MSRI, GRESIK - Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 menjadi momentum untuk memperkuat rasa syukur, keimanan, kecintaan kepada Rasulullah SAW, serta kesadaran akan pentingnya ilmu dalam kehidupan.
Nuansa religius dan semangat kebangsaan itu terasa dalam Majelis Pengajian Rutin Sabtu Malam Minggu yang digelar di Pondok Pesantren Internasional Al-Illiyin, Dusun Sumberwaru, RT 02/RW 03, Desa Sumberwaru, Kecamatan Wringinanom, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, Sabtu malam, 15 Agustus 2026.
Majelis Tholabul Ilmi yang dimulai pukul 19.00 WIB hingga selesai tersebut dipimpin langsung Abuya Achmad Yani Iliyin, Pimpinan dan Pengasuh Pondok Pesantren Internasional Al-Illiyin, yang juga dikenal sebagai Mursyid Tunggal sekaligus pendiri Jam’iyyah Sholawat Ibrohimiyah.
Dalam tausiyahnya, Abuya mengajak para santri dan jamaah untuk memahami bahwa manusia boleh memiliki rencana, ikhtiar dan cita-cita. Namun, pada akhirnya, Allah SWT memiliki ketetapan yang jauh lebih sempurna.
“Rencana Allah jauh lebih hebat daripada rencana manusia.”
Pesan tersebut menjadi salah satu inti renungan dalam majelis. Abuya mengingatkan bahwa perjalanan kehidupan sering kali memperlihatkan sesuatu yang dianggap mustahil oleh manusia justru dapat terjadi atas kehendak Allah SWT.
Belajar dari Kisah Nabi Musa AS dan Fir’aun
Kisah Fir’aun dan Nabi Musa AS menjadi salah satu gambaran tentang kekuasaan dan ketetapan Allah SWT. Fir’aun berusaha mencegah keselamatan Nabi Musa AS dengan membunuh bayi-bayi laki-laki Bani Israil. Namun, kehendak Allah berkata lain.
Nabi Musa AS justru diselamatkan dan kemudian tumbuh besar di lingkungan istana Fir’aun.
Dari kisah tersebut, jamaah diajak memahami bahwa apabila Allah SWT menghendaki sesuatu terjadi, tidak ada kekuatan manusia yang mampu menggagalkannya. Apa yang telah menjadi ketetapan-Nya akan menemukan jalannya, meskipun manusia berusaha menghalanginya.
Nilai tersebut kemudian dikaitkan dengan perjalanan bangsa Indonesia dalam merebut kemerdekaan.
Para pejuang menghadapi kekuatan penjajah dengan persenjataan yang jauh lebih modern. Sementara rakyat Indonesia memiliki keterbatasan senjata dan perlengkapan perang.
Namun, keterbatasan tersebut tidak memadamkan keberanian dan semangat perjuangan. Bambu runcing kemudian menjadi salah satu simbol keteguhan rakyat dalam mempertahankan tanah air.
Bukan karena bambu runcing lebih kuat daripada senjata modern, melainkan karena perjuangan tersebut dilandasi keberanian, persatuan, pengorbanan, doa dan keyakinan kepada pertolongan Allah SWT.
Dalam perspektif keimanan, sejarah tersebut mengajarkan bahwa kekuatan manusia memiliki batas. Ada kekuatan yang jauh lebih besar, yakni pertolongan dan kehendak Allah SWT.
Kemerdekaan Harus Diisi dengan Ilmu dan Akhlak
Momentum HUT Kemerdekaan RI ke-81 juga menjadi kesempatan untuk kembali mengingat bahwa kemerdekaan tidak diperoleh secara cuma-cuma.
Di balik kemerdekaan terdapat darah, air mata, perjuangan, pengorbanan dan doa para pendahulu bangsa.
Karena itu, generasi saat ini memiliki tanggung jawab untuk merawat kemerdekaan melalui ilmu, akhlak, persatuan, pengabdian dan ketakwaan.
Dalam majelis tersebut, Abuya Achmad Yani Iliyin juga menekankan pentingnya tholabul ilmi, atau mencari ilmu, sebagai bagian dari perjalanan seorang hamba menuju ridha Allah SWT.
Pesan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut:
“Tholabul Ilmi adalah jalan menuju Surga. Siapa yang menempuhnya dengan ikhlas karena Allah, maka Allah mudahkan baginya setiap langkahnya.”
Bagi para santri, mencari ilmu bukan sekadar aktivitas akademik. Tholabul ilmi merupakan bagian dari perjalanan spiritual untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Pesantren menjadi tempat para santri belajar ilmu agama, membangun akhlak, melatih kedisiplinan serta mempersiapkan diri untuk mengabdi kepada masyarakat.
Amanah Besar Seorang Kiai
Di balik kehidupan pesantren yang tampak sederhana, terdapat amanah besar yang dipikul seorang kiai. Para santri adalah anak-anak yang dititipkan orang tua untuk dididik, dibimbing dan diarahkan agar menjadi pribadi yang saleh dan salehah.
Abuya menggambarkan beratnya amanah tersebut. Seorang kiai, menurutnya, memiliki rasa takut apabila terdapat santri yang belum mampu menjadi pribadi sebagaimana yang diharapkan.
Tanggung jawab itu bukan hanya dipertanggungjawabkan di hadapan manusia, tetapi juga kelak di hadapan Allah SWT.
Karena itu, seorang guru dan pengasuh pesantren dituntut terus menjaga hubungan dengan Allah SWT. Perjuangan mendidik santri tidak berhenti ketika kegiatan pondok selesai.
Ada doa yang terus dipanjatkan, ada kegelisahan yang dipikul, serta ada tanggung jawab batin agar para santri memperoleh keberkahan ilmu dan mampu mengamalkannya.
Dalam suasana tersebut, jamaah juga diajak mendoakan para ulama dan masyayikh, termasuk Mbah Yai Abdul Karim Lirboyo, agar senantiasa mendapatkan limpahan rahmat Allah SWT dan menjadi bagian dari keberkahan ilmu yang terus mengalir kepada generasi berikutnya.
Menyambut Maulid Nabi dengan Cinta dan Sholawat
Majelis Sabtu Malam Minggu di Pondok Pesantren Internasional Al-Illiyin semakin istimewa dengan rangkaian pembacaan Maulid Simtudduror dan Jam’iyyah Sholawat Ibrohimiyah.
Memasuki bulan Maulid, jamaah diajak meningkatkan kecintaan kepada Baginda Nabi Muhammad SAW.
Kelahiran Rasulullah SAW bukan sekadar peristiwa sejarah, tetapi menjadi momentum untuk menghidupkan kembali kecintaan kepada Nabi, memperbanyak sholawat dan meneladani akhlak beliau.
Abuya mengajak para santri agar tidak menyia-nyiakan kesempatan menyambut bulan kelahiran Rasulullah SAW dengan kebahagiaan, sholawat dan amal kebaikan.
Bahkan ketika memasuki masa libur pondok, semangat untuk bersholawat dan mengikuti kegiatan keagamaan diharapkan tidak berhenti.
Para santri tetap diarahkan menjaga hubungan dengan Allah SWT, memperbanyak membaca sholawat dan memelihara kecintaan kepada Rasulullah SAW di mana pun berada.
Libur dari kegiatan pondok bukan berarti libur dari ibadah dan tholabul ilmi.
Menyatukan Kemerdekaan, Ilmu dan Cinta Rasulullah
Rangkaian pengajian tersebut menjadi semakin relevan dengan suasana HUT Kemerdekaan RI ke-81.
Kemerdekaan dan keimanan memiliki ruang perenungan yang sama: manusia harus berikhtiar sekuat tenaga, tetapi tetap menyadari bahwa hasil akhirnya berada dalam ketetapan Allah SWT.
Para pejuang dahulu berjuang dengan keterbatasan persenjataan. Para ulama berjuang melalui pendidikan dan dakwah. Sementara para santri hari ini memiliki medan perjuangan yang berbeda, yakni menjaga ilmu, akhlak, persatuan dan masa depan bangsa.
Karena itu, kemerdekaan tidak cukup hanya dirayakan melalui upacara dan berbagai perlombaan. Kemerdekaan harus diisi dengan mencerdaskan kehidupan bangsa, memperkuat moral generasi muda, menjaga persatuan serta mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Dari Pondok Pesantren Internasional Al-Illiyin, semangat tersebut terus ditanamkan melalui tholabul ilmi, majelis sholawat, pembacaan Maulid Simtudduror dan penguatan nilai-nilai akhlakul karimah.
Pesan Abuya Achmad Yani Iliyin menjadi pengingat bahwa manusia boleh memiliki banyak rencana, tetapi jangan pernah merasa menjadi penentu mutlak perjalanan hidup.
Sebab, ketika Allah SWT telah menetapkan kehendak-Nya, jalan yang semula tertutup dapat terbuka, sesuatu yang dianggap mustahil dapat menjadi kenyataan, dan pertolongan dapat datang dari arah yang tidak pernah disangka-sangka.
Maka tugas manusia adalah terus berikhtiar, berdoa, menjaga keikhlasan dan tidak pernah berputus asa dari rahmat Allah SWT.
Semoga momentum HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 menjadi pengingat bagi seluruh anak bangsa untuk senantiasa bersyukur atas nikmat kemerdekaan, menjaga persatuan, menghormati para ulama dan pendahulu bangsa, serta mengisi kemerdekaan dengan ilmu, iman, akhlak dan cinta kepada Rasulullah Muhammad SAW.
Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala ali Sayyidina Muhammad.
Semoga seluruh jamaah, para santri, keluarga besar Pondok Pesantren Internasional Al-Illiyin dan seluruh bangsa Indonesia senantiasa mendapatkan keberkahan, keselamatan serta pertolongan Allah SWT.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
(Cak Loem)
dibaca

Posting Komentar
Hi Please, Do not Spam in Comments