JEJAK KASIH ALMARHUMAH DJENAP 1955–2026 - 71 Tahun Menjalani Kehidupan, Meninggalkan Warisan Terbesar: Kasih Sayang, Persaudaraan, dan Kerukunan Lima Bersaudara

JEJAK KASIH ALMARHUMAH DJENAP 1955–2026 - 71 Tahun Menjalani Kehidupan, Meninggalkan Warisan Terbesar: Kasih Sayang, Persaudaraan, dan Kerukunan Lima Bersaudara

MSRI, SURABAYA - Setiap manusia meninggalkan jejak dalam perjalanan hidupnya. Ada yang dikenang karena karya, jabatan, kekayaan, atau kedudukan. Namun bagi sebuah keluarga, warisan terbesar seorang ibu bukanlah sesuatu yang dapat diukur dengan harta benda.

Warisan itu adalah kasih sayang, keteladanan, nasihat, kesabaran, dan persaudaraan yang tetap hidup bahkan ketika sosoknya telah tiada.

Jejak kasih itulah yang kini dikenang keluarga dari sosok Almarhumah Djenap, perempuan yang menjalani perjalanan hidup selama 71 tahun, dari 1955 hingga 2026.

Pada 2026, Almarhumah berpulang menghadap Tuhan Yang Maha Esa. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, terutama bagi anak-anak yang selama puluhan tahun tumbuh dalam kasih sayang, pengorbanan, dan keteladanan seorang ibu.

Bersama sang suami, Soewono, Almarhumah Djenap membangun keluarga dan dikaruniai lima orang anak: tiga perempuan dan dua laki-laki.

Kelima anak tersebut adalah Sri Wahyuningsih, anak pertama yang telah lebih dahulu berpulang; Eni Budi Handayani, anak kedua; Ari Supriyadi, anak ketiga; Slamet Pramono atau Cak Bram, anak keempat; dan Dian Saputri, anak kelima.

Lima anak dengan jalan kehidupan masing-masing. Namun mereka memiliki satu ikatan yang sama: pernah menjadi tempat berlabuh kasih seorang ibu.

IBU YANG MENDIDIK DENGAN KASIH, BUKAN KEKERASAN

Bagi anak-anaknya, Almarhumah Djenap dikenal sebagai sosok ibu yang lembut, sabar, dan penuh kasih.

Ketika anak-anak melakukan kesalahan, ia tidak menjadikan kekerasan sebagai jalan untuk mendidik. Tidak dengan pukulan, melainkan melalui teguran, arahan, nasihat, dan kesabaran.

Bagi Almarhumah, kesalahan bukan alasan untuk menyakiti seorang anak. Kesalahan adalah kesempatan untuk mengajarkan bagaimana seseorang belajar menjadi lebih baik.

Nasihat-nasihat itu mungkin dahulu terdengar sederhana.

Namun setelah sang ibu tiada, kata-kata tersebut justru terasa semakin berharga.

Sebab ada nasihat seorang ibu yang baru benar-benar dipahami ketika sosok yang menyampaikannya tidak lagi berada di sisi kita.

KESAKSIAN PUTRA PUTRINYA

SRI WAHYUNINGSIH - Anak Pertama yang Telah Lebih Dahulu Berpulang

Sri Wahyuningsih merupakan anak pertama Almarhumah Djenap dan menjadi bagian penting dari perjalanan awal keluarga bersama Soewono.

Namun, takdir lebih dahulu memanggilnya.

Kepergian Sri Wahyuningsih menjadi bagian dari perjalanan duka yang telah lebih dahulu dirasakan keluarga sebelum akhirnya Almarhumah Djenap menyusul berpulang pada 2026.

Kini, kedua nama tersebut menjadi bagian dari kenangan keluarga yang tidak terpisahkan.

Bagi keluarga, keduanya akan tetap hidup dalam doa, kasih, dan ingatan.

ENI BUDI HANDAYANI - Kesabaran yang Terus Dikenang

Bagi Eni Budi Handayani, ibunya adalah sosok perempuan yang mengajarkan kesabaran dan kasih sayang.

“Ibu tidak pernah mengajarkan kami dengan kekerasan. Kalau kami salah, Ibu lebih banyak menasihati dan memberikan arahan. Kata-kata Ibu sederhana, tetapi sampai sekarang tetap kami ingat.”

Menurut Eni, Almarhumah selalu menginginkan anak-anaknya menjadi pribadi yang baik dan bertanggung jawab terhadap kehidupannya masing-masing.

Kini, ketika sang ibu telah tiada, yang tersisa adalah kenangan dan pesan-pesan kehidupan.

“Sekarang kami hanya bisa mengenang kebaikan Ibu, mendoakan beliau, dan berusaha menjalankan pesan-pesan yang pernah beliau sampaikan.”

ARI SUPRIYADI - Ibu Adalah Tempat Pulang

Ari Supriyadi mengenang Almarhumah sebagai sosok ibu yang selalu berusaha menjaga keutuhan keluarga.

“Ibu adalah tempat kami pulang. Ketika ada masalah, nasihat Ibu selalu memberikan ketenangan. Ibu tidak banyak menuntut, tetapi selalu mengajarkan kami untuk bertanggung jawab dan menghargai keluarga.”

Bagi Ari, kekuatan sang ibu justru terletak pada kesederhanaannya.

Bukan melalui kemewahan atau kata-kata besar, melainkan melalui perhatian, kesabaran, dan kasih sayang yang diberikan setiap hari.

“Yang paling terasa sekarang adalah kehilangan sosok yang selama ini selalu ada untuk kami.”

Kepergian itu sekaligus mengingatkan bahwa kebersamaan dengan orang tua merupakan sesuatu yang tidak ternilai dan tidak dapat dibeli kembali.

SLAMET PRAMONO (CAK BRAM)

Kepergian Ibu Adalah Pukulan yang Dahsyat

Sebagai anak keempat, Slamet Pramono atau Cak Bram, merasakan kepergian Almarhumah Djenap sebagai kehilangan yang sangat dalam.

Baginya, sosok seorang ibu tidak mungkin digantikan oleh harta, jabatan, maupun apa pun yang dimiliki manusia.

“Kepergian Ibu bagi saya adalah pukulan yang dahsyat. Tidak ada yang bisa menggantikan sosok seorang ibu. Harta, jabatan, maupun apa pun yang kita miliki tidak akan pernah sebanding dengan keberadaan seorang ibu yang mencintai dan membesarkan kita.”

Cak Bram mengenang bagaimana ibunya mendidik kelima anak dengan kasih sayang.

“Ibu tidak pernah memukul kami. Kalau kami melakukan kesalahan, Ibu menegur dengan nasihat. Beliau memberikan arahan agar kami memahami kesalahan dan memperbaikinya. Itu yang sampai sekarang saya pegang.”

Baginya, cara Almarhumah mendidik anak-anak merupakan warisan moral yang nilainya jauh melampaui benda apa pun.

WARISAN BUKAN SEGALANYA

Bagi Cak Bram, kepergian orang tua seharusnya tidak membuat anak-anak terjebak pada persoalan warisan duniawi.

Ada sesuatu yang jauh lebih besar yang harus dijaga: persaudaraan.

“Bagi saya, warisan bukanlah segalanya. Warisan yang paling penting justru ketika kami ditinggalkan oleh ibu tercinta, kami sebagai anak-anak harus tetap rukun satu sama lain.”

Selama Almarhumah masih hidup, kelima anak memiliki satu tempat untuk kembali.

Kini, setelah sang ibu tiada, tanggung jawab menjaga hubungan tersebut berada di tangan anak-anaknya.

“Ibu sudah memberikan yang terbaik untuk kami. Beliau membesarkan lima anak dengan kasih sayang. Sekarang tugas kami adalah menjaga apa yang sudah Ibu tanamkan. Jangan sampai setelah Ibu pergi, justru kami saling berjauhan atau terpecah karena persoalan duniawi.”

Cak Bram berharap setiap persoalan keluarga dapat diselesaikan melalui komunikasi dan musyawarah.

“Kalau ada hal apa pun, kalau ada persoalan apa pun, mari kita diskusikan dengan baik. Jangan dipendam, jangan saling menjauh. Dudukkan bersama, bicarakan dengan kepala dingin dan hati yang terbuka.”

Perbedaan pendapat adalah sesuatu yang wajar dalam keluarga.

Namun perbedaan tidak boleh berubah menjadi permusuhan.

“Jangan karena persoalan sesaat kita mengorbankan persaudaraan yang sudah dibangun sejak kecil. Kami adalah lima bersaudara. Sampai kapan pun, hubungan itu tidak boleh hilang.”

JANGAN SAMPAI KEPERGIAN IBU MEMISAHKAN ANAK-ANAKNYA

Cak Bram berharap kepergian Almarhumah justru menjadi momentum untuk semakin mempererat hubungan kelima bersaudara.

“Kalau Ibu masih ada, beliau tentu ingin melihat anak-anaknya rukun. Sekarang Ibu sudah tidak ada, jangan sampai justru kita saling menjauh. Mari kita jaga kerukunan sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada Ibu.”

Kehidupan akan terus berjalan. Persoalan mungkin datang silih berganti.

Namun tidak ada persoalan duniawi yang seharusnya lebih besar daripada persaudaraan.

“Harta bisa dicari. Persoalan duniawi bisa diselesaikan. Tetapi waktu bersama ibu tidak bisa diulang. Ketika ibu sudah pergi, yang tersisa adalah bagaimana kita menjaga amanah dan nilai-nilai yang beliau tinggalkan.”

DIAN SAPUTRI - KASIH SAYANG YANG AKAN SELALU DIBAWA

Sebagai anak kelima, Dian Saputri menyimpan kenangan mendalam tentang kelembutan sang ibu.

“Ibu sangat sayang kepada kami. Beliau selalu memperhatikan anak-anaknya. Ketika kami salah, Ibu tidak langsung menghukum, tetapi memberikan nasihat dan menjelaskan apa yang seharusnya kami lakukan.”

Kini suasana keluarga terasa berbeda.

Sosok yang selama ini menjadi tempat mendapatkan kasih sayang telah pergi.

“Sekarang kami hanya bisa mengenang Ibu dan mendoakan beliau. Kasih sayang Ibu akan selalu kami bawa dalam kehidupan.”

71 TAHUN KEHIDUPAN, WARISAN YANG TAK TERNILAI

1955–2026.

Tujuh puluh satu tahun bukan sekadar angka.

Di dalamnya ada perjuangan, pengorbanan, air mata, kebahagiaan, kesabaran, dan cinta seorang ibu kepada keluarganya.

Almarhumah Djenap telah menyelesaikan perjalanan kehidupannya di dunia.

Namun seseorang tidak benar-benar pergi ketika nilai-nilai kehidupannya masih hidup di dalam hati orang-orang yang ditinggalkan.

Ia meninggalkan suami, Soewono, anak-anak, keluarga besar, dan kenangan yang tidak akan mudah terhapus oleh waktu.

Lebih dari itu, Almarhumah meninggalkan pesan kehidupan yang kini menjadi amanah anak-anaknya:

Jaga keluarga.

Jaga komunikasi.

Jaga kerukunan.

Jaga persaudaraan.

PESAN TERAKHIR YANG TIDAK PERNAH DITULISKAN

Mungkin Almarhumah Djenap tidak pernah menuliskan wasiat panjang tentang bagaimana anak-anaknya harus menjalani kehidupan setelah dirinya tiada.

Namun puluhan tahun mendidik dengan kasih sayang sesungguhnya telah menjadi pesan yang jauh lebih kuat daripada tulisan apa pun.

Ia menunjukkan bahwa anak dapat dididik tanpa kekerasan.

Bahwa kesalahan dapat diperbaiki dengan nasihat.

Bahwa keluarga dibangun dengan kesabaran.

Dan bahwa kasih sayang seorang ibu tidak mengenal batas.

Kini pesan itu berada di tangan anak-anaknya.

Eni Budi Handayani.

Ari Supriyadi.

Slamet Pramono atau Cak Bram.

Dian Saputri.

Serta kenangan terhadap Sri Wahyuningsih, yang telah lebih dahulu berpulang.

Mereka memiliki tugas yang sama: menjaga nama baik keluarga dan menjaga persaudaraan.

WARISAN TERBESAR ALMARHUMAH DJENAP ADALAH KERUKUNAN

Bagi Cak Bram, inilah makna terdalam dari kepergian seorang ibu.

Warisan bukan sekadar apa yang ditinggalkan dalam bentuk benda.

Warisan terbesar adalah ketika anak-anak mampu meneruskan nilai yang ditanamkan orang tua.

Dan nilai yang paling kuat dari kehidupan Almarhumah Djenap adalah kasih sayang dan persaudaraan.

“Saya berharap kami berlima tetap saling menyayangi, saling menjaga, dan saling menguatkan. Kalau ada persoalan, mari kita selesaikan dengan musyawarah. Jangan ada dendam, jangan ada permusuhan, dan jangan sampai persoalan duniawi memutus hubungan saudara.”

Ia berharap kelima bersaudara dapat terus berdiri bersama dalam keadaan apa pun.

“Bentuk penghormatan terbesar kepada Ibu bukan hanya datang ke makamnya atau mengirim doa untuk beliau. Tetapi juga bagaimana kami sebagai anak-anaknya tetap rukun, tetap bersatu, dan tetap saling menjaga sampai kapan pun.”

SELAMAT JALAN, IBU DJENAP

Kini perjalanan panjang Almarhumah Djenap telah sampai pada akhirnya.

1955–2026.

Tujuh puluh satu tahun telah menjadi bagian dari sejarah sebuah keluarga.

Ada perjuangan.

Ada pengorbanan.

Ada air mata.

Ada kebahagiaan.

Ada kesabaran.

Dan ada cinta seorang ibu yang tidak akan pernah selesai dikenang.

Almarhumah telah pergi secara fisik.

Namun kasih sayangnya tetap tinggal.

Nasihatnya tetap hidup.

Keteladanannya tetap menjadi pegangan.

Dan namanya akan terus disebut dalam doa.

Bagi anak-anaknya, kehilangan seorang ibu adalah kehilangan yang tidak akan pernah benar-benar tergantikan.

Tetapi ada satu cara untuk membuat cinta seorang ibu tetap hidup: menjaga apa yang selama hidupnya ia perjuangkan.

Menjaga keluarga.

Menjaga komunikasi.

Menjaga kerukunan.

Menjaga persaudaraan.

Sebab ketika segala sesuatu di dunia pada akhirnya harus ditinggalkan, keluarga dan kasih sayanglah yang tetap menjadi tempat untuk pulang.

Selamat jalan, Almarhumah Djenap.

Terima kasih atas kasih sayang, kesabaran, nasihat, dan keteladanan yang telah diberikan sepanjang 71 tahun perjalanan hidup.

Semoga Tuhan Yang Maha Esa menerima seluruh amal kebaikan Almarhumah, mengampuni segala kekhilafannya, memberikan tempat terbaik di sisi-Nya, serta memberikan kekuatan dan ketabahan kepada seluruh keluarga yang ditinggalkan.

Doa kami menyertaimu.

Namamu akan tetap hidup dalam hati anak-anakmu.

Dan kerukunan lima bersaudara akan menjadi salah satu bentuk cinta kami kepadamu.

Selamat beristirahat dalam keabadian, Ibu.

Penulis: Excel Adji Wijaya

MSRI - Perspektif Akurat Terpercaya

Baca Juga

dibaca

Post a Comment

Hi Please, Do not Spam in Comments

Lebih baru Lebih lama