MSRI, NGANJUK – Menjelang Hari Raya Iduladha, Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim) memperketat pengawasan terhadap lapak penjualan hewan kurban melalui penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang ketat, khususnya pada lapak-lapak yang marak bermunculan di tepi jalan raya.
Kepala Dinas Peternakan Jawa Timur, Indyah Aryani, menegaskan bahwa seluruh lapak wajib memenuhi ketentuan SOP serta mengantongi izin resmi dari pemerintah daerah setempat. Hal ini dilakukan guna memastikan aspek ketertiban, kesehatan, dan keamanan hewan kurban.
“Lapak penjualan hewan kurban tidak boleh berdiri sembarangan. Harus ada rekomendasi dari dinas peternakan kabupaten/kota, dan titik-titiknya telah ditentukan serta dilaporkan kepada kami,” ujar Indyah saat memberikan keterangan kepada wartawan Media Suara Rakyat Indonesia (MSRI) dalam kunjungan ke peternakan sapi di Desa Sukorejo, Kecamatan Loceret, Kabupaten Nganjuk, Sabtu (2/5/2026).
Dalam kunjungan tersebut, Indyah turut mendampingi Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, meninjau langsung kesiapan hewan kurban di tingkat peternak.
Ia mengungkapkan, saat ini terdapat lebih dari 2.000 lapak hewan kurban di seluruh Jawa Timur yang telah terdata dan menjalani proses asesmen oleh petugas. Pengawasan tidak hanya difokuskan pada lokasi penjualan, tetapi juga mencakup kondisi kesehatan hewan secara menyeluruh.
Pemerintah juga telah menurunkan tim pemeriksa kesehatan hewan yang terdiri dari dokter hewan dan paramedis untuk melakukan pemeriksaan ante-mortem dan post-mortem.
“Pemeriksaan ante-mortem dilakukan sebelum penyembelihan untuk memastikan hewan dalam kondisi sehat, sedangkan post-mortem dilakukan setelah penyembelihan guna memastikan organ dalam layak konsumsi,” jelas Indyah kepada wartawan MSRI.
Dalam pelaksanaannya, Pemprov Jatim juga menggandeng sejumlah institusi akademik, seperti Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya, serta Universitas Wijaya Kusuma, guna memperkuat pengawasan berbasis keilmuan.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya preventif dalam menekan penyebaran penyakit hewan menular seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) dan Lumpy Skin Disease (LSD). Indyah memastikan bahwa kondisi di Jawa Timur tetap terkendali berkat pengawasan intensif, vaksinasi, serta program pengobatan yang berkelanjutan.
Dari sisi ketersediaan, Jawa Timur juga dipastikan dalam kondisi surplus hewan kurban. Tahun ini, kebutuhan diperkirakan mencapai sekitar 427 ribu ekor, sementara stok yang tersedia jauh melebihi angka tersebut.
“Untuk sapi tersedia sekitar 629 ribu ekor, kambing 940 ribu ekor, domba 444 ribu ekor, dan kerbau sekitar 1.600 ekor. Artinya, Jawa Timur tidak hanya mencukupi kebutuhan sendiri, tetapi juga mampu menopang kebutuhan provinsi lain,” paparnya.
Sementara itu, Gubernur Khofifah menegaskan bahwa kondisi hewan kurban di Jawa Timur dalam keadaan aman dan layak untuk dikonsumsi masyarakat.
“Kami pastikan kurban di Jawa Timur aman. Pemeriksaan ante-mortem dan post-mortem dilakukan secara ketat agar seluruh hewan dalam kondisi sehat dan layak konsumsi,” tegasnya saat memberikan keterangan kepada wartawan MSRI.
Dengan pengawasan berlapis dan kesiapan stok yang memadai, Pemprov Jatim optimistis pelaksanaan Iduladha tahun ini dapat berjalan aman, sehat, dan sesuai syariat.
{Yoga MSRI}
dibaca

Posting Komentar
Hi Please, Do not Spam in Comments