belum menjadi keputusan final. Penetapan rute masih bergantung pada hasil kajian dan desain teknis, terutama pada ruas yang membutuhkan konstruksi layang maupun kawasan dengan keterbatasan ruang jalan.

“Jadi, kemarin itu lebih fokus untuk penyelesaian DED. Kepastian untuk lahan deponya, kemudian kepastian jalurnya. Dari Kementerian juga memastikan untuk beberapa koridor BRT yang elevated, meminta persetujuan dari Surabaya. Karena belum detail paparannya, nanti ada pembahasan lanjutan terkait jalur layang itu,” jelasnya.

Setelah fase pertama, pengembangan BRT direncanakan berlanjut ke wilayah Surabaya utara hingga kawasan Pelabuhan Tanjung Perak. Kendati demikian, rincian rute fase kedua belum dibahas secara mendalam.

Jalur Khusus dan Integrasi Angkutan Umum Jadi Perhatian

Salah satu karakteristik utama BRT Surabaya Raya yang direncanakan adalah penggunaan jalur khusus atau dedicated bus lane, terpisah dari arus kendaraan pribadi atau mixed traffic.

Konsep tersebut ditujukan untuk mengurangi ketergantungan operasional bus terhadap kondisi lalu lintas umum. Dengan jalur yang lebih terdedikasi, perjalanan diharapkan menjadi lebih terukur, sementara jarak kedatangan antarbus atau headway dapat diatur secara lebih konsisten.

Namun, target waktu tempuh, interval kedatangan, dan kapasitas angkut penumpang belum ditetapkan. Seluruh parameter tersebut masih perlu dihitung melalui proses perencanaan teknis.

Pemerintah Kota Surabaya juga merencanakan integrasi BRT dengan layanan angkutan umum yang telah beroperasi, termasuk Suroboyo Bus dan Wira-Wiri.

Integrasi tersebut akan dikaji agar jaringan transportasi publik saling terhubung, mengurangi potensi tumpang tindih rute, serta memberikan kemudahan bagi masyarakat dalam melanjutkan perjalanan antarkawasan.

“Jadi nanti semuanya, Suroboyo Bus dan Wira-Wiri, yang melewati koridor bisa masuk ke koridornya BRT. Usulan rutenya juga akan kami kaji lagi dan disesuaikan dengan rencana rute dari Pemkot Surabaya supaya terintegrasi,” ujarnya.

Selain jalur dan integrasi layanan, penyusunan DED juga mencakup penentuan lokasi depo serta kebutuhan fasilitas pendukung operasional armada.

Depo tersebut nantinya akan menjadi bagian penting dalam menunjang kesiapan kendaraan, pemeliharaan, dan kebutuhan operasional lainnya. Apabila penggunaan bus listrik direalisasikan, fasilitas pengisian daya juga perlu disiapkan di lokasi depo.

Rencana penggunaan bus listrik sendiri masih dalam tahap pembahasan dan belum ditetapkan secara final.

“Soal ini belum dimatangkan, namun dalam pembahasan juga dibahas bahwa untuk depo akan ditambahkan stasiun pengisian daya,” katanya.

Dari sisi kebutuhan lahan, sebagian besar jalur direncanakan memanfaatkan ruas jalan yang sudah tersedia. Jalur khusus berpotensi ditempatkan di bagian tengah atau median jalan, dengan penyesuaian berdasarkan kondisi masing-masing koridor.

Pada ruas yang memiliki keterbatasan lebar jalan atau tingkat kepadatan lalu lintas tinggi, seperti kawasan Indragiri, kebutuhan penanganan teknis akan menjadi bagian dari kajian perencanaan.

Desain tersebut juga harus memperhitungkan pelintasan sebidang, pengaturan arus kendaraan, dan kemungkinan penyesuaian lajur yang sudah ada. Hingga saat ini, lebar jalur khusus, kebutuhan lahan secara terperinci, serta lokasi pasti depo belum ditetapkan.

DED Ditargetkan Rampung Maret 2027, Jadwal Konstruksi Belum Pasti

Sekar menyampaikan bahwa penyusunan DED BRT Surabaya Raya, berdasarkan pembahasan terakhir, direncanakan berlangsung hingga Maret 2027.

Setelah dokumen tersebut rampung, tahapan selanjutnya akan bergantung pada proses pengusulan proyek, kesiapan pendanaan, serta mekanisme perencanaan pembangunan yang berlaku.

Menurut Sekar, salah satu skema pembiayaan yang berpotensi digunakan adalah pinjaman luar negeri. Setelah DED selesai, Kemenhub diperkirakan mengusulkan proyek tersebut agar dapat masuk dalam Blue Book Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), sebagai bagian dari proses perencanaan pendanaan.

Dengan demikian, rampungnya DED belum otomatis menandai dimulainya pembangunan fisik. Kepastian jadwal konstruksi masih menunggu tahapan lanjutan dan keputusan terkait pembiayaan.

Sekar juga menyampaikan bahwa Surabaya dipilih Kemenhub bersama sejumlah kota lain di Indonesia untuk pengembangan program BRT, di antaranya Bandung, Medan, dan Semarang.

Perspektif MSRI: Transportasi Modern Harus Berujung pada Manfaat Nyata

Rencana pengembangan BRT Surabaya Raya menjadi bagian dari upaya memperkuat layanan transportasi publik yang menghubungkan kawasan perkotaan dengan wilayah penyangganya. Namun, keberhasilan program ini nantinya tidak cukup diukur dari panjang koridor, kemegahan infrastruktur, atau penggunaan teknologi modern.

Hal yang tidak kalah penting adalah kepastian rute, keterjangkauan tarif, ketepatan waktu, keselamatan penumpang, kemudahan perpindahan moda, serta kemampuan layanan menjawab kebutuhan mobilitas masyarakat sehari-hari.

Pemerintah juga perlu memastikan bahwa pembangunan jalur khusus dan kemungkinan koridor layang dilakukan melalui kajian teknis yang matang, dengan memperhatikan kelancaran lalu lintas, keberadaan ruang terbuka hijau, kawasan bersejarah, serta dampaknya terhadap aktivitas warga dan pelaku usaha.

Bagi masyarakat Surabaya dan Sidoarjo, harapan utamanya sederhana: transportasi umum yang nyaman, aman, terjangkau, dan dapat diandalkan.

MSRI memandang, transparansi perencanaan dan keterbukaan informasi mengenai rute, pendanaan, jadwal pembangunan, serta target pelayanan perlu menjadi perhatian sejak tahap awal. Dengan perencanaan yang matang dan pelaksanaan yang terukur, BRT Surabaya Raya diharapkan tidak sekadar menjadi proyek infrastruktur, tetapi juga mampu memperkuat konektivitas wilayah dan meningkatkan kualitas mobilitas masyarakat.

Reporter: Faisal DH

Liputan MSRI Jawa Timur

MSRI - Perspektif Akurat Terpercaya

Baca Juga

dibaca

Post a Comment

Hi Please, Do not Spam in Comments

Lebih baru Lebih lama