Di Hadapan 400 Ribu Buruh, Presiden Prabowo Dorong Skema Alih Kontrak ke Kepemilikan Rumah

Di Hadapan 400 Ribu Buruh, Presiden Prabowo Dorong Skema Alih Kontrak ke Kepemilikan Rumah
Dok, foto: Di Hadapan 400 Ribu Buruh, Presiden Prabowo Dorong Skema Alih Kontrak ke Kepemilikan Rumah. Jumat (1/5/2026).

MSRI, JAKARTA – Gelombang besar massa buruh dari berbagai daerah memadati kawasan Monumen Nasional (Monas) dalam peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) 2026, Jumat (1/5/2026). Berdasarkan pantauan langsung dan informasi yang dihimpun wartawan Media Suara Rakyat Indonesia (MSRI) di lokasi, sejak pagi hari lautan manusia dengan atribut dan bendera serikat pekerja telah memenuhi kawasan pusat ibu kota tersebut.

Sekitar pukul 08.38 WIB, Presiden Prabowo Subianto hadir langsung di tengah massa. Mengenakan baju safari cokelat dan topi, Presiden menyapa serta menyalami buruh yang menyambut dengan antusias, menciptakan suasana hangat di tengah peringatan May Day yang sarat aspirasi.

Dalam pidatonya, Presiden Prabowo menyoroti tingginya beban biaya tempat tinggal yang ditanggung para pekerja. Ia mengungkapkan, rata-rata sekitar 30 persen pendapatan buruh terserap untuk biaya kontrakan. Menurutnya, kondisi tersebut perlu segera dicarikan solusi konkret agar buruh memiliki peluang lebih besar untuk memiliki hunian sendiri.

Pemerintah, lanjutnya, tengah menyiapkan skema strategis yang memungkinkan pengeluaran untuk sewa dialihkan menjadi cicilan rumah. 

“Ke depan kita upayakan agar pengeluaran untuk kontrak dapat dialihkan menjadi cicilan rumah sendiri,” tegasnya di hadapan ratusan ribu buruh.

Ia menambahkan, skema pembiayaan tersebut akan dirancang fleksibel dengan tenor panjang, berkisar antara 20 hingga 40 tahun, guna memastikan keterjangkauan bagi kalangan pekerja.

Selain isu perumahan, Presiden juga menegaskan komitmen percepatan pembahasan Rancangan Undang-Undang Ketenagakerjaan. Ia mengaku telah menginstruksikan jajaran menteri terkait untuk segera merampungkan pembahasan bersama DPR RI dengan prinsip keberpihakan kepada buruh.

Sementara itu, Presiden KSPSI, Andi Gani Nena Wea, menyebut jumlah peserta aksi mencapai sekitar 400 ribu orang, terdiri dari buruh lintas sektor hingga pengemudi ojek online. Massa berasal dari berbagai konfederasi dan federasi serikat pekerja, di antaranya KSPSI, SPMI, KSPN, FSPMI, dan SPSI.

Rangkaian kegiatan diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, dilanjutkan orasi pimpinan serikat, serta sambutan Presiden. Berdasarkan pantauan MSRI, panitia juga menyediakan fasilitas salat Jumat bagi peserta aksi, sebagai bentuk penghormatan terhadap kebutuhan ibadah di tengah kegiatan.

Dalam momentum tersebut, buruh menyuarakan sedikitnya 11 tuntutan utama, mencakup isu upah layak, perlindungan tenaga kerja, hingga penguatan sistem jaminan sosial. 

Aspirasi lain yang mengemuka antara lain penghapusan sistem outsourcing, penolakan upah murah, serta kekhawatiran terhadap meningkatnya ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK).

Presiden KSPI sekaligus Presiden Partai Buruh, Said Iqbal, menegaskan bahwa May Day bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum strategis untuk menyampaikan aspirasi dan memperjuangkan hak-hak buruh secara kolektif.

Lebih lanjut, massa buruh juga mendorong reformasi kebijakan fiskal, termasuk kenaikan Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) serta penghapusan pajak atas tunjangan hari raya (THR), jaminan hari tua (JHT), dan pensiun. Mereka turut menyoroti isu strategis sektor industri, seperti penyelamatan industri tekstil dan nikel, hingga usulan moratorium industri semen.

Aksi May Day 2026 di kawasan Monas berlangsung tertib dengan pengawalan aparat keamanan. Orasi disampaikan secara bergantian, mencerminkan kuatnya konsolidasi gerakan buruh dalam memperjuangkan kesejahteraan dan keadilan sosial di Indonesia.

Reporter : Aditya

Editor : Redaksi MSRI

Baca Juga

dibaca

Post a Comment

Hi Please, Do not Spam in Comments

Lebih baru Lebih lama