MSRI, GRESIK – Dalam suasana yang dipenuhi lantunan doa dan keberkahan majelis dzikir, ribuan jamaah memadati Desa Pengalangan, Kecamatan Menganti, Kabupaten Gresik, Jumat (8/5/2026), untuk menghadiri Haul Buyut Jaluddin. Momentum spiritual tahunan ini bukan sekadar tradisi mengenang leluhur, melainkan juga wujud nyata ikhtiar masyarakat dalam merawat warisan ulama, memperkuat ukhuwah Islamiyah, serta meneguhkan nilai-nilai religius di tengah derasnya arus zaman.
Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an, “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (QS. Ar-Ra’d: 28).
Nuansa itulah yang begitu terasa sepanjang rangkaian haul berlangsung. Ribuan jamaah dari berbagai daerah hadir dengan penuh khidmat, menyatu dalam doa, shalawat, dan harapan agar keberkahan para pendahulu terus mengalir bagi generasi penerus.
Acara haul tersebut dihadiri sejumlah ulama kharismatik Nusantara, di antaranya KH. Agus Sabuth Panotoprojo, KH. Agus Ferry Khusnul Ma'ab, KH. Marzuki Mustamar, serta KH. Ahmad Muwafiq. Dalam tausiyahnya, para kiai menegaskan pentingnya menjaga persaudaraan, memperkuat ketakwaan, dan menghormati jasa para pendahulu sebagai pondasi membangun peradaban yang beradab dan penuh keberkahan.
KH. Agus Sabuth Panotoprojo menegaskan bahwa haul bukan hanya seremonial tahunan, melainkan ruang spiritual untuk menyambung sanad doa dan perjuangan para ulama terdahulu.
“Jangan pernah lelah mencintai ulama dan menjaga tradisi para leluhur yang penuh keberkahan. Dari majelis seperti inilah lahir ketenangan hati, persatuan umat, dan keberkahan bagi negeri,” tuturnya di hadapan ribuan jamaah.
Sementara itu, KH. Agus Ferry Khusnul Ma'ab mengajak masyarakat agar tetap menjaga persaudaraan dan tidak mudah terpecah oleh perbedaan.
“Umat Islam harus kuat dalam ukhuwah. Jangan sampai perbedaan membuat kita tercerai-berai. Haul ini menjadi pengingat bahwa persatuan umat dan kecintaan kepada ulama adalah pondasi kekuatan bangsa,” ujarnya.
Pesan penuh kesejukan juga disampaikan KH. Marzuki Mustamar yang menekankan pentingnya adab dan penghormatan kepada para kiai serta orang tua.
“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati ulama dan leluhurnya. Ketika adab dijaga, insyaAllah keberkahan akan turun kepada masyarakat dan negeri ini,” ungkap KH. Marzuki Mustamar.
Sedangkan KH. Ahmad Muwafiq atau Gus Muwafiq mengingatkan jamaah agar tidak melupakan sejarah perjuangan para pendahulu dalam menyebarkan Islam dengan penuh kelembutan dan kebijaksanaan.
“Islam di Nusantara tumbuh karena dakwah yang penuh kasih sayang dan keteladanan. Maka menjaga tradisi haul berarti menjaga identitas, sejarah, dan akar spiritual bangsa Indonesia,” tutur Gus Muwafiq yang disambut takbir dan shalawat para jamaah.
Penyelenggara kegiatan, Dr. Munir, menyampaikan rasa syukur dan apresiasi atas suksesnya pelaksanaan haul yang berlangsung tertib dan penuh kekhidmatan. Saat memberikan keterangan kepada wartawan Media Suara Rakyat Indonesia (MSRI), Dr. Munir menegaskan bahwa keberhasilan acara merupakan hasil kolaborasi seluruh elemen masyarakat.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada para masyayikh yang telah hadir membawa cahaya ilmu dan keberkahan, serta kepada seluruh masyarakat yang menjaga ketertiban dengan penuh kesadaran. Apresiasi setinggi-tingginya juga kami sampaikan kepada seluruh unsur pengamanan yang bekerja dengan dedikasi dan keikhlasan luar biasa.
Semoga segala ikhtiar ini menjadi amal jariyah bagi kita semua,” ungkapnya.
Salah satu perhatian utama dalam haul tahun ini adalah pengamanan yang berlangsung sangat solid, humanis, dan profesional. Sejumlah elemen lintas organisasi bersinergi menjaga kenyamanan jamaah dan tamu VVIP, di antaranya MANTRA Madura Nusantara, Laskar Sabilillah, Banser, serta PASSER Jawa Timur.
Ketegasan sikap turut disampaikan pimpinan MANTRA Madura Nusantara, Kang Munawar, yang menegaskan komitmen organisasinya dalam menjaga kehormatan ulama dan kiai di seluruh Nusantara.
“MANTRA Madura Nusantara akan selalu berdiri di garda terdepan untuk mengawal, menjaga, dan melindungi para kiai serta ulama. Menjunjung tinggi kehormatan ulama adalah harga mati bagi kami,” tegas Kang Munawar yang disambut antusias ribuan jamaah.
Senada dengan hal tersebut, Ketua DPW PASSER Jawa Timur, Edi Prayitno, turut menegaskan pentingnya menjaga persatuan dan ketertiban dalam setiap kegiatan keagamaan sebagai bagian dari pengabdian kepada masyarakat dan ulama.
“Haul bukan hanya agenda spiritual, tetapi juga ruang memperkuat persaudaraan, persatuan, dan kecintaan kepada para ulama. PASSER Jawa Timur siap terus bersinergi menjaga kondusivitas serta mengawal kegiatan-kegiatan religius demi terciptanya suasana aman, damai, dan penuh keberkahan,” ujar Edi Prayitno, SH, yang akrab disapa Edi Macan, saat memberikan keterangan kepada wartawan MSRI.
Dengan persiapan matang dan sinergi lintas elemen yang terjalin kuat, seluruh rangkaian Haul Buyut Jaluddin berjalan aman, damai, dan penuh khidmat. Kegiatan ini kembali menjadi bukti bahwa masyarakat Gresik tetap memegang teguh nilai penghormatan kepada ulama, cinta terhadap tradisi leluhur, serta semangat persatuan dalam bingkai religiusitas dan kebangsaan.
{Eka F. A}
dibaca

Posting Komentar
Hi Please, Do not Spam in Comments