Maulid Nabi di Banyurip Wetan: Keteladanan Rasulullah Menguatkan Persaudaraan dan Gotong Royong Warga

Maulid Nabi di Banyurip Wetan: Keteladanan Rasulullah Menguatkan Persaudaraan dan Gotong Royong Warga

MSRI, SURABAYA - Di tengah hiruk-pikuk kehidupan perkotaan, warga Banyurip Wetan RT 09/RW 06, Kelurahan Banyurip, Kecamatan Sawahan, Kota Surabaya, kembali menunjukkan bahwa tradisi keagamaan masih memiliki tempat penting dalam merawat persaudaraan.

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah/2026 Masehi yang digelar di lapangan warga Banyurip Wetan Gang 3C, Sabtu (29/8/2026), berlangsung dalam suasana khidmat sekaligus penuh keakraban. Ratusan warga hadir, berbaur tanpa sekat, dari anak-anak, pemuda, orang tua, hingga para tokoh masyarakat.

Bukan sekadar mengenang kelahiran Rasulullah Muhammad SAW, Maulid Nabi kali ini menjadi momentum untuk kembali meneguhkan nilai-nilai yang diwariskan beliau: kejujuran, kesabaran, kasih sayang, kepedulian, persaudaraan, dan penghormatan terhadap sesama.

Tema yang diangkat, “Jadikan Akhlak dan Kejujuran Rasulullah sebagai Teladan Nyata dalam Kehidupan Bermasyarakat,” seakan menjadi pesan moral yang ingin ditanamkan kepada seluruh warga. Bahwa mencintai Rasulullah tidak cukup hanya melalui lantunan sholawat, tetapi harus diwujudkan dalam perilaku sehari-hari.

Dari Sholawat hingga Kebersamaan

Rangkaian kegiatan diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an. Suasana kemudian semakin religius ketika lantunan sholawat Nabi menggema dan diikuti bersama oleh warga.

Penampilan grup hadrah Baru Ulum Surabaya turut memberikan warna tersendiri. Alunan hadrah dan sholawat menghadirkan suasana penuh kekhusyukan sekaligus menggambarkan kecintaan masyarakat kepada Nabi Muhammad SAW.

Namun, kekuatan utama kegiatan tersebut bukan hanya terletak pada kemeriahan acara. Lebih dari itu, terlihat semangat warga untuk hadir dan mengambil bagian dalam sebuah tradisi yang mampu mempertemukan berbagai generasi dalam satu ruang kebersamaan.

Anak-anak duduk berdampingan dengan orang tua. Para pemuda ikut membantu kegiatan. Para tokoh masyarakat hadir bersama warga. Semua melebur dalam suasana guyub yang menjadi kekuatan sosial lingkungan Banyurip Wetan.

Maulid sebagai Ruang Merawat Persaudaraan

Ketua RT 09 Yanto, bersama jajaran staf dan panitia, turut hadir mendukung seluruh rangkaian kegiatan. Hadir pula Ketua RW 06 Rois, Lurah Banyurip Dedy Ahmad Choiruddin, S.T., Ketua LPMK Kelurahan Banyurip Sujito beserta jajaran, pengurus lingkungan, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta ratusan warga.

Kehadiran berbagai unsur masyarakat tersebut memperlihatkan bahwa kegiatan keagamaan di tingkat lingkungan bukan sekadar seremoni. Ia dapat menjadi ruang untuk mempertemukan warga, membangun komunikasi, memperkuat kepedulian, sekaligus menjaga tradisi gotong royong.

Persiapan hingga pelaksanaan kegiatan dilakukan secara bersama-sama. Dari sinilah nilai Maulid Nabi mendapatkan makna yang lebih luas: ibadah berjalan, silaturahmi terjaga, dan kebersamaan warga semakin kuat.

Dari Khidmat Beralih Menjadi Gelak Tawa

Setelah rangkaian kegiatan keagamaan selesai, suasana berubah menjadi lebih santai dan meriah.

Panitia menghadirkan hiburan rakyat berupa perebutan peralatan dapur serta tugu beragam buah-buahan yang disambut antusias warga.

Tawa dan kegembiraan pun pecah. Anak-anak hingga orang dewasa menikmati suasana tersebut. Kesederhanaan justru menjadi kekuatan tersendiri, karena hiburan itu menghadirkan ruang interaksi yang semakin mendekatkan warga.

Tidak ada kemewahan yang menjadi ukuran. Yang terlihat adalah kegembiraan, kebersamaan, dan rasa memiliki terhadap lingkungan.

Yanto kepada Wartawan MSRI: Keteladanan Harus Menjadi Perilaku

Saat memberikan keterangan kepada wartawan MSRI, Ketua RT 09 Yanto menegaskan bahwa peringatan Maulid Nabi hendaknya tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Menurutnya, inti dari peringatan tersebut adalah bagaimana masyarakat mampu mengambil nilai keteladanan Rasulullah SAW dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Yanto menilai kejujuran, kerukunan, kepedulian, saling menghormati, serta semangat membantu sesama merupakan nilai yang harus terus dipelihara dalam kehidupan bermasyarakat.

“Maulid Nabi bukan hanya tentang memperingati, tetapi bagaimana kita meneladani Rasulullah SAW. Kejujuran, kerukunan, kepedulian kepada sesama, dan gotong royong harus benar-benar kita hidupkan dalam lingkungan kita,” ujar Yanto kepada wartawan MSRI.

Ia berharap kebersamaan yang terbangun melalui kegiatan tersebut tidak berhenti setelah acara selesai. Sebaliknya, semangat tersebut diharapkan terus menjadi energi positif dalam menjaga hubungan antarwarga.

Ketika Keteladanan Menjadi Kekuatan Sosial

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H di Banyurip Wetan akhirnya menjadi lebih dari sekadar agenda tahunan.

Di dalamnya terdapat pesan sederhana namun mendalam: sebuah lingkungan akan menjadi kuat ketika warganya mampu menjaga persaudaraan.

Keteladanan Rasulullah SAW tentang kejujuran, kasih sayang, kesabaran, kepedulian, dan persatuan menjadi nilai yang relevan untuk terus dihidupkan dalam masyarakat.

Sebab, di tengah perubahan zaman dan dinamika kehidupan perkotaan, kekuatan sebuah lingkungan bukan hanya diukur dari pembangunan fisiknya, tetapi juga dari seberapa kuat warganya menjaga hubungan sosial.

Dari Banyurip Wetan, pesan itu kembali ditegaskan: Maulid Nabi bukan sekadar mengenang Rasulullah SAW, tetapi menghadirkan akhlaknya dalam kehidupan nyata.

Dan ketika akhlak, silaturahmi, serta gotong royong tumbuh bersama, sebuah kampung tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi menjadi rumah besar yang dirawat dengan persaudaraan.

Reporter: Excel AW

MSRI - Perspektif Akurat Terpercaya

Baca Juga

dibaca

Post a Comment

Hi Please, Do not Spam in Comments

Lebih baru Lebih lama