MENGENAL DIRI SENDIRI

MENGENAL DIRI SENDIRI

Oleh : Soejitno Irmim

MSRI, JAWA TIMUR - Mengenal diri sendiri bukan sekadar mengetahui nama, usia, pekerjaan, pendidikan, atau latar belakang kita. Mengenal diri adalah kemampuan untuk memahami siapa diri kita, untuk apa kita hidup, apa yang menjadi kekuatan dan kelemahan kita, serta ke mana kehidupan ini hendak diarahkan.

Banyak orang begitu sibuk mengenal orang lain, menilai perilaku orang lain, bahkan mencari kekurangan orang lain, tetapi belum sungguh-sungguh mengenal dirinya sendiri.

Padahal, perjalanan memperbaiki kehidupan sesungguhnya dimulai dari keberanian untuk melihat ke dalam diri.

1. Siapa sebenarnya diri kita?

Manusia bukan sekadar jasad dan apa yang tampak secara lahiriah. Di dalam diri manusia terdapat akal, hati, perasaan, kehendak, dan nafsu.

Jabatan, kekayaan, kedudukan, pendidikan, maupun status sosial hanyalah bagian dari kehidupan dunia. Semua itu tidak menjadi ukuran mutlak tentang siapa diri kita sesungguhnya.

Karena itu, pertanyaan penting bukan hanya, “Siapa saya?”, tetapi juga:

“Untuk apa saya diciptakan?”

“Apa amanah yang harus saya jalankan?”

“Apa yang akan saya pertanggungjawabkan di hadapan Allah?”

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang membawa manusia dari sekadar mengenal identitas menuju memahami makna kehidupan.

2. Potensi dan keterbatasan manusia

Setiap manusia memiliki potensi yang berbeda. Ada yang kuat dalam berpikir, belajar, berkomunikasi, memimpin, bekerja, mencipta, atau mengabdikan dirinya untuk orang lain.

Namun, manusia juga memiliki keterbatasan.

Tidak semua hal dapat kita kuasai. Tidak semua keinginan dapat diwujudkan. Tidak selamanya kita kuat, dan tidak setiap persoalan dapat diselesaikan hanya dengan kemampuan sendiri.

Menyadari keterbatasan bukan tanda kelemahan. Justru dari situlah lahir kerendahan hati, kemauan untuk belajar, dan kesadaran untuk berserah diri kepada Allah.

3. Akal, hati, perasaan, dan nafsu

Akal membantu manusia berpikir dan mempertimbangkan baik dan buruk. Hati menjadi ruang kesadaran moral dan kepekaan terhadap kebenaran. Perasaan memberikan warna dalam kehidupan, sementara nafsu mendorong berbagai keinginan.

Semuanya merupakan bagian dari diri manusia.

Persoalannya bukan memiliki nafsu atau perasaan, melainkan bagaimana mengendalikannya.

Ketika nafsu mengendalikan akal, perasaan mengalahkan kebenaran, dan hati nurani diabaikan, manusia dapat kehilangan arah.

Sebaliknya, ketika akal, hati, perasaan, dan nafsu mampu ditempatkan secara seimbang, manusia memiliki peluang lebih besar untuk menjalani kehidupan dengan bijaksana.

4. Mengenali kekuatan dan kelemahan diri

Jangan hanya sibuk mencari kelebihan diri lalu membanggakannya. Kenali pula kelemahan yang ada dalam diri.

Mudah marah, sulit menerima kritik, malas, iri, merasa paling benar, mudah menyerah, haus pengakuan, atau terlalu mementingkan diri sendiri adalah contoh bagian diri yang perlu disadari dan diperbaiki.

Mengetahui kelemahan bukan berarti merendahkan diri.

Justru orang yang mampu mengakui kekurangannya memiliki kesempatan untuk memperbaikinya.

Sebab, bagaimana mungkin seseorang memperbaiki sesuatu yang tidak pernah mau ia akui keberadaannya?

5. Mengenali karakter diri

Karakter seseorang tidak selalu terlihat ketika keadaan berjalan sesuai keinginannya.

Karakter justru lebih mudah terlihat ketika seseorang menghadapi tekanan, kegagalan, kritik, godaan, kehilangan, atau perlakuan yang tidak menyenangkan.

Dalam keadaan seperti itulah kita dapat melihat siapa diri kita sebenarnya.

Apakah kita tetap mampu bersabar?

Apakah kita mampu menerima kritik?

Apakah kita tetap jujur ketika tidak ada yang melihat?

Apakah kita mampu memaafkan ketika disakiti?

Di situlah karakter diuji.

6. Muhasabah: berani bercermin kepada diri sendiri

Muhasabah adalah keberanian untuk bercermin kepada diri sendiri sebelum terlalu sibuk menilai orang lain.

Tanyakan kepada diri:

Apa yang sudah saya lakukan dengan benar?

Apa yang masih harus saya perbaiki?

Siapa yang mungkin telah saya sakiti?

Kesalahan apa yang terus saya ulangi?

Apa yang harus saya tinggalkan?

Dan kebaikan apa yang harus saya lanjutkan?

Muhasabah bukan untuk menyalahkan diri, melainkan untuk menemukan jalan perbaikan.

Dalam kehidupan, manusia tidak dituntut menjadi sempurna. Tetapi manusia dituntut untuk terus belajar, memperbaiki diri, dan menjalankan amanah sebaik-baiknya.

Pada akhirnya, orang yang mengenal dirinya akan lebih mudah mengendalikan dirinya. Orang yang berani melihat kekurangannya memiliki peluang lebih besar untuk memperbaikinya. Dan orang yang memahami dirinya akan semakin sadar bahwa kehidupan bukan sekadar tentang mencari kesenangan, kedudukan, atau pengakuan manusia.

Hidup adalah perjalanan untuk menemukan makna, menjalankan amanah, memberi manfaat, dan pada akhirnya kembali kepada Sang Pencipta.

Mengenal diri adalah awal dari mengenal arah kehidupan.

Semoga bermanfaat.

MSRI - Perspektif Akurat Terpercaya

Baca Juga

dibaca

Post a Comment

Hi Please, Do not Spam in Comments

Lebih baru Lebih lama