NGUNDUH WOHING PAKARTI

NGUNDUH WOHING PAKARTI

Oleh: Soejitno Irmim

MSRI, JAWA TIMUR - Ngunduh Wohing Pakarti adalah salah satu ungkapan dalam falsafah Jawa yang mengandung makna bahwa setiap manusia pada akhirnya akan memetik buah dari perbuatannya sendiri.

Apa yang ditanam, itulah yang akan dituai. Kebaikan melahirkan kebaikan, keadilan menumbuhkan kepercayaan, sementara kesewenang-wenangan dan ketidakadilan pada waktunya akan menghadirkan konsekuensi.

Dalam konteks kepemimpinan, falsafah ini menjadi pengingat bahwa jabatan bukan sekadar kedudukan, melainkan amanah dan tanggung jawab. Setiap keputusan, perkataan, dan tindakan seorang pemimpin akan meninggalkan jejak, baik bagi orang yang dipimpinnya maupun bagi dirinya sendiri.

1. Pemimpin Akan Menuai Hasil dari Kebijakannya

Pemimpin yang mengedepankan keadilan, kebijaksanaan, dan kepentingan bersama akan menumbuhkan kepercayaan serta penghormatan dari orang-orang yang dipimpinnya.

Sebaliknya, kepemimpinan yang dibangun di atas kesewenang-wenangan, kepentingan pribadi, atau ketidakadilan dapat mengikis kepercayaan dan menciptakan persoalan di kemudian hari.

2. Keteladanan Adalah Bahasa Kepemimpinan

Seorang pemimpin tidak hanya berbicara melalui perintah, tetapi juga melalui keteladanan.

Disiplin, kerja keras, kejujuran, tanggung jawab, dan kesediaan memberikan contoh akan lebih mudah diteladani oleh orang-orang di bawah kepemimpinannya.

Sebaliknya, ketika seorang pemimpin terbiasa mengabaikan tanggung jawab, menunda pekerjaan, atau tidak konsisten antara ucapan dan tindakan, kebiasaan tersebut berpotensi menjadi budaya dalam lingkungan yang dipimpinnya.

3. Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

Tidak ada keputusan kepemimpinan yang benar-benar tanpa akibat.

Kebijakan yang disusun dengan pertimbangan yang matang dan berorientasi pada kepentingan bersama dapat menjadi jalan menuju kemajuan. Sebaliknya, keputusan yang hanya berorientasi pada kepentingan pribadi atau kelompok tertentu dapat menimbulkan ketidakpercayaan, konflik, bahkan kerusakan yang lebih luas.

Karena itu, sebelum mengambil keputusan, seorang pemimpin seyogianya bertanya kepada dirinya sendiri:

Apakah keputusan ini hanya baik untuk saya, atau juga membawa kebaikan bagi mereka yang saya pimpin?

4. Jabatan Berakhir, Jejak Tetap Tinggal

Jabatan memiliki batas waktu. Kekuasaan dapat berpindah. Kedudukan dapat berakhir.

Namun, jejak kepemimpinan akan tetap dikenang.

Pemimpin yang meninggalkan keadilan, keteladanan, dan kemanfaatan akan meninggalkan nama yang baik. Sebaliknya, tindakan yang merugikan banyak orang juga dapat menjadi bagian dari catatan sejarah kepemimpinannya.

Pada akhirnya, bukan panjangnya masa seseorang memegang jabatan yang paling menentukan, melainkan apa yang telah diperbuat selama memegang amanah tersebut.

Penutup

Ngunduh Wohing Pakarti mengajarkan sebuah kesadaran sederhana, tetapi sangat dalam:

Setiap perbuatan memiliki buahnya.

Setiap keputusan memiliki akibatnya.

Setiap kepemimpinan meninggalkan jejaknya.

Maka, siapa pun yang diberi amanah untuk memimpin hendaknya senantiasa menjaga integritas, berlaku adil, mengutamakan kepentingan bersama, dan mempertanggungjawabkan setiap langkah yang diambil.

Sebab kehidupan pada akhirnya akan menjadi cermin dari apa yang kita tanam.

Menanam kebaikan, menuai kebaikan.

Menanam keadilan, menuai kepercayaan.

Menanam ketidakadilan, menuai konsekuensi.

Dan bagi mereka yang meyakini pertanggungjawaban di hadapan Tuhan, amanah kepemimpinan bukan hanya akan dipertanggungjawabkan di hadapan manusia, tetapi juga di hadapan Sang Pencipta.

Ngunduh Wohing Pakarti.

Apa yang kita tanam hari ini, pada waktunya akan kita petik sendiri.

MSRI - Perspektif Akurat Terpercaya

Baca Juga

dibaca

Post a Comment

Hi Please, Do not Spam in Comments

Lebih baru Lebih lama