MSRI, SIDOARJO - Polemik pembongkaran makam yang diyakini sebagai tempat peristirahatan Mbah Dirjo Joyo Ulomo di kawasan Taman, Kabupaten Sidoarjo, terus menuai perhatian dan reaksi luas dari masyarakat. Hingga kini, belum terlihat langkah konkret dari pemerintah kecamatan untuk memfasilitasi dialog terbuka antara para sesepuh, tokoh agama, ahli waris, maupun pihak yang memahami nilai historis makam tersebut. Kondisi ini memicu kekecewaan dan desakan publik yang kian menguat, Senin (27/04/2026) malam.
Tokoh masyarakat Ngelom, Choirul Ambiya’, menegaskan bahwa sosok Mbah Dirjo Joyo Ulomo bukan figur sembarangan dalam lintasan sejarah lokal. Berdasarkan penuturan para ulama dan sesepuh di kawasan Sepanjang, Mbah Dirjo Joyo Ulomo diyakini merupakan bagian dari pasukan Pangeran Diponegoro yang berpindah dari Mataram pada masa penjajahan Belanda, kemudian menetap di Ngelom dan menjadi santri Mbah Raden Ali.
“Sosok beliau dikenal sebagai santri Mbah Raden Ali yang kemudian diamanahi untuk dirawat oleh Mbah Joyo Ulomo. Dari situ masyarakat mengenalnya sebagai pribadi yang memiliki karomah dan dihormati. Sejak dahulu, makam tersebut menjadi tujuan ziarah. Maka jika kini keberadaannya diragukan, hal itu bertentangan dengan pemahaman sejarah yang hidup di tengah masyarakat,” ujar Choirul Ambiya’ saat memberikan keterangan kepada wartawan Media Suara Rakyat Indonesia (MSRI).
Ia juga membantah tegas isu yang menyebut adanya temuan benda-benda tidak pantas di lokasi makam. Menurutnya, tudingan tersebut tidak berdasar dan cenderung merendahkan nilai sejarah serta kepercayaan masyarakat.
“Saya pernah turut menggali area makam hingga lebih dari satu meter pada polemik serupa tahun 2025. Yang ditemukan adalah nisan lama dengan ornamen khas, bukan seperti yang dituduhkan. Pernyataan semacam itu sangat melukai perasaan warga dan merendahkan ulama yang selama ini dihormati,” tegasnya kepada wartawan MSRI.
Sementara itu, Saifudin, warga Wonocolo yang mengaku sebagai ahli waris lahan, menegaskan bahwa tanah tersebut merupakan wakaf yang secara khusus diperuntukkan bagi makam Mbah Dirjo Joyo Ulomo. Status tersebut, menurutnya, telah diwariskan secara turun-temurun dan diperkuat dengan keterangan administratif dari pihak kelurahan.
“Sejak dahulu tanah itu memang diperuntukkan sebagai lokasi makam. Bahkan pihak pasar sebelumnya tidak pernah berani melakukan pembongkaran karena memahami status wakaf tersebut,” ungkap Saifudin saat memberikan keterangan kepada wartawan MSRI.
Pernyataan senada disampaikan Moh Dahlan, paman Saifudin, yang mengaku telah menyaksikan keberadaan makam tersebut sejak masa kecilnya. Pria kelahiran 1954 itu menuturkan bahwa makam Mbah Dirjo telah ada jauh sebelum kawasan tersebut berkembang menjadi area pasar.
“Dulu, saat pembangunan pasar dilakukan, keluarga hanya meminta agar makam tidak dibongkar, bahkan diharapkan dapat diperbaiki. Namun yang terjadi saat ini justru sebaliknya. Kami sangat menyayangkan dan berharap makam tersebut dapat dibangun kembali,” ujar Moh Dahlan kepada wartawan MSRI.
Seiring belum adanya kejelasan penyelesaian, desakan masyarakat agar pemerintah segera mengambil langkah tegas semakin menguat. Choirul Ambiya’ meminta aparat pemerintah, unsur keamanan, serta pihak terkait untuk serius menindaklanjuti persoalan ini, termasuk mengusut pihak yang diduga bertanggung jawab atas pembongkaran tersebut.
“Harapan kami sederhana, bangun kembali makam itu demi kemaslahatan umat. Jangan abaikan sejarah, dan jangan lukai perasaan masyarakat yang selama ini menjaga serta menghormati tempat tersebut,” pungkasnya saat memberikan keterangan kepada wartawan MSRI.
{David Risdianto}
dibaca

Posting Komentar
Hi Please, Do not Spam in Comments