Dzikir Leluhur Menggema di Pendopo Agung Trowulan: Menyatukan Spiritualitas, Sejarah Nusantara, dan Cahaya Sholawat

Dzikir Leluhur Menggema di Pendopo Agung Trowulan: Menyatukan Spiritualitas, Sejarah Nusantara, dan Cahaya Sholawat

MSRI, MOJOKERTO – Malam penuh keberkahan menyelimuti kawasan bersejarah Pendopo Agung Trowulan pada Sabtu malam (9/5/2026). Ribuan jamaah, santri, tokoh masyarakat, ulama, hingga pecinta sholawat memadati lokasi dalam acara bertajuk “Haul Para Leluhur dan Dzikir Kebangsaan” yang dipimpin langsung oleh Abuya Ahmad Yani Iliyin, Pengasuh Pondok Pesantren Internasional Al-Iliyin sekaligus Mursyid Tunggal Jam’iyah Sholawat Ibrahimiyah.

Nuansa sakral begitu terasa sejak awal acara. Lantunan ayat suci Al-Qur’an, gema dzikir, serta sholawat yang menggema di bawah bangunan joglo bersejarah menghadirkan suasana spiritual yang mendalam. Jamaah tampak khusyuk mengikuti rangkaian kegiatan yang tidak hanya menjadi momentum doa bersama, namun juga pengingat akan perjuangan para leluhur Nusantara.

Dalam tausiyahnya, Abuya Ahmad Yani Iliyin membuka majelis dengan salam dan doa penuh kasih kepada seluruh santri putra-putri Pondok Pesantren Internasional Al-Iliyin serta para jamaah yang hadir.

“Semoga semuanya diberikan sehat wal afiat, panjang umur yang penuh keberkahan, dan selalu dalam lindungan Allah Subhanahu wa Ta’ala,” tutur beliau dengan suara lembut dan penuh keteduhan.

Acara tersebut turut dihadiri para tokoh Jam’iyah Sholawat Ibrahimiyah, pengurus yayasan, tokoh masyarakat, hingga tamu kehormatan dari luar negeri, termasuk perwakilan dari Korea Selatan. Hadir pula ulama kharismatik asal Madura, Syekh Muhammad H., Pengasuh Pondok Pesantren Darul Qur’an Pamekasan sekaligus mursyid thariqah yang sangat dihormati para jamaah.

Dzikir Leluhur Menggema di Pendopo Agung Trowulan: Menyatukan Spiritualitas, Sejarah Nusantara, dan Cahaya Sholawat


Haul Bukan Sekadar Mengenang Wafat

Dalam penyampaian yang penuh hikmah, Abuya Ahmad Yani Iliyin menegaskan bahwa haul bukan sekadar memperingati wafatnya seseorang. Menurut beliau, haul merupakan upaya mengenang sejarah perjuangan, meneladani akhlak para pendahulu, serta menyambungkan ruh spiritual antara generasi saat ini dengan para leluhur yang telah berjasa membangun peradaban.

“Haul itu bukan memperingati kematian. Jangan disalahartikan. Haul adalah mengingat perjuangan, mengenang jasa para leluhur, dan mengambil hikmah kehidupan mereka,” ungkapnya.

Beliau juga mengajak jamaah memahami bahwa bangsa Indonesia sejak dahulu merupakan bangsa besar yang memiliki peradaban luhur. Nusantara dikenal sebagai negeri gemah ripah loh jinawi, negeri kaya, damai, dan menjadi pusat perhatian bangsa-bangsa dunia.

Spiritualitas dan Sejarah Nusantara

Dalam ceramah bernuansa kebangsaan tersebut, Abuya turut mengulas kisah kejayaan Nusantara di masa lampau, termasuk kebesaran Kerajaan Kejayaan Majapahit serta strategi para leluhur dalam mempertahankan tanah Jawa dari ancaman asing.

Beliau menyinggung kisah Ronggolawe dan kekuatan armada Nusantara yang mampu menghadapi kekuatan besar dari luar negeri melalui kecerdikan strategi perang di lautan. Menurutnya, sejarah tersebut membuktikan bahwa bangsa Indonesia sejak dahulu tidak hanya kuat secara fisik, tetapi juga memiliki kekuatan spiritual yang besar.


“Spiritual mengalahkan segala-galanya. Bangsa ini besar karena doa para wali, para ulama, dan para leluhur yang menjaga Nusantara dengan kekuatan batin,” jelas beliau.

Jamaah yang hadir tampak larut dalam penjelasan sejarah yang dipadukan dengan nilai-nilai tauhid serta kecintaan kepada Rasulullah SAW. Sesekali lantunan sholawat menggema memenuhi pendopo, menghadirkan suasana haru yang menenangkan hati.

Seruan Persatuan Bangsa dan Umat

Abuya Ahmad Yani Iliyin juga mengingatkan pentingnya menjaga persatuan bangsa di tengah derasnya arus fitnah, adu domba, dan kepentingan politik global yang berpotensi memecah belah masyarakat.

Beliau menegaskan bahwa perpecahan antara ulama, habaib, pemerintah, dan rakyat merupakan ancaman besar bagi bangsa Indonesia. Karena itu, majelis dzikir dan sholawat harus menjadi ruang pemersatu hati serta penguat ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah wathaniyah.

“Jangan mudah diadu domba. Kalau ulama, habaib, masyarakat, dan pemerintah pecah, negara ini mudah dihancurkan. Yang rugi rakyat Indonesia sendiri,” tegas beliau di hadapan ribuan jamaah.

Seruan tersebut disambut takbir dan lantunan “Shollu ‘alan Nabi Muhammad” yang menggema memenuhi kawasan Pendopo Agung Trowulan.

Sholawat Sebagai Cahaya Kehidupan

Puncak acara berlangsung penuh haru ketika seluruh jamaah bersama-sama melantunkan dzikir Laa Ilaaha Illallah dan sholawat Nabi Muhammad SAW. Banyak jamaah tampak meneteskan air mata, larut dalam kekhusyukan malam spiritual tersebut.

Abuya menjelaskan bahwa dzikir dan sholawat merupakan jalan membersihkan hati dari aura negatif serta membuka pintu ampunan Allah SWT.

“Ketika hati dipenuhi dzikir dan sholawat, maka energi positif akan masuk dalam diri kita. Allah akan membersihkan dosa-dosa hamba-Nya yang bersungguh-sungguh mengingat-Nya,” tutur beliau.

Beliau juga mengajak seluruh jamaah untuk terus menjaga tradisi sholawat, dzikir, dan majelis ilmu sebagai benteng moral di tengah zaman yang penuh fitnah dan kegelisahan spiritual.

Malam itu, Pendopo Agung Trowulan tidak hanya menjadi tempat berkumpulnya manusia, tetapi juga menjadi saksi bersatunya doa, sejarah, cinta tanah air, serta kerinduan umat kepada Rasulullah SAW.

Di bawah langit malam Trowulan, cahaya dzikir dan sholawat seakan menghidupkan kembali ruh perjuangan para leluhur Nusantara, menghadirkan harapan agar Indonesia tetap kokoh dalam iman, persatuan, dan keberkahan. {Cak Loem}

Baca Juga

dibaca

Post a Comment

Hi Please, Do not Spam in Comments

Lebih baru Lebih lama