Hampir Empat Tahun Dikeluhkan, Warga Pertanyakan Pengendalian Emisi dan Dampaknya terhadap Lingkungan
MSRI, MOJOKERTO – Persoalan dugaan pencemaran udara di sekitar PT Mana Jaya Makmur (MJM) kembali menjadi sorotan. Warga yang tinggal di sekitar kawasan pabrik mengaku masih menghadapi kepulan asap dan debu yang diduga berasal dari aktivitas produksi perusahaan.
Keluhan tersebut bukan disebut baru terjadi. Warga mengaku kondisi serupa telah mereka rasakan selama hampir empat tahun. Pada waktu tertentu, terutama malam hingga dini hari, kepulan asap disebut lebih pekat dan berpotensi masuk ke permukiman.
“Setiap jam 2 pagi asap paling tebal, seperti kabut hitam masuk ke rumah. Anak saya yang masih balita batuk tidak berhenti, mata perih. Jemuran baru dicuci langsung hitam lagi,” ungkap Siti (35), warga yang rumahnya berjarak sekitar 100 meter dari pabrik, Rabu (8/10/2026).
WARGA MINTA JANGAN SEKADAR JANJI
Warga mengaku telah menyampaikan keluhan kepada pihak perusahaan. Namun, menurut mereka, persoalan tersebut belum sepenuhnya terselesaikan.
Salah satu hal yang menjadi perhatian warga adalah janji pemasangan atau penggunaan alat penyaring/pengendali udara. Warga kini meminta bukti bahwa sistem pengendalian pencemaran udara tersebut benar-benar tersedia, berfungsi, dirawat, dan memenuhi standar yang dipersyaratkan.
Bagi warga, persoalannya bukan sekadar apakah asap terlihat hitam atau tidak. Mereka meminta adanya pemeriksaan teknis yang dapat menjawab apakah emisi dari kegiatan industri tersebut memenuhi baku mutu yang berlaku.
DLH DIMINTA TURUN, BUKAN HANYA MENERIMA LAPORAN
Mbah Edi Ganthol, yang menerima pengaduan warga, mendesak Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Tulungagung segera turun ke lokasi.
“Kami mendukung investasi, tetapi hak masyarakat atas lingkungan hidup yang baik dan sehat juga harus dihormati. Jangan hanya berdasarkan laporan atau klaim. Silakan diuji secara teknis. Kami meminta DLH melakukan pemeriksaan dan uji emisi cerobong,” tegasnya.
Menurutnya, pemeriksaan harus dilakukan secara objektif agar tidak ada pihak yang dirugikan.
Jika hasil pengujian menunjukkan emisi masih berada dalam ketentuan, hasil tersebut dapat menjadi kepastian bagi perusahaan sekaligus menjawab kekhawatiran masyarakat.
Sebaliknya, apabila ditemukan pelanggaran, pemerintah harus memastikan adanya langkah korektif dan pengawasan agar masyarakat tidak terus-menerus menjadi pihak yang menanggung dampaknya.
KESEHATAN WARGA JADI KEKHAWATIRAN
Warga juga mengaku khawatir terhadap kondisi kesehatan keluarga mereka. Keluhan seperti batuk, sesak napas dan iritasi mata disebut dirasakan oleh sebagian warga.
Namun demikian, keluhan kesehatan tersebut perlu dibuktikan melalui pemeriksaan medis dan tidak serta-merta dapat disimpulkan sebagai akibat langsung dari aktivitas pabrik tanpa pemeriksaan ilmiah.
Karena itu, warga berharap persoalan lingkungan dan kesehatan ini dapat diperiksa secara menyeluruh oleh instansi terkait.
PERTANYAAN BESAR YANG HARUS DIJAWAB
Kasus ini setidaknya menyisakan sejumlah pertanyaan publik:
-
Apakah emisi cerobong PT Mana Jaya Makmur telah diuji secara berkala?
-
Apakah hasil pengujian emisi memenuhi baku mutu yang dipersyaratkan?
-
Sistem pengendalian pencemaran udara apa yang digunakan perusahaan?
-
Apakah alat pengendali emisi tersebut berfungsi optimal selama kegiatan produksi?
-
Bagaimana hasil pengawasan DLH selama beberapa tahun terakhir?
-
Apakah pernah ditemukan pelanggaran atau teguran terkait emisi perusahaan?
-
Jika warga telah mengeluhkan persoalan ini selama hampir empat tahun, langkah konkret apa yang telah dilakukan pemerintah daerah?
-
Apakah akan dilakukan pengujian kualitas udara di sekitar permukiman warga, bukan hanya pemeriksaan terhadap cerobong?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting dijawab secara terbuka agar persoalan tidak berhenti pada pernyataan sepihak.
DLH JANJI TINDAK LANJUT
Kepala DLH Kabupaten Tulungagung, berdasarkan informasi yang diterima media ini, menyatakan akan menindaklanjuti laporan warga dengan melakukan pengecekan ke lapangan.
MSRI memandang langkah tersebut perlu dikawal secara transparan. Pemeriksaan sebaiknya tidak hanya melihat kondisi visual asap, tetapi juga didukung data teknis dan hasil pengujian yang dapat dipertanggungjawabkan.
PERUSAHAAN MASIH PUNYA RUANG KLARIFIKASI
Hingga berita ini diturunkan, pihak manajemen PT Mana Jaya Makmur belum memberikan keterangan resmi mengenai keluhan warga, dugaan kepulan asap hitam, maupun sistem pengendalian emisi yang digunakan.
MSRI membuka ruang seluas-luasnya bagi manajemen PT Mana Jaya Makmur untuk memberikan klarifikasi, data hasil uji emisi, maupun penjelasan mengenai langkah pengendalian pencemaran udara yang telah dilakukan.
Sebab, persoalan ini bukan tentang menghentikan investasi. Ini tentang memastikan kegiatan industri tetap berjalan tanpa mengorbankan hak masyarakat untuk mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat.
MSRI – Perspektif Akurat Terpercaya
dibaca

Posting Komentar
Hi Please, Do not Spam in Comments